Jumat, 28 Agustus 2020

MENGEMBANGKAN SIKAP YANG MEMENANGKAN.

 Pesan Injil: Perempuan Samaria di sumur Yakub

Pel.SS 9 Trw.III,2020.

             (Developing  Winning Attitude)

Ayat hafalan:

   “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!  Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.” (1 Petrus 3:15).

1.  Pernahkah Anda memikirkan kehidupan Yesus dan memperhatikan siapa orang yang Dia beri semangat versus orang yang Dia kutuk? Menurut Anda mengapa semua orang yang mengira mereka benar akhirnya mendapatkan penghukuman-Nya sementara banyak yang lain, dalam hal ini “Jelas orang berdosa” menerima berkat-Nya?     

   Apa yang dikatakannya kepada Anda ialah, bahwa Hakim seluruh alam semesta itu Maha pengampun? Dia adalah Hakim yang sama yang suatu hari, akan berdiri, berbicara atas nama kita dan menjawab tuduhan Setan terhadap kita. (Lihat Zakharia 3:1-5).

2.  Apakah ada di antara kita yang memiliki sikap orang-orang Farisi? Mengapa kita berpikir seperti itu? Apakah terkadang kita memberi kesan bahwa kita “memiliki kebenaran”? Apakah itu membuat kita lebih baik?.

3.  Dapatkah Anda memikirkan tempat mana dalam Alkitab dimana Yesus memperlihatkan kesombongan? Atau, superioritas? Apakah Dia sedang membesarkan diri dalam Yohanes 8 ketika Dia  berkata kepada para anggota Majelis Sanhedrin – tiga kali– “Aku adalah Tuhan”? (Yohanes 8: 24, 28, 58).  Mari kita coba pikirkan tentang tanggapan orang-orang yang menerima pengampunan-Nya. *Mantan pelacur yang dirasuki setan, yaitu Maria Magdalena, yang akhirnya menjadi salah satu pengikut-Nya yang paling setia. Seorang pembunuh, bernama Saul, yang akhirnya namanya menjadi Paulus, yaitu penginjil Kristus yang paling ambisius dan sukses. Dua mantan orang yang kerasukan roh jahat dari Gadara, misionaris non-Yahudi pertama, yang pada akhirnya telah membawa orang di seluruh wilayah itu untuk mendengar Yesus, dan orang banyak itu  diberi makan oleh-Nya.

4. Jika Allah Sendiri dalam wujud manusia tidak menunjukkan kesombongan atau keunggulan(superiority), bagaimana kita berani melakukannya? Menurut Anda mengapa Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh jauh lebih berhasil dalam menjangkau orang miskin dan kurang beruntung di dunia ini,  daripada  dalam menjangkau orang kaya dan berkuasa? Haruskah kita mencari cara untuk menjangkau anggota masyarakat yang lebih sejahtera? Atau, haruskah kita terus fokus pada orang miskin? Mengapa orang miskin lebih bersedia mendengarkan pekabaran Injil? Mengapa gereja kita bertumbuh begitu

jauh lebih cepat di Afrika dan beberapa bagian di Asia dan Amerika Selatan daripada di Amerika Utara atau Eropa tempat Protestantisme dimulai berkembang?.

 

Minggu : I. PENERIMAAN TERHADAP INJIL.

 

5. Jadi, bagaimana kita dapat mengembangkan sikap seperti Yesus?

6. Bacalah Yohanes 4: 27-42. Dengan wawasan ilahi-Nya yang dibimbing oleh Bapa-Nya, Yesus tahu betul sejarah lengkap dari wanita yang Dia temui di sumur Sychar. Namun, lihatlah perbincangan dengannya. Yesus telah mengungkapkan sesuatu padanya yang mungkin bahkan belum Dia

ungkapkan kepada murid-murid-Nya! Dan apakah hasilnya? Yesus menghabiskan dua hari di desanya, mengajar dan berkhotbah dan menyembuhkan orang-orang Samaria. Menurut Anda bagaimana perasaan para murid tentang melayani orang2 Samaria? Permusuhan antara orang Yahudi dan orang Samaria sudah terkenal; itu telah terjadi sebelumnya dari sejak tahun 700 SM.  Tetapi, Yesus tidak menaruh perhatian akan permusuhan tradisional itu.

6. Jelas diketahui bahwa ketika melakukan perjalanan dari Yerusalem ke Galilea, orang Yahudi biasanya turun ke Lembah Yordan, menyeberangi sungai dekat Yerikho, melakukan perjalanan di sisi timur Sungai Yordan melalui wilayah non-Yahudi di Perea, dan kemudian, menyeberangi Sungai Jordan

sekali lagi saat mereka pergi ke Galilea — semua ini dilakukan  hanya untuk menghindari lewat melalui Samaria.

7. Jadi, mengapa Yohanes 4: 4 (NKJV *) mengatakan bahwa "Dia [Yesus] perlu pergi melalui Samaria"?

Apakah Roh Kudus tahu bahwa ada sekelompok orang yang siap mendengarkan ajaran dan khotbah-Nya? Apakah Dia tahu hati mereka akan berpaling kepada Allah? Apakah kita dapat melihat kemungkinan2 (possibilities) pada orang, yang orang lain tidak miliki?. Mungkinkah itu terjadi pada salah seorang dari kita saat ini?

