Tampilkan postingan dengan label UNTUK DIRENUNGKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UNTUK DIRENUNGKAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Maret 2021

TETAPLAH BERDOA

 


TETAPLAH BERDOA

(1 Tesalonika 5:17)

 

   Sesuatu yang penting tentu akan kita lakukan dengan segera. Kita tidak perlu disuruh untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan. Dan, kita tentu tidak berhitung untuk berhubungan dengan orang yang kita sayangi. Seperti apa doa bagi kita saat ini? Kalau kita menganggap doa sebagai sesuatu yang penting, menyenangkan dan sangat penting untuk membangun hubungan dengan Tuhan, sebagai sarana kita merasakan kasihNya yang lembut dan sarana menyatakan perasaan sayang kita kepadaNya, seharusnya doa otomatis menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Sayangnya ada banyak orang yang menjadikan doa hanyalah bagian dari kewajiban, ritual atau kebiasaan. Tentu baik kalau kita terbiasa berdoa dengan sikap hati yang benar, didasari kerinduan dan kasih pada Tuhan. Tapi kalau cuma kebiasaan yang tidak lagi diresapi dan dinkmati, tentu akan banyak kuasa yang terkandung dari doa yang akan kita lewatkan. Ada juga yang berdoa karena takut berdosa, takut masuk neraka, takut setan dan sejenisnya, itu pun bukan motivasi yang pas untuk mendasari doa.

   Seberapa pentingkah doa dalam kehidupan kita?  Dalam urutan prioritas, dimana letak doa itu? Ada banyak yang menomordua atau menomortigakan doa. Doa hanya dilakukan kalau sempat atau kapan butuh. Mereka hanya melakukannya disaat tidak terlalu sibuk. Kalau sedang banyak agenda kerja, doa pun kemudian disisihkan. Ah, nanti saja, kan bisa besok. Seperti itu kira-kira. Atau lagi ada acara bagus di televisi, lagi ada sederetan DVD yang harus ditonton, siaran langsung olah raga dan sebagainya. Doa pun kemudian digeser ke waktu yang tersisa, atau malah ditunda sampai besok, atau malah besok-besok.

   Bekerja itu penting, mengurus keluarga, bersosialisasi dan sebagainya itu penting. Tentu saja. Kita butuh hiburan setelah lelah bekerja, itu pun tidak salah. Tetapi doa merupakan sesuatu yang sangat penting dan seharusnya tidak boleh dinomorduakan apalagi diabaikan sama sekali. Doa merupakan salah satu sarana komunikasi kita dengan Tuhan yang seharusnya menempati posisi di urutan teratas. Disaat kita sibuk kita harus berhati-hati agar tidak tergoda untuk berkompromi mengurangi jam-jam khusus untuk bersekutu secara pribadi dengan Tuhan. Orang bisa terjebak untuk lebih mementingkan menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu ketimbang terus memberikan waktu khusus untuk mendengar suara Tuhan. Kalau dibiasakan, kita akan semakin malas berdoa dan bayangkan betapa berbahayanya hal itu dalam menghadapi dunia yang sulit dan penuh kejahatan hari ini.

   Ada pula yang berdoa hanya kalau ada perlu saja. Ada yang harus diminta pada Tuhan, minta sesuatu dikabulkan, minta pertolongan. Doa satu-dua kali, lantas berhenti karena kecewa Tuhan tidak langsung memberi jawaban atau mengabulkan permintaan. Kemudian langsung bergeser pada alternatif-alternatif lain termasuk yang jelas-jelas jahat di mata Tuhan. Jangan lupa, kuasa kegelapan pun sepintas bisa memberi solusi jangka pendek, tapi ada jebakan disana yang berujung maut. Tuhan hanyalah salah satu alternatif. Kalau pakai kekuatan Tuhan rasanya lama, pindah kepada kekuatan manusia atau kuasa kegelapan.

   Yang lebih aneh lagi, ada yang melakukan ketiganya sekaligus, tinggal menunggu mana yang lebih cepat memberi solusi. Kalau yang terjadi, doa bukan lagi menjadi sarana membangun hubungan dengan Tuhan dan mendengar suaraNya, tetapi lebih kepada alat memaksakan kehendak kita dimana Tuhan wajib mengabulkan dengan tempo yang sesingkat-singkatnya kalau tidak mau kita marah dan meninggalkannya. Pergeseran paradigma ini bisa tanpa sadar terjadi pada diri kita. Karenanya kita harus benar-benar memperhatikan motivasi kita dalam berdoa. Jika masih rutin, apakah landasannya masih benar atau sudah bergeser? Kalau kita masih jarang-jarang dan meletakkan doa hanya pada urutan ke sekian di bawah banyak hal lain, ini saatnya kita kembali menempatkan doa pada posisi yang seharusnya.  Tuhan memberkati kita. Amen!.

