Sabtu, 19 Desember 2020

Dampak Dari Ibadah Online Bagi Pertumbuhan Gereja.

 


DAMPAK DARI IBADAH ONLINE BAGI PERTUMBUHAN GEREJA

 

PENDAHULUAN:

   Internet pada faktanya telah menyatu dengan kehidupan masa kini. Kehadirannya tidak saja telah mengubah banyak hal dalam tatanan kehidupan sosial, tetapi juga telah mengubah perilaku keagamaan dan pertumbuhan gereja. Perilaku ibadah yang selama ini terbatasi oleh ruang dan waktu, dan itu telah dijadikan standar baku keimanan seseorang, sekarang tidak lagi demikian. Bukan saja terkait dengan ruang serta waktu peribadatan, bahkan lebih dari itu liturgi gereja yang selama ini disakralkan pun juga ikut berubah.

 

  Prinsip yang fundamental bagi semua kehidupan adalah bahwa organisme hidup itu tumbuh. Pertumbuhan itu alamiah, sebagai pernyataan kehidupan yang spontan. Satu-satunya cara yang menghentikan pertumbuhan adalah penyakit atau kematian.   

   Gereja Yesus Kristus terutama merupakan sebuah organisme hidup dan kedua sebagai organisasi.

   Segala sesuatu tentang gereja melibatkan kehidupan. Yesus kristus, kepala gereja adalah Juruselamat yang hidup.

   Gereja termasuk individu dan dihidupkan secara rohani sebagai akibat dari kelahiran baru (Yoh. 3:3; Ef.2:1-3).

   Baik secara individu atau secara lembaga gereja didiami oleh Roh yang hidup (Yoh. 14; 1 Kor.3:16-17), dan pekerjaannya dipimpinan oleh sebuah buku kehidupan (Ibrani 4:12). Karena gereja berdenyut seiring kehidupan Kristus, kita berharap gereja bertumbuh, kecuali pertumbuhannya dihambat oleh penyakit.   

   Untuk memutuskan bahwa Allah tidak menghendaki kita, sebagai gereja-gereja, untuk bertumbuh berarti kita telah memutuskan untuk mati.

   Tidak ada pilihan lain, karena makhluk hidup seharusnya bertumbuh. Gereja harus bertumbuh karena gereja itu hidup.

 

   Para pendeta rindu akan pengetahuan tentang bagaimana mendapat atau mempertahankan kesehatan gereja-gereja mereka dalam keadaan atau situasi sekarang pandemic covid-19 ini, gereja ingin kesehatan dalam gereja yang merupakan masalah yang fundamental, gerakan pertumbuhan gereja dipusatkan pada aspek diagnostik dan memberikan sarana untuk membantu gereja-gereja menentukan keadaan kesehatan gereja.     

   Pertumbuhan gereja adalah kenaikan yang seimbang dan kuantitas, kualitas dan kompleksitas organisasi sebuah gereja lokal. Secara global dunia sekarang menghadapi persoalan besar terkait dengan wabah corona-covid 19.

   Virus ini telah menghancurkan sendi-sendi vital kehidupan manusia. Salah satu dampaknya adalah, aktivitas pembelajaran diselengarakan secara jarak jauh menggunakan aplikasi pada internet. Demikian juga berbagai kegiatan yang bersifat pengerahan masa juga dilarang untuk dilaksanakan, termasuk pelaksanaan peribadatan untuk semua agama yang ada di Indonesia.

   Pada awalnya pelarangan untuk melaksanakan peribadatan ini menimbulkan pro dan kontra, tetapi pada pelaksanaannya, seluruh komponen keagamaan dengan kesadaran akan bahaya penularan covid-19, dengan rela tidak melaksanakan peribadatan di tempat-tempat ibadah yang lazim digunakan, tidak ada lagi ibadah di gedung gereja. Ibadah gereja mulai dialihkan secara Online, melalui teknologi live streaming.

   Semua itu bertujuan untuk berpartisipasi dalam menghambat laju penularan covid-19 yang bisa terjadi melalui kontak fisik.

 

   Dalam kondisi seperti gereja mengalami pergumulan, berkenaan telah terjadinya perubahan sosial. Perubahan sosial ini telah menuntut perubahan pola peribadatan bagi aktivitas kegerejaan.  

   Perubahan ini adalah keniscayaan, dan apabila gereja tidak mengantisipasinya, pastilah akan ditinggalkan umat.