 

Ellen G. White, The Desire of Ages * 194.3 -195.2.

 

“Ketika Yesus duduk untuk beristirahat di sumur Yakub, Dia datang dari Yudea, di mana pelayanan-Nya hanya menghasilkan sedikit buah. Dia telah ditolak oleh para imam dan rabi, dan bahkan orang-orang yang mengaku sebagai murid-Nya telah gagal memahami karakter ilahi-Nya. Dia lemah dan lelah; namun Dia tidak mengabaikan kesempatan untuk berbicara dengan seorang wanita, meskipun dia

seorang asing, orang luar dari Israel, dan hidup dalam dosa yang terbuka (living in open sin).

   Wanita ini menggambarkan bekerjanya iman yang praktis di dalam Kristus. Setiap murid sejati lahir ke dalam kerajaan Allah sebagai misionaris. Dia yang meminum air hidup menjadi sumber kehidupan. Si Penerima menjadi pemberi.

Rahmat Kristus di dalam jiwa bagaikan mata air di padang gurun, membanjiri untuk menyegarkan semua, dan membuat mereka yang siap binasa bersemangat untuk meminum air kehidupan.”-

 

— Ellen G. White, Lift Him Up * 183.3.

 

   “Meskipun Dia adalah seorang Yahudi, Yesus berbaur dengan bebas dengan orang Samaria, tanpa meninggalkan adat istiadat Farisi bangsa-Nya. Di hadapan orang2 yang berprasangka terhadap mereka, Dia menerima keramahan dari orang-orang yang terhina ini. Dia tidur se atap dengan mereka, makan bersama satu meja dengan mereka - mengambil makanan yang disiapkan dan disajikan dengan tangan mereka - mengajar di jalan-jalan mereka, dan memperlakukan mereka dengan sangat baik dan sopan. Dan sementara Dia menarik hati mereka kepada-Nya dengan ikatan simpati manusia, kasih karunia ilahi-Nya membawa kepada mereka keselamatan yang  telah ditolak oleh orang Yahudi”.

 

8. Ketika berbicara dengan wanita Samaria, Yesus bisa dengan mudah jatuh ke dalam perangkap berdebat tentang praktek2 agama Yahudi versus praktek2 agama orang2 Samaria. Tetapi Dia tidak melakukannya. Kita hendaknya tidak membiarkan diri kita sendiri, terutama saat kita pertama kali berbicara tentang hal-hal rohani dengan seseorang, untuk jatuh ke dalam perangkap berdebat dengan orang-orang tentang keyakinan mereka versus keyakinan kita. Tugas kita adalah memperkenalkan Yesus Kristus kepada mereka.

9. Para murid Yesus melihat dalam diri wanita itu hanya sebagai seorang wanita yang dibebani dengan dosa dan seorang Samaria yang darinya mereka perlu menjaga jarak aman. Tetapi, Yesus mengenali - dengan bantuan Roh Kudus – adanya sikap penerimaan di dalam hati wanita samaria itu.

   Yesus “harus” melewati Samaria karena Roh Kudus meyakinkan-Nya bahwa akan ada hati yang menerima di tempat yang tidak biasa ini. Ketika mata kita diurapi oleh Roh Kudus, kita dapat melihat kemungkinan di mana orang lain hanya melihat kesulitan.  Kita melihat tuaian jiwa yang berlimpah untuk kerajaan Allah di mana orang lain hanya melihat ladang yang tandus.

10. Pertimbangkan cerita selanjutnya:

Kisah 8: 4-5,14: 4 “Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil. 5. “Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. 14.”Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar, bahwa tanah Samaria telah menerima firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes kesitu”.

11. Apakah menurut Anda Philipus akan pergi ke Samaria jika Yesus tidak membuka pintu sebelumnya?

12. Ketika kita menjangkau orang-orang, bahkan beberapa yang tampak sangat jauh dari kerajaan surga, haruskah kita mengharapkan tanggapan (respons) yang segera? Seringkali, setelah menabur benih, mungkin butuh waktu lama sebelum panen bisa menuai.

 

II.PENYESUAIAN SIKAP (Senin).

 

13. Apakah orang, secara alami tertarik kepada Anda? Apakah Anda pernah cenderung kasar? Kritis? Atau, tidak ramah? Apakah kita pernah membuat orang menjauh, bahkan secara tidak sengaja, dengan sikap-sikap kita?

   Sikap kita sering menentukan kemampuan kita untuk memengaruhi orang lain. Sikap yang keras, kritis, dan tidak bersahabat akan membuat orang menjauh dari Anda.  Sebaliknya, sikap positif dan kepercayaan pada orang lain menarik mereka kepada kita. Itu menciptakan ikatan persahabatan.

   Yesus menyatakan azas ini dengan indah ketika Dia berkata:

Yohanes 15:15: “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku”.

   Sahabat-sahabat menerima satu sama lain terlepas dari kelemahan dan kesalahan mereka dan dengan leluasa membagikan suka dan duka mereka.

 

14. Apakah Anda mengkritik teman Anda karena kelemahan dan kesalahan mereka? Berapa lama mereka akan tetap menjadi teman Anda jika Anda melakukan itu? Atau, apakah kita cenderung menerima teman kita bahkan ketika mereka melakukan kesalahan?