Senin, 01 Maret 2021

STANDAR UTAMA ORANG BENAR

 







STANDAR UTAMA ORANG BENAR.

Untuk Direnungkan(3-5)

3.Standar Utama Orang Benar.

4.Sahabat Sejati.

5.Umur Manusia Tidak Bisa Ditebak.

   “Janganlah hatimu iri kepada orang-orang yang berdosa, tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa.” Amsal 23:17.

 Salam Sejahtera Untuk Kita

  Kunci utama dalam menghadapi apapun yang terjadi adalah takut akan Tuhan, apapun kondisinya, janganlah pernah menyimpang dari jalan Tuhan.

  Standar utama orang benar dalam menjalani kehidupan ini adalah takut akan Tuhan; yang berarti tidak tergoda untuk melakukan kejahatan atau jalan pintas untuk memperoleh kesuksesan.

   Biasanya hal ini dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, karena melihat banyak yang berlaku curang dan tak jujur, namun dapat “menikmati” kenyamanan, bahkan memperoleh kehormatan duniawi.

 Dalam hal ini tidak usah iri hati, tugas kita tetap berjalan sesuai perintah Tuhan, yang berarti hormat dan setia pada Tuhan, sebab jaminan masa depan tidak tergantung pada penghormatan dan kemuliaan dari sesama, serta materi duniawi yang berhasil dikumpulkan, tetapi pada Tuhan yang berkuasa dan berdaulat.

  Tuhan bergerak dengan cara yang tidak terselami, terkadang orang berdosa dapat terlihat sukses dan tetap berhasil dibanding orang benar, tapi tidak perlu iri hati, biarkan Tuhan menuntaskan kehendak-Nya.

 Tuhan menjamin masa depan kita yang percaya dan setia, jaminan Tuhan adalah indah pada waktu-Nya, masa depan yang penuh harapan.   Tuhan memberkati kita semua.  Amin.

   


                              
SAHABAT SEJATI.

    “Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.”Amsal 18:24.

  Sebuah ungkapan yang sudah tidak asing lagi bagi kita, betapa seorang sahabat sejati tetap hadir dikala kita mengalami kesulitan hidup.

   Ketika kita sedang sukses dan berada di atas, pasti tidak akan sulit untuk mendapat sahabat, mereka akan datang dari berbagai arah tanpa dicari.

 Tapi saat kita mengalami kesulitan, banyak dari mereka akan menghindar dengan berbagai alasan, sebagian karena takut dimintai pertolongan.

   Ini bukanlah figur seorang sahabat yang baik.

   Seorang sahabat sejati menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara, baik dalam suka maupun dalam duka / kesukaran. Bd: Amsal 17:17.

   Walaupun terkadang sahabat di dunia ini dapat saja mengecewakan, tapi ada satu sahabat sejati yang tidak akan meninggalkan kita: Tuhan Yesus pernah menyatakan bahwa kita bukan lagi hamba, tapi justru sahabat-Nya. Bd: Yoh 15:15.

  Tuhan Yesus adalah sahabat sejati yang mengasihi dan setia menyertai kita, Dia telah membuktikan dengan memberikan nyawa-Nya untuk menebus kita semua, sahabat-sahabat yang dikasihi-Nya. Bd: Yohanes 15:13-14.

   Marilah kita mengikuti teladan Tuhan Yesus dengan menunjukkan sikap sebagai seorang sahabat sejati bagi Tuhan dan bagi sesama dengan mengikuti segala perintah-Nya. Amin.

   Tuhan memberkati.


              UMUR MANUSIA TIDAK BISA DITEBAK

"Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Mazmur 90:12.

    Karena umur manusia tidak bisa ditebak, maka bersyukurlah bila kita masih bisa bernapas, membuka mata, dan beraktivitas pada hari ini, karena mungkin saja hari ini adalah hari terakhir kita. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok, karena semuanya itu berada di tangan Tuhan.

    Berusaha dan berbuatlah yang terbaik setiap saat, jadikan hari kita bermakna dan berkesan baik bagi diri sendiri, bagi orang lain, dan bagi Tuhan. Marilah kita memakai seluruh kesempatan atas hidup yang masih diberikan ini untuk melayani Tuhan, sebagai ibadah yang sejati dengan mempersembahkan seluruh tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada-Nya. Bd: Roma 12:1. Amin.

 

 

 

Sabtu, 27 Februari 2021

UNTUK DIRENUNGKAN.


Untuk Direnungkan (1-2)

    1.TAK SEORANGPUN TAHU HARI ESOK.