   Dengan ini disarankan agar gereja bersikap terbuka terhadap fenomena ini, berupaya serius untuk menjangkau, melayani umat sesuai konteks terhadap zaman yang sedang terjadi. Gereja tidak perlu apriori atau bahkan apatis.

   Sikap seperti ini justru akan merugikan gereja sendiri. Salah satu kondisi yang berbahaya bagi gereja adalah ketika gereja sudah tidak lagi relevan pada suatu perubahan sosial.

   Kita mengidentifikasi bahwa saat ini merupakan lahir dan berkembangnya “Gereja-gereja Cyber-Cyber churhes” dari gaya broadcast ke pola peribadatan Virtual. Pada awalnya gereja ini menggunakan website dengan kelompok-kelompok melaksanakn ibadah secara online.

 

   Perubahan Cara Beribadah Melihat situasi keadaan dunia secara umum dan Indonesia secara khusus, dengan keadaan semua dilarang berkumpul dalam jumlah besar dan harus kembali di rumah untuk mengurangi atau memberhentikan penyebaran Covid-19, hampir semua sektor kehidupan merasakan dampaknya. Salah satunya adalah dibatasinya ibadah di gereja. Sebagian besar gereja, baik di Indonesia maupun luar negeri sudah tidak lagi mengadakan pertemuan bersama di gedung gereja, mereka melakukan ibadah di rumah secara online.   

 

   Awalnya, ada banyak sikap pendeta yang tidak sejalan dengan anjuran pemerintah tersebut, namun seiring berjalannya waktu hampir setiap minggunya ibadah dilakukan secara live streaming.   

   Fenomena sampar modern ini telah menstimulasi gereja untuk melakukan strategi dalam beribadah, tidak terbatas pada pola konvensional, yakni bertemu di rumah ibadah.

   Ketika bait Allah yang didirikan Salomo dihancurkan oleh tentara Babel, hal tersebut mengubah cara pandang selama berabad-abad Kerajaan Yehuda, yang menjadikan bait Allah di Yerusalem sebagai kebanggaan dan pusat ibadah.

   Hancurnya bait Allah, bangsa Yehuda dipaksa untuk memikirkan ulang esensi ibadah mereka.

   Suku Yehuda menyimpulkan dalam ibadah bukanlah persembahan, tetapi ketaatan (1Sam. 15:22).

 

   Pembuangan ke Babel membuat paradigma yang berbeda dalam ibadah umat Tuhan: fokus pada ritual (persembahan kurban) bergeser pada ketaatan (pengajaran firman).

   Ibadah bersama dalam skala besar sekarang menjadi ibadah dalam skala yang lebih kecil. Gereja modern, khususnya gereja-gereja yang telah menerapkan Small Group (Kelompok Kecil) secara baik tidak terlalu kesulitan menerapkan sistem ini, yakni ibadah di rumah-rumah.

   Peristiwa Covid-19 ini harus dilihat secara berimbang, dalam artian tidak sekadar pada wabah penyakit menular dan mematikan, yang harus memaksakan pembatasan sosial dan berdampak pada gereja. Karena sejatinya, Covid-19 ini hanya sebuah bentuk lain dari wabah yang lain yang pernah ada dan akan ada lagi, seperti halnya sampar.

 

   Wabah seperti ini pernah ada sebelumnya, dan umat Tuhan diajarkan untuk menyatakan sikap terkait pola ibadahnya. Dan ketika wabah yang hampir serupa ini muncul lagi dan mungkin dengan intensitas yang lebih besar, maka lagi-lagi gereja saat ini harus menyatakan sikap, juga terkait pola ibadahnya.

   Artinya, yang perlu ditandaskan dalam kasus ini adalah sebuah sikap untuk tetap menyatakan ibadah kepada Allah dalam beragam bentuk yang disesuaikan dengan zamannya.

   Esensi gereja rumah adalah gereja atau ibadah yang fokus pada persekutuan keluarga sebagai pilar gereja.

   Ketika dunia yang dilayani berubah, gereja harus dapat menyesuaikan pelayanannya dengan perubahan itu, tetapi tidak mengubah tujuan pokoknya, melaksanakan tugas tersebut sedemikian rupa sehingga menjangkau setiap orang di mana dan kapan pun mereka berada.

