Tampilkan postingan dengan label Goresan Penaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Goresan Penaku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Agustus 2016

Belajar Dari Pohon.

Image result for Gambar pohon yang berbuah
1. Pohon tidak makan dari buahnya sendiri.
Untuk hidup / tumbuh, pohon memperoleh makanan dari tanah.
Semakin dalam akarnya, makin banyak nutrisi yang diserap.
Ini mengajarkan untuk kita lebih dekat dengan Tuhan sebagai Sumber Kehidupan, semakin mendalam , maka kita akan semakin kuat

2. Pohon TIDAK MARAH/TERSINGGUNG ketika buahnya dipetik orang. Kadang hati kecil kita protes, kenapa kerja keras kita yang menikmati justru orang lain. Inilah prinsip memberi. Kita bekerja bukan untuk hidup saja , tetapi untuk memberi buah. Kita bekerja keras supaya kita dapat memberi lebih banyak kepada orang yang memerlukan, bukan demi diri sendiri.
3. Buah yang dihasilkan pohon itu menghasilkan biji, dan biji itu menghasilkan banyak biji2 yang dapat menjadi pohon pohon berikutnya,sehingga akhirnya dapat mengeluarkan buah2 yang segar.
Ini mengingatkan agar hidup kita dapat memberi dampak positif terhadap orang lain. Bila kita dipercaya menjadi seorang pemimpin. itu bukan masalah posisi / jabatan dan untuk memperkaya atau mempertuan diri , tetapi mengenai pengaruh dan inspirasi yang bisa diberikan kepada orang lain.
Semoga kita semua bisa menjadi Pohon yang Bermanfaat !
(Mazmur 1 : 3)

WA: Veraline E. Siagian.

Bersama Yesus Ada Kekuatan.

Image result for Gambar Yesus
*BERSAMA YESUS ADA KEKUATAN*🙏👍
“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13)
👉Tidak ada seorang manusiapun yang selama dia hidup luput dari badai persoalan. Suka tidak suka, mau tidak mau, baik dia orang kaya ataupun miskin, hamba Tuhan atau bukan semua pasti mengalaminya. Entah persoalan yang dihadapi sedikit atau banyak, ringan atau berat. Sama seperti badai yang tidak akan memilih-milih sasarannya atas bumi, demikian juga badai kehidupan tidak akan memilih-milih sasarannya atas manusia.
👉Jika kita mau menghitung berapa banyaknya persoalan maka jawabannya adalah tidak terhitung.
Ada orang yang terhempas diterpa badai dan hancur hidupnya tetapi ada juga orang-orang yang kuat dan menang atas badai persoalan. Pertanyaannya apakah kita bisa kuat dan menang ketika badai persoalan datang?
👉 Jawabannya adalah BISA!! Mengapa saya bisa dan berani berkata demikian? Karena:
Tuhan ingin menjadikan persoalan sebagai sarana untuk membuat kita hidup di dalam Firman Tuhan (Matius 7:24-27). Ketika kita hidup di dalam Firman Tuhan, maka iman kita tidak akan mudah goyah. Tuhan akan memberi penerangan dalam setiap jalan kita.
Persolan itu biasa (1 Korintus 10:13). Firman-Nya berkata “Pencobaan-pencobaan yang kita alami adalah pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia.”Tidak ada persoalan yang tidak ada jalan keluar. Tuhan akan memberi kita jalan keluar sehingga kita dapat menanggungnya.
Ada Tuhan yang akan memberikan kekuatan kepada kita (Yesaya 40:3 ).
🙏Oleh sebab itu, marilah menilik kehidupan kita masing-masing. Adakah persolan tersebut membuat kita menjadi lemah ataukah sebaliknya menjadikan kita kuat serta keluar sebagai pemenang? Jawabannya ada pada pilihan hidup Anda dan saya. Jauhkan diri kita dari persungutan dan percayalah kepada Tuhan bahwa setiap persoalan diijinkan Tuhan untuk tujuan yang mulia. Amin...🙏👏
Semoga menjadi berkat. Amin

WA:Veraline E.Siagian.

Selasa, 05 Juli 2016

Bicarakan Hal-hal Yang Disukai Allah.