15. Lihatlah kisah ini dari kehidupan Yesus.

Bukalah Matius 15: 21-28 dan Markus 14:6-9. Saat ini Yesus pergi ke daerah Tirus dan Sidon. Perikop ini menggambarkan dua wanita dengan keadaan yang sangat berbeda. Yesus keras terhadap yang satu dan lembut kepada yang lain.  Tetapi Yesus menjangkau mereka dengan rahmat penyelamatan-Nya kepada setiap pribadi dan membangun kepercayaan.

   Wanita dalam Matius 15 adalah seorang Kanaan.  Permintaannya agar putrinya disembuhkan dari kerasukan setan. Pada awalnya Yesus dengan sengaja menolak permintaannya sehingga pada saat ia bertahan, imannya akan tumbuh.

16. Apakah respons/tanggapan Yesus terhadap wanita itu terdengar seperti diskriminasi? Tetapi, Yesus tahu tentang imannya dan hanya menguji dia sehingga Dia bisa menunjukkan betapa indahnya iman itu.

 

   Dan akhirnya Yesus mengabulkan keinginannya dan kemudian membuat pernyataan yang luar biasa kepada wanita Kanaan miskin itu dengan mengatakan: “Hai ibu, besar imanmu”.(Matius 15 ayat 28).Yesus memuji iman wanita itu.  Bisakah Anda bayangkan bagaimana hatinya bersukacita dan hidupnya berubah?.

   Sikapnya berubah setelah pertemuan dengan Yesus.

   Wanita (dalam Markus 14:6-9) yang mengurapi kaki Yesus dengan parfum yang mahal adalah seorang Yahudi—seorang wanita yang memiliki reputasi buruk, yang telah gagal dan sering berbuat dosa, tetapi ia seorang yang diampuni, diubahkan dan dijadikan baru kembali.(Maria dari Betania).

   Ketika orang lain mengkritiknya, Yesus memuji tindakannya. Yesus menyatakan, “Di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia”.(Markus 14:9).

17. Dalam dua cerita ini, kita memiliki sedikit informasi tentang dua wanita yang sangat berbeda. Dalam Matius 15, wanita itu adalah seorang Kanaan. Dia adalah keturunan dari orang-orang Kanaan yang seharusnya diusir atau dihancurkan ketika anak-anak Israel masuk tanah Kanaan pada zaman Yosua sekitar 1400 SM! Apakah Yesus berpaling padanya dan berkata, "Kamu bahkan tidak seharusnya dilahirkan"? Tidak, saudara2ku.

25. Wanita yang mengurapi kaki Yesus pada pesta satu minggu sebelum penyaliban Yesus adalah Maria Magdalena.

   Sikap mereka telah berubah setelah pertemuan dengan Yesus.

 

III.MEMBAGIKAN KEBENARAN DALAM KASIH (Selasa).

   Persahabatan saja tidak dapat memenangkan orang bagi Kristus. Persahabatan saja tidak akan membawa orang kepada Kristus, tetapi sikap tidak ramah dapat membuat orang menjauh dari Kristus.

 

18. Pada masa yang lalu, beberapa orang anggota Masehi Advent Hari Ketujuh yang merasa sangat superior karena "memiliki kebenaran" dan "memelihara hari Sabat" sehingga ketika mereka memiliki kesempatan untuk berbicara kepada orang-orang yang bukan Advent, mereka telah melancarkan kecaman terhadap orang-orang yang tidak sesuai dengan  standar mereka! Betapa menyedihkan!

   Rsl.Paulus mengingatkan kita untuk membicarakan “kebenaran di dalam kasih” (Ef.4:15).   

   Ikatan persahabatan dibangun ketika kita sependapat dengan orang sebanyak mungkin, menunjukkan penerimaan, dan memuji mereka selayaknya. Betapa pentingnya kita membiasakan diri mencari yang baik pada orang, gantinya mencari yang buruk.

19. Perhatikan, gambaran tentang cara Yesus — dan kemudian Paulus, Silas, dan Timotius.

   Rasul Paulus mencari hal-hal yang positif (bukan hal-hal yang salah) di gereja-gereja yang dia layani.  Tentu saja, ia menegur kesalahan dan tidak memaafkan dosa, tetapi fokusnya adalah untuk membangun gereja2 yang dia dirikan.  Dengan menyoroti apa yang mereka lakukan dengan benar.  

    Kita baca Efesus 4:15 “tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala”. Baca juga 2 Tes.1:1-4 Surat dari Paulus, Silas dan Timotius kepada jemaat Tesalonika.

20. Tapi, apakah kita seharusnya mengabaikan dosa orang? Perhatikan kata-kata luar biasa dari Ellen White ini: (Pentingnya hubungan positif):

   “Jika kita mau merendahkan diri di hadapan Allah, dan menjadi baik hati dan sopan serta lembah lembut dan mengasihani (penuh belas kasihan), akan ada seratus pertobatan kepada kebenaran di mana sekarang hanya ada satu”. Testimonies for the Church, jld.9, hlm.189.

(If we would humble ourselves before God, and be kind and courteous and tenderhearted and pitiful [full of pity], there would be one hundred conversions to the truth where now there is only one.”

       —Ellen G. White, Testimonies for the Church, vol. 9, 189.4.