 

          Kekurangan dan Kelebihan Ibadah Online

    Namun harus di akui bahwa pelaksanaan Ibadah secara Online itu bukan suatu yang mudah. Ini memerlukan persiapan yang matang, sebab tidak semua gereja siap dengan cara seperti ini, baik pendeta maupun jemaat masih belum terbiasa dengan pola ibadah online, khususnya yang ada di perdesaan yang kurang sinyal atau jaringan untuk melakukan Ibadah online. Kekurangan pola ini adalah tidak terjadinya kontak personal antar jemaat.     

   Kebaktian mingguan yang biasanya diwarnai dengan berbagai symbol keakraban atau kebersamaan yang memberi daya pikat sendiri bagi jemaat, seringkali mereka merasa bahwa kebaktian seperti ini hanya seperti main-main saja, dan belum masuk ke hadirat Allah secara sungguh-sungguh. Di sisi lain terkait dengan kondisi jemaat.

   Jemaat belum siap baik secara mental, spiritual dan fisik untuk mengikuti ibadah dengan Online. Kendala berikutnya terkait dengan persembahan. Memang jemaat dihimbau untuk memberi persembahan melalui transfer ke nomor rekening gereja, tetapi masalahnya tidak semua jemaat memiliki mengerti dengan cara seperti ini, apa lagi gereja yang ada di pedesaan yang jauh dari perkotaan untuk mentransfer uang, ini sangatlah menyulitkan bagi jemaat ataupun pendeta yang ada di pedesaan.

   Kebaktian dengan cara seperti ini memiliki banyak keuntungan ibadah online, di antaranya semua jemaat dapat terlibat, khususnya gereja-gereja yang ada di perkotaan dan tidak dibatasi territorial negara. Pada kenyataannya kebaktian dengan cara ibadah online ini dapat melibatkan seluruh jemaat bahkan yang ada di luar negeri untuk menyampaikan kabar baik (Injil) melalui online yaitu Youtube, Facebook, life streaming, Instagram, Google meet, zoom, dan aplikasi lainnya. Dengan ibadah online juga membuat jemaat tidak harus keluar rumah untuk ibadah, cukup hanya membuka Youtube, zoom, ataupun Google Meet di rumah.

   Untuk melihat pendeta tau Gembala berkotbah, tidak perlu lagi untuk tatap muka. Ibadah Online juga menguntungkan jemaat untuk tidak macet di jalan untuk pergi ibadah, khususnya gereja-gereja yang ada dikota-kota besar. Persembahan dilakukan dengan menstranfer uang ke rekening gereja. Jemaat sangat terlihat antusias mengikuti kebaktian dengan Ibadah online dan sangat membantu jemaat yang ada dikota untuk tidak harus mengikuti ibadah digereja melainkan hanya di rumah melalui media.

Tujuan Ibadah Online

   Pelaksanaan ibadah secara online ini memiliki beberapa model.        Semua ini sangat tergantung pada aplikasi yang di gunakan.  Aplikasi-aplikasi computer berkenaan dengan pelaksanaan ibadah secara online ini sangat banyak ragamnya.

   Hal ini dapat menjadi alternatif pilihan: Facebook, Istragram, Google meet, Zoom, dan aplikasi lainnya.

   Secara liturgis, gereja-gereja yang melaksanakan ibadah secara online ini tidak melakukan liturgis yang jauh dari kebiasaannya, hanya waktu lebih dipersingkat. Dalam prosesnya, jemaat dimasukkan ke dalam grup yang telah dibuat, semuanya nanti akan dinotivikasi untuk waktu pelaksanaan ibadah. Ibadah diselenggarakan sesuai waktu ibadah mingguan gereja. Pendeta-pengkotbah, pemimpin acara, pemusik dan singer melaksanakan ibadah di gereja, sementara jemaat tinggal di rumah masing-masing dan membuka gadget untuk mengikuti kebaktian secara streaming.

   Kebaktian diselenggarakan selama 1 jam, dengan urutan acara yang lebih disederhanakan dibanding dengan kebaktian biasa. Namun semua elemen dalam peribadatan ada di dalamnya: penyembahan atau pujian, penyampaian Firman, persembahan, doa syafaat, dan diakhiri dengan doa penutup dan berkat. Tetapi ada juga yang menyelengarakan kebaktian di studio. Pendeta, pemimpin acara dan singer pergi ke studio untuk melaksanakan proses ibadah, dan semua jemaat mengikuti dari rumah dengan melihat di monitor atau handphone masing-masing.

