Senin, 24 November 2014

Selesaikan Masalah Perselingkuhan Butuh Waktu Yang Tepat.





SEIRING bergesernya norma-norma yang ada dalam masyarakat, kini banyak terjadi fenomena perselingkuhan antara pria beristri dengan wanita lain atau sebaliknya. Sebagai korban perselingkuhan yaitu istri , wanita harus bisa mengambil sikap tegas dengan cara memberanikan diri untuk bicara empat mata dengan suami.

Salah satu psikolog yang sering menangani permasalahan  perselingkuhan rumah tangga, Drs. Lukman S. Sriamin, M.PSi., menganggap bahwa untuk menyelesaikan masalah rumah tangga seperti perselingkuhan, maka dibutuhkan waktu dan pikiran jernih untuk membicarakan hal tersebut.

“Caranya menyelesaikannya adalah dengan berbicara. Kalau tidak sanggup berbicara dengan pasangan, harus ada penengahnya, karena keduanya tidak bisa langsung saling berbicara,” kata Drs. Lukman S. Sriamin, M.PSi., kepada Okezone melalui sambungan telefon.

Dalam menyelesaikan masalah seperti perselingkuhan yang dilakukan oleh suami, pengamat psikodinamika masyarakat dari Universitas Indonesia (UI) ini  menjelaskan bahwa kedua belah pihak (suami dan istri), harus menunggu waktu yang tepat. Mereka harus dalam kondisi yang sudah tenang dan siap untuk berbicara satu sama lain.

“Harus diajak bicara oleh penengah secara satu persatu, baru kemudian keduanya bisa berbicara langsung ketika sudah disepakati oleh kedua pihak tersebut. Tidak bisa tiba-tiba keduanya langsung dipertemukan, karena butuh waktu yang siap, tunggu sampai tenang dan tidak boleh dipaksa,” tutupnya.


                                               Sumber: Evi Elfira-okezone..

 

SETELAH PERSELINGKUHAN

 Masalah perselingkuhan memang masalah yang cukup berat yang harus diatasi oleh sepasang suami-istri. Namun tidak mudah bagi pasangan suami-istri ini untuk memulihkan hubungannya seperti semula, ketika masalah perselingkuhan itu sudah diselesaikan.

 Isi: 

Pada masa badai perselingkuhan menerpa, kita mengeluarkan segenap energi untuk bertahan. Apa yang terjadi setelah badai selingkuh berlalu kadang mengejutkan. Kita malah saling mencakar dan relasi antara suami-istri justru memburuk. Mengapa?

1.    Pada masa badai selingkuh menerpa, kita bersatu padu melawan satu sasaran yang sama, yakni si pengganggu itu. Setelah ancaman itu lenyap, kita kembali melihat ketidakcocokan yang telah membuka pintu perselingkuhan itu.

2.    Pada masa bertahan, target kita adalah menyelamatkan pernikahan. Semua perasaan luka dan terabaikan serta kebutuhan kita kesampingkan. Setelah badai selingkuh lewat, kita barulah menyadari luka yang ditimbulkan dan kebutuhan yang tak terpenuhi. Perasaan marah yang tadinya kita kesampingkan sekarang terangkat ke permukaan dan mulai kita ekspresikan kepada pasangan.

3.    Badai selingkuh acap kali mengobrak-abrik struktur rumah tangga. Jika sebelumnya kita berada di bawah kekuasaannya, mungkin sekali sekarang kita berdiri sejajar dengannya. Atau kebalikannya. Mungkin dia dulu yang berada di bawah kendali kita, sekarang ia berada di atas kita. Perubahan ini menuntut penyesuaian peran, hak, dan tanggung jawab.

Apa yang harus kita lakukan?

1.    Pelaku selingkuh harus menyadari bahwa kesembuhan emosional tidak terjadi dengan segera dan memerlukan waktu yang panjang. Izinkan pasangan untuk marah dan mewujudkan lukanya.

2.    Ketidakcocokan tidak pudar dengan berakhirnya perselingkuhan; inilah masanya membereskan masalah, dan bukan menutupinya. Mintalah bantuan seorang konselor untuk menolong menyelesaikannya.

3.    Perubahan memang mencemaskan namun sering kali perubahan adalah untuk kebaikan bersama. Jadi, jangan kaku dan menolak perubahan.

Firman Tuhan "Ganjaran kerendahan hati dan takut akan Tuhan adalah kekayaan, kehormatan, dan kehidupan." Amsal 22:4

                        Sumber: Lembaga Bina Keluarga Kristen.