 

IV.DASAR dari semua PENERIMAAN (Rabu).

 

21. Jadi, apa prinsip dasar yang di atasnya kita menerima orang berdosa?

Roma 15: 7: “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga tealh menerima kita, untu kemuliaan Allah”.

Efesus 4:32 “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu”.

   Inilah prinsip2 yang melandasi penerimaan kita satu sama lain.  Kita dapat saling menerima, walaupun ada kekurangan satu sama lain.

   Penerimaan yang tulus berarti bahwa kita menerima orang lain apa adanya, dengan semua kebiasaan berdosa mereka.  Kasih-Nya kepada kita menjadi dasar penerimaan dan pengampunan kita terhadap orang lain (Rm.5:6-10).

 

V. MEMBAGIKAN KEBENARAN DENGAN PENUH KASIH. (Kamis).

 

22. Kelompok orang mana yang menegur dan mengkritik Yesus? Kelompok orang mana yang menerima Dia secara terbuka? Mengapa Yesus dicemooh oleh orang-orang Farisi dan Saduki yang saleh tetapi pada saat yang sama disebut sebagai “sahabat/teman orang-orang berdosa”?

  Kasih karunia-Nya menyelamatkan kita sehingga kita dapat mengetahui kebenaran-Nya dan menjalani kehidupan-Nya.

 

   Kebenaran tanpa kasih mengarah pada legalisme yang melumpuhkan, yang mencekik kehidupan spiritual. Apa yang disebut “kasih” tanpa kebenaran mengarah pada sentimentalisme yang toleran tanpa substansi, meninggalkan seseorang yang terombang-ambing di lautan ketidakpastian. Kebenaran yang disajikan dalam kasih mengarah pada pengalaman Kristen yang autentik yang memberikan arahan, tujuan, dan kepastian yang jelas.

  

 

Ayat hafalan kita menyatakan:

   1 Petrus 3:15-16 “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!. Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, 16. dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu”.

 

23. Apakah kita harus menjadi seperti ensiklopedia yang berisi pengetahuan tentang Alkitab sehingga kita segera tahu bagaimana menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kepada kita? Tentu kalau bisa, hal itu menyenangkan; tapi ini mustahil. Namun, seseorang yang mengajukan sebuah pertanyaan – sebuah pertanyaan serius – perlu diberikan jawaban yang serius pula.  Jika kita tidak tahu jawabannya, kita perlu tahu di mana kita bisa mendapatkan jawabannya. Dan itu tidak terlalu sulit untuk dilakukan.

24. Apakah kita benar-benar mengetahui apa yang kita yakini? Dan mengapa kita mempercayainya? Apakah kita bisa menjelaskannya kepada orang lain? Dan apa artinya menjelaskan apa yang kita percayai dengan "kelembutan dan hormat"?

25. Apakah Anda pernah ditanya, "Mengapa Anda seorang Kristen?" Bagaimana tanggapan/respons Anda? Mengapa Anda memberikan tanggapan/respons itu?

 

 

 

 

 

Ellen G.White, Alfa dan Omega, jld.6, hlm.484.

 

   “Dalam Kristus terdapatlah kelemahlembutan gembala, kasih sayang orang tua, dan anugerah yang tiada taranya dari Juruselamat yang penuh kasih sayang. Berkat-berkat-Nya ditawarkan-Nya dalam istilah-istilah yang paling menarik perhatian. Ia tidak merasa puas hanya dengan mengumumkan berkat-berkat ini; Ia menawarkannya dalam cara yang paling menarik, guna membangkitkan kerinduan untuk memilikinya. Demikianlah hendaknya hamba2-Nya harus menawarkan kekayaan kemuliaan dari Pemberian yang tidak terperikan itu.  Kasih Kristus yang ajaib akan mencairkan dan menaklukkan hati, sedangkan hanya sekadar mengulangi ajaran tidak akan melaksanakan apa-apa.  “Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian Firman Allamu.” ‘Hai Sion, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat, nyaringkanlah suaramu, jangan takut!,  Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: Lihat, itu Allahmu!,,,seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati”. Yesaya 40:1,9-11”.

 

25. ​​Persahabatan dan cinta/kasih membuka pintu hati; tetapi, itu tidak membawa orang kepada Kristus jikalah kita tidak bersaksi memperkenalkan Dia kepada mereka.

47. Bagaimana Anda dan gereja Anda menanggapi pemandangan berikut?

  1. Seorang teman baru saja kembali dari pemakaman dan berkomentar: “Saya sangat senang bibi saya ada di surga sekarang sedang menatapku. Itu membuat saya merasa sangat baik.  Betapapun pentingnya doktrin tentang keadaan orang mati, tentu saat ini bukanlah waktunya yang terbaik untuk memberi orang itu pelajaran Alkitab tentang topik: keadaan orang mati, yang mengatakan bahwa orang mati tidak tau apa-apa, dst....

2.  Seorang rekan Anda yang beragama  Katolik baru saja kehilangan seorang istri karena menderita kanker payudara yang berkepanjangan. Ia gelisah karena istrinya mungkin menderita dalam Purgatory (api penyucian.)

Bagaimana Anda bisa menyajikan kebenaran tentang keadaan orang mati dengan cara yang menghibur, dalam kasih, tanpa menyinggung perasaannya?.