   Sebelum dilaksanakan kebaktian dengan cara ini, diumumkan terlebih dahulu agar jemaat berpakain rapi sebagaimana ketika di gereja, sebab semua jemaat yang terlibat di dalam kebaktian dapat dilihat di dalam monitor secara online. Tujuan ibadah online memperluas penginjilan diseluruh dunia, melalui facebook, istragram, Google meet, Zoom, dan aplikasi lain untuk mempermudah pengabaran injil melalui ibadah online, melalui ibadah online injil kepada setiap manusia yang percaya dapat diselamatkan dari penghukuman Allah.

   Kabar baik atau injil ini penting untuk didengar oleh semua orang, karena pada dasarnya Injil itu untuk semua orang. Hal ini tampak dari perkataan Tuhan Yesus berikut: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya dihukum(Mark. 16:15-16).

   Jadi, salah satu tujuan dari ibadah online untuk memberitakan Injil untuk semua manusia di seluruh dunia merupakan bukti dan fakta keuniversalan dari Injil tersebut. Tujuan dari ibadah online ini yang pertama adalah memuliakan Allah. Ibadah yang berpusat pada Allah seharusnya adalah ibadah dimana Allah dimuliakan, tanpa mengabaikan faktor manusianya.

   Tujuan ibadah bukan sekedar menerima berkat dari Allah, tetapi juga memberikan persembahan kepada Allah. Tujuan ibadah yang kedua adalah memberikan persembahan kepada Allah. Hal penting dalam ibadah bangsa Israel adalah pemberian.  

   Tiga kali Allah berbicara tentang hari raya wajib yang harus diadakan oleh umat perjanjianNya, dan dalam ketiganya Allah memerintahkan supaya “jangan orang menghadap hadirat Tuhan dengan tangan hampa” (Kel.23:15, 34:20, dan Ul.16:16). Tidak ada penyembah yang boleh menghampiri Allah dengan tangan kosong karena penyembahan dalam Perjanjian Lama melibatkan pengorbanan, persembahan, dan sajian, serta semuanya harus dibawa sendiri oleh mereka. Pemazmur menyerukan: “Berilah kepada Tuhan kemuliaan namaNya, bawalah persembahan dan masuklah ke pelataranNya.” (Mazmur 96:8). Perjanjian Baru juga menekankan pentingnya memberi dalam ibadah, manusia harus memberikan persembahannya dalam iman yang benar dan ketaatan total, sebagaimana dalam zaman Kain dan Habil (Ibrani 11:4). Paulus juga mengatakan bahwa kita tidak boleh datang dengan tangan kosong (I Korintus 16:1-2).

   Pada intinya, ibadah adalah mempersembahkan seluruh diri kita kepada Allah (Roma 12:1), seluruh pikiran, perasaan, sikap, dan harta kita. Pemberian luar kita adalah gambaran dari dedikasi di dalam diri kita.

   Tujuan ibadah online juga untuk merasakan kekudusan Allah. Saat manusia merasakan kekudusan Allah, maka hati nuraninya akan tersentuh, digerakkan oleh kekudusan Allah untuk kembali hidup sesuai dengan kekudusan Allah. Tujuan ibadah adalah untuk memandang, merasakan, memahami kekudusan-Nya. Agar hati nurani diperbaharui, bertobat, digerakkan untuk hidup kudus, memuliakan Allah yang adalah kudus. Ibadah yang berkenan kepada Allah lebih dari sekedar melakukan hal-hal yang benar, tetapi mempersembahkannya “dalam iman” (Ibrani 11:4), “dalam roh” (Yohanes 4:24), dan dalam “hormat dan gentar” (Ibrani 12:28). Hasil ibadah yang terpenting adalah mengalami kehadiran Allah dan kehidupan yang diubahkan melalui kebenaran Firman Allah yang disampaikan.

   Yang menentukan suatu perubahan baik atau buruk adalah hasilnya, apakah membantu jemaat untuk dapat mengalami kehadiran Allah dan diubahkan kehidupannya oleh penyampaian kebenaran Firman Allah. Bentuk dan Model Ibadah memaparkan bahwa Alkitab sendiri tidak mengajarkan adanya satu bentuk seragam dalam ibadah yang harus dipraktekkan oleh orang-orang Kristen pada masa kini. Permulaan ibadah dalam Alkitab dilakukan dengan membangun altar dan mempersembahkan korban binatang, pada masa Musa ditambahkan unsur nyanyian, hari-hari raya, membacakan perjanjian dengan Allah, pemercikan darah perjanjian kepada umat, persembahan, dan pembangunan kemah suci.