 

 

Pasca Perselingkuhan

Kata SeIingkuh bagi sebagian besar orang merupakan akronim dari Selingan Indah Keluarga Utuh atau Runtuh. Tulisan ini merupakan sebuah renungan dan bahan pertimbangan untuk menjawab pertanyaan apakah Rumah Tangga (RT) akan dapat tetap dipertahankan secara UTUH ataukah justru terpaksa DIBUBARKAN/ DIRUNTUHKAN karena tidak ada jalan keluar lainnya setelah perselingkuhan terjadi? INILAH TEORI SEBUAH PERKAWINAN YANG SEMPURNA.
Kita sering berpikir bahwa ketidakjujuran dan ketidaksetiaan dalam perkawinan hanya terjadi pada Rumah Tangga orang lain, tidak mungkin terjadi pada RT kita sendiri. Kesetiaan dalam Perkawinan dalam RT kita berlangsung seumur hidup, terutama bagi penganut agama tertentu.
Janji yang diucapkan dalam Perkawinan harus selalu diingat, dijaga dan merupakan sebuah pegangan untuk menyelesaikan segala masalah dan persoalan yang timbul dalam bahtera RT (dalam keadaan susah dan atau senang, dalam keadaan sakit dan atau sehat hingga kematian memisahkan kita). Tidak peduli apakah CINTA dalam Perkawinan sudah habis atau masih ada, yang jelas ANAK-ANAK sebagai tanda bukti CINTA yang pernah ada diantara pasangan suami istri (pasutri) tersebut telah menjadi Manusia seutuhnya yang kehidupannya perlu dijaga dengan baik dan sesempurna mungkin oleh pasutri pendiri keluarga baru ini.
INILAH TEORI SEBUAH PERKAWINAN. Namun di dalam praktek sehari-hari, tidaklah mudah dijalankan karena rasa sakit hati dan kebingungan yang dialami sangat hebat dampaknya baik terhadap pribadi/individu pasutri tersebut maupun terhadap relasi/hubungan yang telah sekian lama dibangun. Usaha-usaha yang dilakukan seseorang untuk menyelesaikan atau mengakhiri perselingkuhan justru bisa dianggap boomerang bagi pasangannya.
Dalam tulisan ini, akan dibahas tentang apa yang terjadi dalam perselingkuhan itu sendiri serta kemungkinan jalan penyelesaian setelah perselingkuhan terjadi.
APA YANG TERJADI DALAM PERSELINGKUHAN
Perselingkuhan adalah suatu perbuatan melampaui “batas” dalam ikatan perkawinan. Dalam sebuah perselingkuhan, ada orang lain yang baik dengan sengaja maupun tidak sengaja diundang atau dibiarkan untuk masuk ke dalam batas-batas ikatan perkawinan, yang hingga kini masih dianggap hanya dapat dijalani oleh dua orang individu saja. Sampai sejauh mana “batas-batas” ikatan perkawinan tersebut harus dijaga, hal ini sangat relatif bagi setiap individu, seseorang berpendapat: “kalau hanya sebatas melirik, memberikan signal kepada lawan jenisnya, atau kencan pokoknya tidak dilanjutkan ke tempat tidur, itu masih dimungkinkan”, namun belum tentu pasangannya beranggapan sama seperti itu.
Perbuatan yang disebut diatas merupakan perbuatan yang seharusnya hanya ditujukan kepada pasangannya, jika dibagikan kepada orang lain, maka dianggap sebagai perbuatan “bermain api”. Semakin seseorang menghormati dan menjaga “batas ikatan perkawinan”, sebenarnya semakin besar nilainya yang perlu dijunjung tinggi dan dibangun dalam ikatan perkawinan ini.
Perselingkuhan sebagai kompensasi untuk mengisi kekurangan, biasanya diawali dengan ketidaksetiaan kepada pasangan sebagai kompensasi untuk mengisi kekurangan atau ketidakpuasan dalam hal misalnya pasangannya kurang bisa diajak untuk berkomunikasi atau bertukar pendapat, kurang menghormati pendapatnya, kurang pandai menganalisa suatu kejadian, kurang pandai memberikan masukan dalam mengatasi sebuah masalah yang dihadapi RT, kurang mendapat perhatian dari pasangannya, kurang menghormati perilaku dan kebiasaan, kurang mendapat penghargaan atas usaha yang telah dilakukan bahkan selalu dicemooh atau dihina sehingga merasa disepelekan karena usahanya tidak pernah dianggap berhasil.