3.  Sepasang suami istri muda yang Anda kenal baik (yang bukan penganut Masehi Advent Hari Ketujuh) baru saja kehilangan seorang putra berusia 12 tahun dalam kecelakaan mobil. Bagaimana Anda dapat membagikan pengharapan kembalinya Kristus tanpa meremehkan kematian putra mereka?.

 

26. Pertimbangkan prinsip-prinsip ini untuk mengembangkan sikap yang memenangkan:

1. Mintalah  supaya Yesus memberi kesan kepada Anda bahwa semua orang memiliki kerinduan rohani dan dimenangkan bagi Kristus.

2. Berupayalah untuk mengembangkan hubungan positif yang berpusat pada Kristus dengan mereka yang berada di lingkungan pengaruh Anda.

3. Berdoa bagi kesempatan2 untuk membagikan kebenaran ilahi.

4. Sampaikan kebenaran2 alkitabiah dalam konteks hubungan yang penuh kasih.

  

=================================

 

Jumat, 21 Agustus 2020

MELAYANI SEPERTI YESUS.

Ministering Like Jesus" (8 of 13) with Pastor Fred Dana - YouTube
Ministering Like Jesus
P.A. 8 Trw.III,2020.

Ayat hafalan:

  “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala”. (Matius 9:36).

   

   Pelajaran kita pada saat ini menekankan pentingnya pelayanan yang tidak mementingkan diri dan berfokus pada pelayanan pada orang lain, ini akan memberikan kesan yang dapat bertahan dalam kehidupan mereka.  Kita akan mendalami bagaimana caranya kita dapat meneladani kasih Kristus dalam komunikasi kita.

     Apakah contoh melayani yang diberikan oleh Yesus?

   “Yesus benar2 memperhatikan orang (cared for people). Dia lebih tertarik pada keprihatinan dan kebutuhan mereka daripada kebutuhan-Nya sendiri.  Hidup-Nya benar2 terpusat pada orang lain.  Ia adalah pelayan yang berbelas kasihan. Dia memenuhi kebutuhan fisik, mental dan emosional orang2 di sekitar-Nya, dan dengan demikian, hati mereka terbuka terhadap kebenaran rohani yang di ajarkan-Nya. Ketika Dia menyembuhkan  orang kusta, mencelikkan mata yang buta, membuka telinga yang tuli, membebaskan orang yang kerasukan, memberi makan yang lapar, dan merawat yang membutuhkan, hati mereka tersentuh dan kehidupan di ubahkan.  Itu karena ketika orang melihat perhatian-Nya yang tulus, mereka terbuka terhadap kebenaran rohani yang Dia ajarkan”.

   Apakah teladan yang diberikan oleh Yesus kepada kita agar kita sukses melakukan pelayanan bagi orang banyak?.

   “Metode Yesus saja yang akan memberikan keberhasilan sejati dalam menjangkau manusia. Almaseh bergaul dengan manusia sebagai seorang yang menginginkan kebaikan mereka.

   Ia menunjukkan rasa simpati-Nya terhadap mereka, melayani kebutuhan mereka dan memenangkan kepercayaan mereka. Lalu Ia memanggil mereka: “Ikutlah Aku”.

     Ellen G.White, Seri Membina Keluarga, Jld.4, hlm.123.

  

   Selama ini kita mungkin berpikir bahwa umat Tuhan memerlukan lebih banyak khotbah yang perlu dipelajari.  Apakah yang dikatakan oleh pena inspirasi dalam hal ini?.

   Mari kita perhatikan apa yang dinyatakan oleh seorang hamba Allah yang di ilhami :

   “Ada kebutuhan untuk mendekati orang banyak dengan usaha pribadi(personal effort). Jika lebih sedikit waktu yang diberikan untuk berkhotbah, dan lebih banyak waktu dihabiskan untuk pelayanan pribadi(personal ministry), hasil yang lebih besar akan terlihat. [Jika kita semua melakukan itu, apa yang akan terjadi?] Yang miskin harus dibebaskan dari kemiskinan, yang sakit dirawat, yang bersedih dan yang berduka dihibur, yang tidak tau apa2 diajar, yang tidak berpengalaman dinasihati. Kita harus menangis dengan orang yang menangis, dan bersukacita dengan orang yang bersukacita. Disertai dengan kuasa persuasi, kuasa doa, kuasa kasih Allah, pekerjaan ini tidak mungkin tanpa buah. — Ellen G. White, The Ministry of Healing  143.3-4.


I. SIKAP YESUS TERHADAP ORANG LAIN.

   

   Yesus selalu mencari yang baik pada orang lain. Dia sangat perhatian terhadap orang lain, bahkan yang paling terhina, sehingga para pemimpin agama pada zaman-Nya menuduh Dia "menerima orang berdosa dan makan bersama mereka." (Lihat Lukas 15: 2.)

   Agama mereka(para ahli Taurat, orang2 Farisi, dan Saduki sebagian besar terdiri dari menghindari segala sesuatu yang mereka anggap berdosa. Sebaliknya, Yesus tetap tidak tercemar oleh dosa tetapi berhubungan dengan orang-orang berdosa di dunia. Jadi, apa nasihat-Nya bagi kita?.

Matius 5:13-14 “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia di asinkan?. Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.  Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.”