BICARAKAN HAL-HAL YG DISUKAI ALLAH
Bacaan: Mazmur 139
NATS: Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya Tuhan (Mazmur 139:4)
    Allah mendengarkan setiap perkataan yang kita ucapkan.      Kita mungkin dapat membicarakan orang lain di balik punggung mereka, tetapi Allah ada di mana-mana. Oleh sebab itu, dalam setiap pembahasan kita harus menyadari hadirat-Nya yang tak terbatas, dan membicarakan-Nya seolah-olah kita berbicara tepat di hadapan-Nya.
    Pengetahuan bahwa Tuhan ada di mana-mana seharusnya berdampak pada perkataan kita. Karena menyadari kemahahadiran Allah, Daud mengungkapkan, "Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya Tuhan" (Mazmur 139:4).
    Kebohongan, gosip, teguran kasar, lelucon tidak senonoh, kata-kata penuh kemarahan, komentar yang tidak sopan, dan penyebutan nama Tuhan dengan tidak hormat, seharusnya tidak pernah keluar dari mulut kita. Sebaliknya, kita seharusnya membicarakan hal-hal yang disukai Allah.    Keinginan kita seharusnya serupa dengan keinginan Daud yang disampaikan melalui doanya dalam Mazmur 19, "Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya Tuhan, gunung batuku dan penebusku" (ayat 15).
    Ingat, Allah sedang mendengarkan.
SETIAP PERKATAAN YANG KITA UCAPKAN DI BUMI
AKAN TERDENGAR DI SURGA

PUSATKAN PIKIRAN KPD YESUS BUKAN KPD DOSA.
Bacaan: Kejadian 45:1-15
NATS: Janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri (Kejadian 45:5)
    Ingatan akan dosa dapat merenggut sukacita keselamatan yang kita miliki. Mungkin kita pernah berkata atau mendengar orang lain berkata," Jika saja saya dapat mengampuni diri saya sendiri atas segala yang pernah saya perbuat!" Sebagian orang terus dihantui rasa bersalah atas dosa-dosa yang mereka perbuat.
    Ketika Yusuf memperkenalkan diri kepada saudara-saudaranya yang telah menjualnya sebagai budak, mereka tak sanggup berkata-kata dan "gemetar menghadapi dia" (Kejadian 45:3). Rasa bersalah dan ketakutan mengingatkan mereka akan dosa yang mereka perbuat terhadap ayah mereka yang telah berusia lanjut, Yakub, dan adik mereka, Yusuf. Mengetahui hal ini, Yusuf segera meyakinkan mereka, "Janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu" (ayat 5).
    Jika kita berbuat dosa dan menyakiti sesama, kita berada dalam posisi yang sama seperti saudara-saudara Yusuf. Namun jika kita telah mengaku dosa, kita harus yakin bahwa kita telah diampuni. Terus-menerus merasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri bukanlah pekerjaan Roh Kudus.
    Alkitab mengingatkan kita untuk "dibarui dalam roh dan pikiran [kita]" (Efesus 4:23). Kita harus memusatkan pikiran kepada Yesus sang Juruselamat, bukan kepada dosa yang telah kita perbuat.
   Kita harus berkonsentrasi pada apa yang telah Dia lakukan, yakni kurban penebusan-Nya di kayu salib atas dosa-dosa kita, bukan kepada dosa-dosa kita. Dia telah mengampuni dosa kita, itu sebabnya kita dapat belajar "melupakan" dosa kita .

   BAPA SURGAWI TIDAK INGIN ANAK-ANAKNYA
MENANGGUNG BEBAN RASA BERSALAH

Senin, 04 Juli 2016

Memuji Tuhan didalam Pikiran, doa dan perkataan.