Peristiwa lainnya adalah misalnya karena disebabkan ketidakpuasan di tempat tidur dan bahkan disebabkan karena kerinduan untuk mendapatkan keturunan tidak dapat dipenuhi oleh pasangannya. Perselingkuhan merupakan perbuatan egois seorang individu yang hanya mementingkan kebutuhannya sendiri, tanpa memperhitungkan perasaan pasangannya sama sekali; merupakan perbuatan tidak dewasa dan kurangnya tanggung-jawab; perbuatan kurang bisa menahan diri dari dorongan hatinya untuk mendapatkan kenikmatan tertentu (uang, kesenangan, seks, perhatian, kata-kata indah, kebebasan, kebahagiaan dlsb).
KETIDAKSETIAAN DAN PERSELINGKUHAN
Namun demikian tidak selalu ketidaksetiaan dianggap sebagai suatu perselingkuhan, contohnya adalah seorang istri yang membiarkan dan bisa menerima kebiasaan suaminya mengunjungi prostitusi, namun sebaliknya ada pula seseorang yang menganggap persahabatan antara pasangannya dengan rekan kerjanya sebagai sebuah ancaman bagi keutuhan teritorial RTnya, padahal pasangannya tetap setia tidak pernah melakukan penyelewengan apapun dengan rekan kerjanya.
Kadang pula perselingkuhan hanya dilakukan dengan satu kali hubungan sex dengan orang lain yang bukan pasangannya atau justru hubungan cinta yang berlangsung dalam kurun waktu yang relatif lama dengan orang lain yang bukan pasangan hidupnya. Tidak jarang pula terjadi bahwa seseorang yang setia ini tidak mengetahui bahwa pasangannya telah melakukan perselingkuhan, baru belakangan ia ketahui setelah ditemukan fakta-fakta dan pembuktian-pembukti an yang tadinya sama sekali tidak pernah diduganya; pada saat itu, terasa dunianya runtuh.
AKIBAT PERSELINGKUHAN DALAM IKATAN PERKAWINAN
Sebuah hubungan dalam ikatan perkawinan merupakan suatu pengorbanan yang sedikit demi sedikit dibangun dan diinvestasikan. Bukan hanya materi semata-mata yang dibangun (seperti uang tabungan, rumah yang didiami atau mobil, saham yang dimiliki dan segala pristise) tetapi juga segala usaha, kebiasaan, perasaan, pengertian, kepercayaan yang dikorbankan dan dibangun dari nol. Sudah merupakan kebutuhan dasar pribadi seorang manusia bahwa dirinya menjadi tempat utama bagi pasangannya untuk curhat, untuk membicarakan hal-hal yang sangat penting dan confidential (rahasia dan sangat pribadi), untuk memecahkan segala persoalan secara bersama, untuk menjadi dirinya sendiri secara utuh tanpa ragu-ragu dan malu-malu bahwa akan dicemohkan oleh pasangannya tersebut.
Jadi dalam sebuah hubungan perkawinan yang sehat sangat penting didasari filosofi bahwa seseorang sebagai pribadi/individu memegang peranan penting dan tempat pertama bagi pasangan masing-masing dengan mengesampingkan peran individu lainnya sebagai orang luar dalam kehidupan perkawinan. Dengan kata lain, hubungan di dalam Perkawinan sangat khusus /ekslusif hanya berlaku untuk keduanya dan tidak ada tempat bagi orang ketiga.
Tentu saja anak-anak merupakan perhatian utama bagi keduanya, namun bukan berarti posisi pasutri diambil alih sepenuhnya demi kepentingan anak-anak ini. Jika tiba-tiba keadaan ini berubah akibat peselingkuhan, terjadilah benturan-benturan dan situasinya menjadi tidak pasti lagi dalam ikatan perkawinan ini. Mulailah timbul pertanyaaan- pertanyaan seperti “Apakah saya masih punya arti dalam kehidupanmu? , kamu pikir siapa kamu ini, bisa memperlakukan saya semena-mena seperti itu, apa artinya semua yang telah saya korbankan untuk mu?, dan apa saya masih bisa mempercayai kamu?”.
Perselingkuhan mempunyai dampak psikologis yang sangat negatif dan sangat menyakitkan yang pernah dirasakan seorang individu dewasa. Mempunyai peringkat kedua setelah kesedihan akibat meninggalnya seorang anak.
Dampak psikologis ini akibat hilangnya harga diri, rasa hormat, rasa aman, kenyamanan dan kepercayaan yang telah bertahun-tahun dibangun serta rasa dilecehkan oleh pasangannya yang bersekongkol dengan orang ketiga. Tentu saja Perselingkuhan dirasakan bebeda-beda oleh setiap individu perorangan sebagai pasangan yang setia atau bukan pelaku perselingkuhan. Seseorang memandang bahwa perselingkuhan merupakan hal yang bisa dimaafkan, namun bagi sebagian orang merupakan perbuatan yang tidak mungkin dimaafkan, karena sesuatu miliknya yang berharga telah dicuri oleh orang ketiga dan tidak pernah bisa dikembalikan lagi.