   Yesus menggambarkan para pengikut-Nya sebagai garam dan terang dunia.

--Garam adalah salah satu sumber terpenting di dalam dunia kuno.  Itu sangat berharga, dan terkadang pasukan Romawi menggunakannya sebagai mata uang.  Itu adalah sebuah simbol kekayaan besar (a symbol of great wealth).

   Garam, agar dapat digunakan, harus meresap/ menembus  sepenuhnya terhadap bahan yang ditambahkannya. Dengan cara yang sama, orang Kristen, menurut Yesus, harus ada di dunia tetapi bukan dari  dunia.       Kekayaan sejati dunia adalah orang2 Kristen yang memiliki tindakan kasih tanpa pamrih dalam pelayanan mereka.

   Orang Kristen juga dianggap sebagai "terang dunia". Kegelapan tidak pernah bisa mengalahkan terang. Terang selalu menembus kegelapan. Namun, untuk tetap/selalu murni dan benar di dunia yang semakin jahat adalah sebuah tantangan. Jadi, Yesus berdoa untuk kita, agar kita selalu dilindungi.(Yohanes 17: 15-18: 15).  Para pengikut Yesus harus menem-

bus kegelapan dunia ini di lingkungan, desa, kampung, dan kota merkea untuk meneranginya dengan kemuliaan Allah.


II.PERLAKUAN YESUS TERHADAP ORANG LAIN.

  

   Salah satu hal yang membuat Yesus unik adalah kemampuan-Nya untuk menampilkan yang terbaik dalam diri manusia. Injil Lukas mencatat bahwa orang banyak “heran akan kata2 yang indah yang diucapkan-Nya”.  (Lukas 4:22).  Pendekatan-Nya kepada orang-orang melalui kata2 yang ramah menghilangkan perasaan amarah.  Baca Matius 8:5-10 –Ketika Yesus menyatakan kepada seorang komandan militer Romawi bahwa Dia belum menemukan tingkatan iman yang seperti ini bahkan di Israel.

   Yesus memiliki kemampuan untuk mengeluarkan yang terbaik dari manusia—Dia menyatakan pujian untuk mumbuka hati bagi Injil.  Carilah hal-hal baik pada orang-orang disekitar Anda dan beritahukan kepada mereka bahwa Anda menghargai mereka.  Inilah juga yang telah dilakukan oleh Yesus.

   Baca Yesaya 42: 3; Kolose 4: 5-6; dan Efesus 4:15. Yesus selalu sangat lembut dan penuh kasih dalam berhubungan dengan orang-orang berdosa yang paling buruk sekalipun. Dia menantang kita: (1) Untuk Menjadi bijak; (2) Memanfaatkan setiap kesempatan dengan baik, menggunakan ucapan yang menyenangkan dan

menarik; dan (3) Siap memberikan jawaban yang benar kepada siapapun yang bertanya kepada kita. Dan semua ini harus dilakukan dengan kasih.


III.PELAYANAN PENYEMBUHAN YESUS (Bagian I).

 

   Yesus memiliki kemampuan untuk menyembuhkan orang secara fisik, mental, emosional, dan spiritual. Dia ingin sekali memenuhi kebutuhan2 itu melalui kita ketika kita menunjukkan kepedulian terhadap kesepian, kesedihan dan kepedihan hati orang-orang.

   Dan Dia melakukan semua itu dengan penuh kemurahan.

   Dia melihat kebutuhan2 orang banyak.  Apakah mereka didasarkan pada kesepian, kesedihan, sakit hati, atau penyakit fisik, Dia memberi mereka kesembuhan, kegembiraan, dan harapan.   Yesus telah melayani kebutuhan yang dirasakan orang karena itu telah memberi-Nya sebuah kesempatan untuk menangani kebutuhan mereka yang paling dalam.  Namun, kebutuhan utama yang dibutuhkan manusia adalah kebutuhan akan hubungan pribadi dengan Allah. Rekonsiliasi dengan Allah di dunia yang hancur adalah kebutuhan utama kita.

   Baca Matius 9:1-7, saat Yesus menyembuhan seorang yang lumpuh, Dia lebih dahulu mengampuni dosanya. Disini Yesus menghubungkan penyembuhan fisik dengan memenuhi kebutuhan pokok untuk terlebih dahulu melakukan rekonsiliasi dengan Allah.

    Para pemimpin rohani di zaman Yesus percaya bahwa penyakit fisik adalah akibat langsung dari dosa orang itu. Dalam skala yang lebih besar, memang benar bahwa dosa adalah penyebab penyakit dan kesakitan; Namun, tidak benar bahwa setiap penyakit merupakan akibat langsung dari suatu dosa khusus dari orang tertentu meskipun itulah yang diyakini orang-orang pada masa itu.

     Ketika teman-temannya membawa pria lumpuh itu dan menurunkannya melalui atap di depan Yesus, Yesus berkata kepada orang itu, “Percayalah, hai anak-Ku! dosamu sudah diampuni. " (Matius 9: 2).

   Lihat Markus 5: 25-34. Perempuan yang sudah 12 tahun menderita pendarahan ini telah mencoba untuk mendapatkan pertolongan dari setiap sumber(berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, namun tidak ada faedahnya ( tanpa ada perbaikan apapun.) Kemudian, dia mendengar tentang Yesus.