 
MEMUJI TUHAN DIDALAM PIKIRAN,DOA DAN PERKATAAN.
Bacaan: Mazmur 150
NATS: Biarlah segala yang bernapas memuji Tuhan (Mazmur 150:6)
    Pengkhotbah Inggris yang terkenal, yakni Charles H. Spurgeon (1834-1892) menuliskan sesuatu yang baik untuk diingat ketika kita hendak memulai suatu hari: “Jadikanlah pikiranmu sebagai mazmur, doamu sebagai dupa, dan napasmu sebagai pujian”. Marilah kita telaah masing-masing ungkapan dari pengkhotbah ini.
    Jadikanlah pikiranmu sebagai mazmur. Seratus lima puluh pasal dalam kitab Mazmur masing-masing mempunyai tema yang berbeda-beda. Tema-tema dalam kitab Mazmur itu di antaranya adalah tentang pujian, karakter Allah, dan ungkapan ketergantungan kepada Tuhan. Sepanjang hari kita dapat menjadikan pikiran-pikiran kita sebagai mazmur dengan merenungkan kekudusan Allah, kelayakan-Nya untuk menerima pujian kita, dan betapa kita sangat membutuhkan-Nya
    Jadikanlah doamu sebagai dupa. Di dalam bait suci Yahudi, dupa dibakar terus-menerus sebagai persembahan yang harum bagi Tuhan (Keluaran 30:7,8). Doa-doa yang kita naikkan bagaikan dupa bagi Allah (Mazmur 141:2), yang membawa suatu aroma yang harum ke dalam hidung-Nya, yaitu pengagungan dan kebutuhan kita akan Dia.
    Jadikanlah napasmu sebagai pujian. Kitab Mazmur ditutup dengan perkataan, “Biarlah segala yang bernapas memuji Tuhan. Haleluya!” (Mazmur 150:6). Berbicara tentang Allah dan mempersembahkan pujian bagi-Nya haruslah kita lakukan secara alami sebagaimana layaknya kita bernapas.
Biarlah Tuhan tetap bertakhta di dalam pikiran, doa, dan perkataan Anda hari ini.
HATI YANG PENUH PUJIAN MENYENANGKAN ALLAH.
 PANDANGLAH KE SURGA
Bacaan: 1 Petrus 1:3-9
NATS: Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan (1 Petrus 1:6)
    Pernahkah Anda mengalami suatu liburan seperti berikut ini? Anda berencana untuk mendatangi suatu tempat yang jauh. Anda tahu bahwa di sana Anda akan melewatkan saat yang menyenangkan. Namun, Anda mengalami begitu banyak kesukaran dalam perjalanan ke sana sehingga Anda bertanya-tanya apakah perjalanan tersebut memang layak dilakukan.
    Mobil mogok. Kemacetan lalu lintas. Tersesat. Anak-anak sakit. Teman-teman seperjalanan yang menjengkelkan. Anda tahu bahwa tujuan perjalanan itu akan menyenangkan, tetapi perjalanan itu sendiri tidak mulus. Tetapi, Anda tetap menjalaninya karena Anda tahu bahwa segala jerih payah itu sepadan dengan hasilnya.
    Itulah gambaran kehidupan kristiani. Mereka yang telah memercayai Yesus sebagai Juruselamat tengah melakukan perjalanan yang penuh dengan berbagai kesukaran, hambatan, tragedi, dan gangguan. Kesukaran tampaknya selalu ada atau siap menghadang.
   Namun, kita tahu bahwa di depan kita ada tujuan luar biasa yang tak terlukiskan (1 Petrus 1:4). Dan terkadang keyakinan mengenai apa yang tersedia bagi kita di surga itulah yang membuat kita terus bertahan.
    Petrus mengerti. Ia mengatakan bahwa saat menjalani hidup, kita akan menderita sebagai akibat dari persoalan yang kita hadapi. Tetapi sesungguhnya kita dapat bersukacita melalui segala kesukaran tersebut, sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang istimewa di akhir perjalanan kita.
Apakah Anda menghadapi persoalan hari ini? Pandanglah ke depan. Surga membuat perjalanan kita tidak sia-sia .

APA YANG KITA PEROLEH DI SURGA AKAN JAUH LEBIH BERHARGA DARIPADA APA YANG HILANG DI BUMI

Sabtu, 02 Juli 2016

Firman Tuhan

 
FIRMAN TUHAN Buka, baca dan resapi isinya.
    1 Timotius 4:13 "Bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan mengajar."
    Meskipun suatu obat sangat mujarab sebagai pemberantas suatu penyakit, namun jika sang pasien tidak mau menggunakannya maka ia tidak akan mungkin sembuh atau selama obat itu tersimpan di dalam botolnya yang bagus dengan merk yang menarik sekalipun, namun tidak pernah ada orang yang mempromosikan penggunaannya, maka obat itu akan menjadi pajangan saja, alias tidak ada gunanya.       Saudaraku,..demikian juga Alkitab sebagai Firman Tuhan, jika itu tidak pernah dibuka dan dibaca serta diresapi isinya dengan sungguh-sungguh, maka tidak akan pernah membawa berkat rohani dan kebahagiaan bagi pemiliknya.