   Daud membuat organisasi ibadah bangsa Israel dengan menunjuk imam-imam dan orang-orang Lewi untuk melayani dalam ibadah di kemah suci, menunjuk mereka menjadi penjaga pintu gerbang, pemain-pemain musik, dan bendahara-bendahara.  

   Pada saat bangsa Israel kemudian melakukan penyimpangan ibadah, maka Allah mengutus nabi-nabi-Nya untuk menegur mereka dan mengembalikan ibadah yang tulus dari hati dan kehidupan yang benar.  Solusi Ibadah online dalam gereja digital atau online dapat saja menciptakan dan memungkinkan komunikasi, komunitas, aplikasi khususnya dimana jemaat dapat mengakses secara bebas seperti: baik outline khotbah, materi pelajaran alkitab berseri, diskusi isu-isu terkini hingga menjadi media penggumuman mingguan gerejawi, melalui gawai pintar mereka masing-masing. Ibadah online memungkinkan jemaat untuk meningkatkan kualitas pengalaman pemuridan mereka di gereja. Dan tentu, semua ini hanyalah sarana untuk meningkatkan kualitas dan aksesibilitas pemuridan masa kini.

   Perhatian utama yang senantiasa menjadi awasan adalah, bahwa seluk-beluk teknologi-komunikasi ibadah online ini, bukanlah tujuan utama, melainkan sekedar untuk memungkinkan panggilan gereja dan konteks berteologi di era teknologi digital ini. Di tengah situasi sekarang ini, gereja-gereja seharusnya terpanggil untuk memberikan kontribusi nyata.  Bukan hanya slogan-slogan rohani yang menguatkan hati, tetapi sebuah langkah konkrit. Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh gereja. Salah satunya adalah mengkaji ulang pengadaan ibadah konvensional.

   Upaya ini tidak melanggar Firman Tuhan. Pertama, pemisahan sosial merupakan himbauan pemerintah yang baik. Sebagai warga negara yang baik, gereja tidak memiliki alasan untuk tidak menaati himbauan yang baik seperti ini (Rm. 13:1-7). selain itu, Tuhan juga memerintahkan umat Allah untuk mengusahakan kesejahteraan kota di mana Tuhan membuang mereka (Yer. 29:7). mengurangi jumlah pertemuan dan jemaat yang hadir dalam ibadah-ibadah konvensional merupakan tanggung-jawab sosial bagi semua masyarakat, termasuk orang-orang Kristen.

   Tidak menghiraukan himbauan ini akan memberikan pesan negatif kepada dunia bahwa orang-orang Kristen tidak memiliki kepekaan sosial. Sekali lagi, ini bukan tentang ketakutan atau kelemahan iman. Sama sekali tidak. Ini tentang kepedulian dan kontribusi bagi masyarakat. Kedua, persekutuan orang Kristen tidak dibatasi oleh lokasi. Yang disebut gereja adalah semua orang di segala tempat yang memanggil nama Yesus sebagai Tuhan (1 Kor. 1:2). ini disebut gereja universal. Kristus sebagai Gembala Agung. Yang dipentingkan dalam persekutuan ini adalah kesehatan.

   Lokasi bukanlah halangan. Sebagai contoh, Paulus mengajak jemaat di Korintus untuk bersatu dengan dia dalam roh dan mengambil keputusan bersama tentang suatu kasus di jemaat (1 Kor. 5:3-5). Dengan cara yang sama, ibadah online, terutama dalam kondisi saat ini yaitu covid-19. yang pertama tentu saja adalah menyediakan ibadah online. Jika peralatan memadai dan kecepatan internet kencang serta sudah terbiasa, gereja bisa mengadakan Ibadah Live streaming. Pastikan saja bahwa proses mengunggah berkas dan mengunduhnya berjalan dengan cepat dan mulus, khususnya di perkotaan yang biasanya sangat mudah untuk mencari jaringan internet. Sehingga mempermudah jemaat yang ada dikota dapat melakukan ibadah secara online dengan rekaman maupun live Streaming. Pastikan jaringan internet kuat jangan sampai terjadi masalah teknis ( jaringan lambat). Hal ini akan mempersulit jemaat atau gereja untuk live streaming, oleh sebab itu seharusnya jemaat ataupun gereja menyediakan jaringan di rumah maupun di gereja seperti: wifi atau sesuatu yang membuat jaringan internet kuat dan tidak bermasalah.    