   Ellen White memberitahu kita bahwa dia pikir dia hanya akan datang kepada Yesus, menyampaikan kasusnya, dan Dia akan menyembuhkannya.       Dia tidak tahu berapa banyak orang yang mencoba mengerumuni Yesus.   

   Ketika dia menyadari kerumunan ada di sana, dia berpikir, “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh" Perempuan itupun telah melakukannya, dan dia disembuhkan. Tetapi, Yesus tidak membiarkan kesempatan itu berlalu tanpa memuji imannya dan memberi semangat secara rohani. (Lihat Spirit of Prophecy, vol. 2, 319.2-322.2.)

   Bagi Kristus, penyembuhan fisik tanpa penyembuhan rohani tidaklah lengkap.

    Kita perlu mengingat bahwa setiap orang yang disembuhkan oleh Yesus secara fisik, pada akhirnya tentu akan mati juga. Namun, tujuan Yesus bagi mereka bukan hanya agar mereka menjadi orang2 berdosa yang lebih sehat!  

   Dia ingin agar mereka menerima anugerah kehidupan yang kekal. Itu adalah tujuan akhir-Nya bagi setiap pasien.


IV. PELAYANAN PENYEMBUHAN YESUS (Bagian 2).


   Apakah yang kita sebagai orang Kristen lakukan untuk berbagi kehidupan kekal dengan orang-orang yang ada  di sekitar kita?

   Kita baca Matius 4: 23-25: “Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah2 ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu...”

   Perhatikan disini bahwa Yesus telah mengajar, berkhotbah, dan menyembuhkan.(Jesus taught, preached, and healed). Teaching, Preaching dan Healing.   Gabungan itu, yakni pelayanan rangkap tiga adalah cara paling efektif untuk menjangkau orang-orang. Bahkan saat ini, seperti yang dijelaskan Ellen White, jika kita dapat menjangkau orang tidak hanya secara spiritual, tetapi juga secara mental, emosional, dan fisik, pekerjaan kita akan lebih sukses.

   (Ini dinyatakan Ellen G. White, Counsels on Health  hlm.503.3-504.0.)

Dalam Markus 1: 32-39- Yesus menghabiskan  sepanjang hari menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan. Setelah menghabiskan waktu dalam doa keesokan harinya ketika banyak orang mencari penyembuhan, Ia pergi ke kota lain.  Mengapa Ia tidak menyembuhkan mereka?. Yesus tahu bahwa misi-Nya di dunia ini dapat dihancurkan jika Dia membiarkan diri-Nya hanya menjadi Penyembuh penyakit fisik saja. Tujuan kedatangan-Nya ke dunia adalah untuk mengkhotbahkan Injil. Yesus bukan sekadar melakukan mukjizat yang

Spektakuler. Dia adalah Anak Allah yang datang dalam Misi Penebusan. Dia tidak puas hanya untuk menyembuhkan penyakit fisik.  Dia merindukan orang-orang untuk menerima karunia kehidupan kekal yang Dia tawarkan.

   Jelaslah  dalam cerita ini bahwa setiap tindakan penyembuhan yang Yesus lakukan Dia anggap sebagai kesempatan untuk mengungkapkan karakter Allah, meringankan penderitaan, dan, mudah-mudahan, mengarahkan para penderita kepada kehidupan kekal.


   V.YANG TERPENTING BAGI YESUS (Kamis).


   Pada hari terakhir pelayanan publik-Nya yang hanya dua hari sebelum penyaliban-Nya, para murid mendekati Yesus untuk bertanya kepada-Nya tentang komentar-Nya bahwa, suatu hari, bait suci di Yerusalem akan dihancurkan. Setelah berbicara tentang peristiwa menjelang akhir dunia , Yesus menceritakan tiga perumpamaan seperti yang tercatat dalam Matius      Perumpamaan tentang 10 gadis, 10 talenta serta perumpamaan tentang domba dan kambing.

   Perumpamaan ini menguraikan kualitas karakter yang penting bagi orang2 yang menunggu kedatangan-Nya yang kedua.  Perumpamaan tentang 10 gadis menekankan pentingnya kehidupan yang sejati yang dipenuhi dengan Roh. Perumpamaan tentang 10 talenta menyatakan tentang pentingnya dengan setia menggunakan karunia yang Allah telah berikan kepada kita masing-masing.  Perumpamaan tentang domba dan kambing mengungkapkan

 bahwa Kekristenan yang sejati benar-benar melayani kebutuhan mereka yang

dibawa Tuhan ke dalam kehidupan kita setiap hari.

   Perumpamaan tentang domba dan kambing yang dicatat dalam Matius 25: 31-46 adalah salah satu yang menantang. Bagaimana kita dapat menjangkau untuk memenuhi kebutuhan begitu banyak orang di sekitar kita?