ALLAH MENOLONG KITA MELEWATI BADAI.
Bacaan: Mazmur 91
NATS: Tuhan, tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai (Mazmur 91:2)
    Ada sebuah cerita tentang dua pelaut yang ditugaskan untuk mengawasi kapal-kapal yang berlayar jauh ke tengah laut.  Sepanjang malam itu badai mengamuk sehingga ombak melemparkan satu orang dari mereka ke laut. Anehnya, pelaut yang tenggelam justru yang berada dalam ruang kapal yang terlindung, sedangkan yang selamat adalah pelaut yang berada di ruang terbuka dan lebih dekat dengan laut. Apa sebabnya? Karena orang yang tenggelam itu tidak berpegangan.
Itulah gambaran sikap orang-orang ketika mengalami ujian dalam hidupnya! Ketika hidup berjalan dengan baik, mereka merasa tidak memerlukan bantuan. Namun ketika keadaan menjadi sulit, kakinya pun terpeleset sampai jatuh. Karena mereka menolak pertolongan Allah dan tidak mau berpegangan, mereka sangat mudah tenggelam.
    Sebaliknya orang-orang yang berpegang erat kepada Tuhan akan dapat melewati kemalangan berat yang menimpa. Mereka cenderung berkata, "Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan tanpa Tuhan." Itu berarti mereka tahu bahwa Bapa surgawi selalu bersama mereka untuk menguatkan, menjaga, dan melindungi mereka.
    Mereka yang menyandarkan harapan kepada Allah memiliki Seseorang yang senantiasa dapat diandalkan dalam setiap keadaan hidupnya. Mereka dapat mengatakan bahwa Tuhan adalah "Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai" (Mazmur 91:2).
   Bagaimana dengan Anda? Dapatkah Anda berkata seperti itu?.
ALLAH TIDAK MENJANJIKAN HIDUP TANPA BADAI
TETAPI DIA BERJANJI AKAN MENOLONG KITA MELEWATINYA.

DOA


DOA(a): Berdoa tetapi   hatinya entah kemana.
    Yakobus 1:6-7 "Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.".
    Pada suatu hari ada seorang yang hendak menyeterika baju dan celananya. Gantinya mencolokkan steker ke colokan setrikaan, dia mencolokkannya ke colokan radio. Tidak heran setelah beberapa lama ditunggu tidak menjadi panas juga. Biar ditunggu seharian tidak akan menjadi panas karena dimasukkan ke colokan radio. 

   Sama halnya dengan sebuah doa, kadang-kadang tidak mendapat jawaban oleh karena salah cara memohonkannya. Kelihatannya berdoa, tetapi hatinya entah kemana.
 DOA (b): Jangan berdoa bertele-tele.
    "Dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan". (Matius 6:7)
    Saudaraku,...Jika kita bertelpon, biasanya kita harus memutar atau memencet nomer yang TEPAT. Disamping itu kita juga perlu ketahui beberapa hal; misalnya, kita harus berbicara dengan sopan. Sebaiknya pembicaraan itu tidak lebih dari tiga menit, kecuali ada waktu khusus, seperti pada malam hari. Tidaklah jauh dari doa-doa kita. Kalau kita berdoa, kita harus tahu siapa yang kita tuju. Apakah kepada Allah Bapa atau sekedar memenuhi kebiasaan?. 

   Seyogyanya kita janganlah berdoa dengan bertele-tele, dan ucapan maupun sikap kita pun perlu sopan, karena meskipun Allah itu kita sebut Bapa, namun Ia juga Raja kita.
 DOA (c): JANGAN PUTUS ASA BILA BELUM DIJAWAB
    Ada seorang penulis terkenal mengemukakan pendapatnya sebagai berikut: Jika seseorang ingin benar-benar menjadi pengarang, maka ia harus terus berkarya meskipun karyanya itu ditolak atau belum ada yang diterima pada suatu media. Ia harus terus berjuang sampai karya tulisnya berhasil dan dikenal orang. Cara kita berdoa juga serupa dengan itu. Jangan putus asa bila doa kita belum dijawab oleh Tuhan. 
   Mungkin Tuhan belum mengabulkannya karena kita belum benar-benar berdoa atau mungkin kita hanya berpikir alakadarnya, dan tidak memohon dengan kesungguhan hati. Doa memang bukan sekedar main-main, karena doa adalah komunikasi antara umat-Nya dan Tuhannya.
"Bersukacilah dalam pengharapan, SABARLAH dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa". Roma 12:12.