   Bagaimana dengan jemaat atau gereja yang ada diperdesaan yang sulit untuk mendapatkan jaringan? Dalam setuasi sekarang ini yaitu covid-19, sesuai dengan himbauan pemerintah untuk tidak melakukan perkumpulan atau pertemuan secara sosial, maka kita memberikan solusi dalam ibadah khususnya jemaat atau gereja yang ada di pedesaan yang jaringan internet yang tidak memadai untuk melakukan Ibadah online, dalam hal ini gereja atau gembala harus memiliki ide atau kreatif dalam melaksanakan ibadah seperti: gembala melakukan ibadah dengan cara menggunakan Toa untuk menyampaikan Firman Tuhan, sehingga jemaat dapat mendengar apa yang di sampaikan gembala atau pendeta, di rumah mereka masingmasing. Cara seperti ini tidak harus berkumpul di gereja cukup berdiam dirumah saja. Dan gembala juga dapat melakukan ibadah dengan cara menggunakan Speaker dan Mikrofon, dengan hal ini dapat melakukan ibadah, meskipun tidak bertemu secara lansung antara gembala dengan jemaat dalam sebuah gereja, tetapi dapat membantu gereja atau jemaat untuk melakukan ibadah. Dengan cara seperti ini adalah solusi untuk ibadah online, khususnya jemaat dan gereja di pedesaan yang tidak adanya jaringan internet.

Kesimpulan

   Kebaktian dengan pola Ibadah online tidaklah bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan. Di satu sisi, gereja adalah anggota tubuh Kristus yang keberadaannya tidak terbatasi oleh ruang dan waktu. Dengan demikian, gereja harus bisa berkontekstual terhadap suatu perubahan tanpa kehilangan esensinya sebagai tubuh Kristus.

   Secara biblikal menyembah Allah dengan roh dan kebenaran itu adalah penyembah yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Berdasarkan hal ini, sebagai rekomendasi, gereja perlu memikirkan secara serius pelaksaan “Ibadah online” sebagai upaya memaksimalkan pelayanan gereja dan pertumbuhan gereja dan nama Tuhan dipermuliakan.

DAFTAR PUSTAKA

*Jim stevens dan Ron Jenson, Dinamika Pertumbuhan Gereja ( Malang: Gandum Mas) 1981.

*Siahan, Harls Evan R. “Aktualisasi Pelayanan Karunia Di Era Digital”, EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani 1, no. 1 (2017), www.stttorsina.ac.id/jurnal/index .php/epigraphe.

*Howard Clinebell, Tipe-tipe dasar Pendampingan dan Konseling Pastoral. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002).

*Campbell, Heidi A. Digital Religion Understanding Religious Practice In New Media Worlds, (London and New York:Routledge, 2013).

*Dick Houtman and Step Aupers , Religions of Modernity Relocating the Sacred to the Self and the Digital (Boston: Brill. 2010). 1 6

*F. Lumingkewas, M.S. Panjaitan. “Ibadah Jemaat Kristen Kontemporer Abad 21 Dan Tinjauan Kritis Liturgis,” FIDEI: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika 2, no. 1 (2019).

*Wayne Grudem, Systematic Theology (Michigan: Inter-Varsity Press, 1994).

*Harun Hadiwiyono, Iman Kristen ( Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007).

*Pen, Nugroho, Erickson, Milard J. Teologi Kristen. V.3. (Malang: Gandum Mas; 2004).

*Henry Thiesen, Teologi Sistematika (Malang: Gandum Mas, 2008).

*Paul Enns, The Moody Handbook of Theology (Malang: Literatur SAAT, 2008).

*Jim Rice, dalam http://www.cpx.cts.edu/newmedia/findings/models-of-the-church-andsocial-media#ednref25(Di akses 5 oktober 2020).

*H. Richard Niebuhr. The King of god in America. (Middletown, Connecticut: Wesleyan University Press) 1988

*Kalis Stevanus, Benarkah Injil untuk semua orang?, (Yogyakarta: Diandra Kreatif, 2017), “ BIA: Jurnal Dampak Injil bagi Transformasi Spiritual dan Sosial Vol 2, no 1 (2019) aul A. *Basden.The Worship Maze:Finding a Style to Fit Your Church.Downers Grove, IL: Inter Varsity Press, 2004.