  “Banyak orang yang tidak beriman kepada Allah dan telah kehilangan kepercayaan pada manusia. Tetapi mereka masih menghargai tindakan2 simpati dan pertolongan. Sementara mereka meperhatikan seorang yang tidak terdorong oleh pujian duniawi atau upah datang ke rumah mereka untuk melayani orang sakit, memberi makan orang yang lapar, memberi pakaian kepada yang telanjang, menghibur yang susah, dan dengan lemah lembut mengarahkan pandangan mereka semua kepada Dia yang oleh kasih dan belas kasihan-Nya pekerja manusia itu hanyalah sekadar utusan—manakala mereka melihat hal ini, hati mereka terjamah.  Rasa bersyukur pun tumbuh. Iman dikobarkan. Mereka menyadari bahwa Allah memelihara mereka, dan mereka siap mendengar sementara firman-Nya dibukakan”.

    Ellen G.White,Seri Membina Keluarga,jld.4 hlm.124.

 

   Beberapa orang Kristen kuno mengira mereka dapat memecahkan masalah supaya mereka tidak terkontaminasi oleh dunia dengan membuat diri mereka sendiri secara sepenuhnya memisahkan diri dari dunia sekitarnya. Contoh terkenal adalah biarawan bernama Simeon Stylites. Dia pindah ke luar kota kecil dekat Aleppo, Suriah, membangun menara setinggi 10 kaki, dan tinggal di atasnya. Dia akhirnya memperpanjang menara itu hingga hampir 60 kaki.

  Di ruang kecil yang tersedia baginya selama 37 tahun ia tinggal di puncak menara, merenungkan perkara2 ilahi, dia bermeditasi, berdoa, berpuasa, menasihati orang-orang yang mencarinya . Ada kalanya dia berpuasa dalam jangka waktu yang lama. Orang mengira dia gila. Tetapi, situasinya begitu luar biasa sehingga orang-orang mencarinya, dengan asumsi dia pasti orang suci namun akhirnya, ia pun meninggal.

   Alkitab memanggil masing2 kita untuk berdoa, meditasi Firman Allah, dan memisahkan diri dari kejahatan. Tujuan untuk meluangkan waktu dengan Kristus di “gunung” adalah supaya kita dapat menjadi saksi bagi banyak orang.

   Berbeda dengan pengalaman Simeon Stylites ini, Yesus berdoa dalam doa yang sangat terkenal yang dicatat dalam Yohanes 17:15 “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka daripada yang jahat. ” 

   Seseorang mengatakan: “Umat Kristen seperti sebuah perahu di dalam air.  Tidak apa-apa bagi perahu berada di dalam air jika tidak ada air di dalam perahu.

   “Metode penginjilan Yesus adalah menemukan kebutuhan dan memenuhinya. Pelayanan rangkap tiga yang dilakukan-Nya yaitu berkhotbah, mengajar dan menyembuhkan telah mengubah hidup manusia. Injil   menyatakan bahwa Yesus memenuhi kebutuhan yang “dirasakan” sehingga Ia dapat menyentuh mereka pada titik terdalam dari kebutuhan rohani mereka.  

   Pertimbangkanlah, dalam Injil Yohanes 2, pada pesta pernikahan di Kana, Galilea, Yesus memenuhi satu kebutuhan sosial dengan menjaga agar tamu terhindar dari rasa malu. Dalam Yohanes 3, Yesus menemui kerinduan hati Nikodemus untuk memperoleh iman sejati. Dalam Yohanes 4, Yesus memperlakukan wanita Samaria dengan rasa hormat, dan memenuhi kebutuhan sosialnya untuk mendapatkan perasaan layak. 

   Dalam Yohanes 5, Yesus melayani kebutuhan fisik dengan membuat mukjizat penyembuhan kepada orang sakit yang terbaring selama 38 tahun di samping kolam yang di yakini bahwa airnya dapat menyembuhkan. 

   Dalam Yohanes 6:14,15, ketika Yesus memecahkan roti dan memberi makan 5000 orang, orang banyak ingin menjadikan Ia raja.

   Apakah yang membuat popularitas Yesus begitu tinggi pada saat pelayanan-Nya?.

   Karena tujuan hidup Yesus adalah “untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang”  (Lukas 19:10).

   Dunia tidak pernah melihat orang seperti Dia yang sangat mengasihi dan tidak mementingkan diri yang dapat memenuhi kebutuhan fisik, mental, emosional dan rohani.

   

KONKLUSI:

   Menyelamatkan orang2 berdosa adalah misi terpenting Yesus. Dan semua yang Dia lakukan, apakah itu menyembuhkan atau mengajar atau hanya berbicara dengan orang-orang, bertujuan untuk menuntun pada keselamatan mereka. Dia ingin membebaskan orang-orang dari belenggu dosa.

   Jadi, siapa di sekitar Anda yang membutuhkan kebaikan Anda, yang membutuhkan perhatian kasih, dan pertolongan Anda  yang baik hati?     

   Mungkinkah seorang ibu tunggal yang butuh istirahat?

    Seorang pria tua pensiunan yang telah kehilangan istrinya? Pasangan muda yang baru saja pindah ke lingkungan sekitar Anda? Atau, mungkin seseorang yang ingin berhenti merokok, mengadopsi gaya hidup yang lebih sehat, dan mereka yang ingin menurunkan berat badan, mengurangi stres, atau berolahraga lebih banyak? Bisakah kita menjangkau orang-orang seperti itu dan membuat perbedaan dalam hidup mereka dalam perjalanan untuk

memperkenalkan mereka kepada Yesus Kristus yang kita kenal dan kasihi itu?  Itulah hal-hal yang Yesus lakukan setiap hari.