    2.Tetap Semangat Menjalani Hidup.

 
    Baca: Yakobus 4:13-17

   "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu." (Yakobus 4:15)
   Perencanaan adalah hal penting dalam menjalani sebuah kehidupan. Dengan perencanaan yang baik dan matang langkah hidup seseorang akan semakin teratur dan makin terarah kepada suatu sasaran yang hendak dituju. Hidup yang terencana adalah bukti bahwa seseorang sangat menghargai waktu dan semua potensi yang Tuhan berikan. Namun sebuah perencanaan jika tidak disertai tekad dan usaha mewujudkannya tidak akan lebih dari sekedar moto dan angan-angan belaka, karena orang yang berhasil adalah yang hidupnya terencana dengan baik dan punya kemauan keras mewujudkan rencananya.
   
   Sebuah perencanaan hidup akan semakin sempurna apabila Tuhan terlibat di dalamnya. Yakobus mengingatkan agar jangan pernah kita melupakan Tuhan dalam setiap perencanaan hidup. Di zaman yang serba modern ini kebanyakan orang tidak lagi melibatkan Tuhan dalam setiap perencanaan hidup, karena merasa diri mampu menentukan langkah hidupnya. Dengan pengalaman, kepintaran, kekuatan, kecanggihan teknologi, uang atau kekayaan yang dimiliki mereka mengira bahwa semua yang direncanakan pasti akan berhasil. "Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati." (Amsal 16:2). Orang yang melupakan Tuhan dalam setiap rencana hidupnya sama artinya meremehkan Tuhan, mengabaikan kehadiran-Nya, menganggap seolah-olah Tuhan tidak ada dan tidak punya kuasa. Yang menjadi akar persoalan adalah kesombongan.
   
   Orang yang sombong dan angkuh meyakini bahwa ia mampu mengatasi semua persoalan hidupnya dengan kekuatan yang dimiliki, padahal ada banyak hal di dunia ini yang tak dapat diprediksi. Apa yang akan terjadi esok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan? Tak seorang pun tahu. "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu." (Amsal 27:1). Kehidupan ini tidak selurus dan semulus yang kita bayangkan, terkadang ada "kejutan-kejutan" yang tidak pernah kita harapkan, sementara kita hanya bisa menduga-duga dan mengira.
   "Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana." (Amsal 19:21)


UNTUK DIRENUNGKAN:

   Tetap Semangat Menjalani Hidup.


   Baca: Mazmur 65:1-14

"Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu, jejak-Mu mengeluarkan lemak;" (Mazmur 65:12)

   Berbicara tentang mahkota pastilah identik dengan raja atau ratu yang memerintah suatu kerajaan. Mahkota adalah hiasan kepala yang menunjukkan kebesaran dan kekuasaan bagi seorang raja atau ratu. Jika kita menjadikan Tuhan sebagai Raja dalam kehidupan ini Ia akan berkuasa dan bertanggung jawab penuh atas hidup kita. Tuhan bukan hanya melindungi dan menjaga kita sehingga kita merasakan ketenangan dan keamanan, tapi Ia juga akan mencukupkan segala yang kita butuhkan. "...jejak-Mu mengeluarkan lemak;" (ayat nas). Kata "lemak" adalah lambang dari kelimpahan, suatu keadaan yang subur dan berlimpah-limpah karena dipenuhi dengan berkat Tuhan. Alkitab menegaskan bahwa Tuhan akan menyatakan kebaikan-Nya kepada kita bukan hanya untuk satu hari dua hari, satu minggu dua minggu, satu bulan dua bulan saja, tetapi setiap hari di sepanjang tahun!

   Kalau orang-orang dunia memiliki kepercayaan bahwa ada hari-hari yang mereka anggap sebagai hari baik dan ada pula hari-hari yang dianggapnya sebagai hari yang membawa kesialan, bagi anak-anak Tuhan tidak ada hari yang membawa sial karena semua hari adalah baik adanya. "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" (Ratapan 3:22-23), artinya Tuhan akan menyediakan berkat-Nya yang selalu baru setiap pagi, bukan berkat yang sisa-sisa.

   Karena itu tetaplah semangat dalam menjalani hidup ini. Namun untuk mengalami kebaikan Tuhan kita harus mau berjalan bersama-Nya(Allah), setiap hari, artinya kita mengikuti kemana pun Tuhan melangkah sebagaimana komitmen Ayub, "Perintah dari bibir-Nya tidak kulanggar, dalam sanubariku kusimpan ucapan mulut-Nya." (Ayub 23:12). 
   Sebagai Gembala yang baik Tuhan tidak ingin domba-domba-Nya tersesat, sebagaimana Pemazmur
 berkata: "Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya." (Mazmur 23:2-3).