DOA (d): JANGAN MEMAKSA.
    Yakobus 4:3 "Kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu".
Rupa-rupanya para pengemis juga memiliki banyak cara untuk mendapatkan uang. Salah satu diantaranya dengan berpakaian kotor, dan menggamit setiap penumpang bus atau kerete api yang masih diberi izin untuk itu. Dengan cara seperti itu, yang digamit akan merasa jijik dan cepat-cepat memberi uang, agar pengemis itu segera pergi. Cara meminta seperti itu memang MEMAKSA.
    Bagaimana dengan doa-doa kita?. Kadang-kadang kita seperti pengemis yang memaksa itu. Meskipun doa sudah kita tutup dengan "kehendak-Mu yang jadi", namun kata-kata itu hanyalah sekedar ucapan liturgis. Padahal ketika yang kita harapkan tidak muncul dan bahkan mungkin orang lain yang mendapatkan, kita pun mengumpat dalam hati. Baca Yakobus 4:3.

Pemerintahan Rumah Tangga

PEMERINTAHAN RUMAH TANGGA (a)
   Prinsip Penuntun untuk para orang tua. Nyatakanlah kepada mereka (anak-anak) kebesaran dan ketinggian nilai kebenaran itu.
   Tuntunlah mereka untuk memandang Kristus dan keindahan-Nya. Inilah prinsip yang harus dipakai oleh para orangtua dalam mendidik anak-anak mereka. Para ibu dan bapa harus belajar dalam kehidupan mereka supaya anak-anak mereka menjadi anak-anak yang lebih sempurna dalam karakter, yang dapat dicapai dengan usaha manusia, digabungkan dengan bantuan Ilahi.
   Pekerjaan ini, dengan semua kepentingan dan kewajiban itu, sudah mereka terima, karena telah melahirkan anak-anak ke dalam dunia.
   Peraturan-peraturan yang perlu bagi pemerintahan dalam keluarga: Setiap rumah tangga Kristen harus mempunyai peraturan-peraturan; dan para orangtua harus memberi teladan dalam perkataan, tingkah laku terhadap satu dengan yang lain baik kepada anak-anak dalam kehidupan sebagaimana yang mereka kehendaki hidup mereka di kemudian hari...Ajarlah anak-anak muda dan para orang muda itu menghormati diri mereka sendiri, supaya setia kepada Allah, setia kepada prinsip; ajarlah mereka untuk menghormati dan menurut hukum Allah.  Kemudian prinsip ini akan mengendalikan kehidupan mereka dan akan dibawa dalam pergaulan mereka dengan orang di luar rumah tangga.
    EG. White, Membina Kel.Bahagia, hlm.292.

PEMERINTAHAN RUMAH TANGGA (b)
    Prinsip-prinsip Alkitab yang harus diikuti:
    Perlu ada penjagaan yang terus menerus untuk memastikan bahwa prinsip-prinsip yang menjadi fondamen pemerintahan rumah tangga tidak diabaikan. Tuhan telah merencanakan supaya para keluarga di bumi ini menjadi lambang keluarga di surga. Dan apabila para keluarga yang di bumi ini dipimpin pada arah yang benar maka penyucian roh yang sama akan dibawa kepada jemaat. Para orang tua itu sendiri harus terlebih dulu bertobat serta mengetahui apa artinya tunduk kepada kehendak Allah, seperti anak-anak kecil, membawa semua pikiran mereka kepada kehendak Kristus, sebelum mereka dengan benar mewakili pemerintahan yang Allah rencanakan harus ada(exist) dalam keluarga itu. Allah sendiri yang membangun hubungan kekeluargaan itu. 
   Firman-Nyalah satu-satunya penuntun yang selamat (terbaik) dalam usaha pengelolaan/memelihara anak-anak. Falsafah manusia belum pernah menemukan sesuatu yang melebihi apa yang diketahui Allah atau merumuskan suatu rencana yang lebih bijaksana untuk memperlakukan anak-anak daripada yang diberikan Allah. Siapakah yang dapat lebih baik memahami kebutuhan anak-anak manusia selain daripada Khalik mereka?. Siapakah yang dapat memperhatikan lebih mendalam tentang kesejahteraan mereka selain daripada Dia yang telah menebus mereka dengan darah-Nya?. Kalau firman Allah dipelajari dengan saksama dan dituruti dengan setia maka akan berkuranglah penderitaan karena kelakuan anak-anak jahat/nakal.
    Membina Kel.Bahagia, hlm.292-293.