Hubungan yang retak tidak mungkin menjadi utuh kembali. Bagi sebagian orang, perselingkuhan dianggap sebagai sebuah pesan kepada pasangannya bahwa pasangan masing-masing harus memperbaiki hubungan yang ada.
Signal-signal/ tanda-tanda biasa yang disampaikan oleh para pasangan masing-masing ini selalu dikesampingkan karena itu dengan membuktikan bahwa dirinya masih menarik untuk orang lain selain pasangannya akan membuka mata / membangunkan pasangannya bahwa yang mereka miliki perlu benar-benar dipelihara/dijaga dan bukan untuk disepelekan. Namun perlu ditegaskan bahwa Cinta dalam ikatan perkawinan bukan suatu upah atau imbalan bagi seseorang yang telah melakukan perbuatan sesuai kehendak pasangannya. Justru Cinta harus ditanam dan dipupuk sejak awal apabila pasutri menginginkan bahwa kelak nanti cinta ini berkembang dan memberikan hasil /panen yang dapat dituai.
MENGAMBIL SIKAP, PASCA PERSELINGKUHAN
Suatu hal yang penting adalah pasutri tersebut harus mengambil sikap atau menentukan jalan mana yang harus dipilih. Apakah ikatan perkawinan ini masih dapat dilanjutkan atau tidak?. Apakah masing-masing pasutri bersedia memberikan kesempatan kepada pasangannya untuk mempertahankan ke- UTUH-an keluarga atau rela Keluarganya menjadi RUNTUH?. Jika keUTUH-an keluarga yang dipilih, perlu dibuat komitmen diantara pasangan, tentu pembuatan komitmen ini bisa dibantu dengan cara konsultasi keluarga.
MEMPERTAHANKAN KEUTUHAN KELUARGA
Memperbaiki keadaan bukan suatu hal yang mudah dijalani, terutama memperbaiki kepercayaan merupakan perbuatan yang memerlukan waktu panjang. Luka yang ada akibat perselingkuhan tidaklah mudah sembuh. Pemikiran bahwa ketidak jujuran dan ketidak setiaan merupakan akhir dari sebuah relasi/ikatan perkawinan selalu menghantui dalam perjalan waktu untuk menuju perbaikan relasi. Komunikasi diantara pasutri tidak lagi berjalan lancar.
Untuk mengembalikan ke situasi sebelum terjadinya perselingkuhan perlu dilakukan langkah-langkah /tahapan sebagai berikut: Bagi pelaku perselingkuhan pertama-tama harus bersedia dalam tahapan pertama untuk: – mengakui kesalahannya, – meminta maaf kepada pasangannya dan – memaafkan dirinya sendiri. Jika hal ini belum bisa dilakukan, niscaya hubungannya dengan pasangannya tidak mungkin pulih kembali. Tahapan kedua: – mampu memilih jalan untuk menghentikan perbuatan sebelumnya dan mengakhiri hubungannya dengan orang ketiga tersebut. Bagi Pasangan bukan pelaku Perselingkuhan (Pasangan Setia) bersedia malakukan hal-hal sebagai berikut: – memaafkan pasangannya dan bersedia melupakan kejadian perselingkuhan tersebut, – bersedia melangkah bersama pasangannya kembali, – menghapus pikiran benci dan selalu menyalahkan pasangannya apalagi orang ketiga.
SEBUAH EPISODE YANG DITUTUP DAN MEMULAI LEMBARAN BARU
Motto yang penting bagi para pihak yaitu masing-masing mempunyai kesadaran bahwa “Orang ketiga dalam RT ku telah memilih hidupnya sendiri dan pasanganku telah memilih untuk meneruskan keutuhan keluarga ini”. Selama pasutri masih memikirkan atau membawa-bawa nama orang ketiga dalam setiap perselisihan yang terjadi dalam RT, maka berarti pasutri ini belum mampu untuk menjalani lembaran baru. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa masing-masing baik pelaku perselingkuhan maupun orang ketiga harus memfokuskan diri untuk mencapai kesusksesan penyelesaian masalahnya sendiri-sendiri. Para pelaku perselingkuhan dan orang ketiga dilarang untuk berurusan lagi atau katakan saja sudah tidak punya urusan lagi satu dengan yang lain apalagi ikut campur dalam usaha mencapai keberhasilan masing-masing untuk mempertahankan keutuhan keluarganya.
Sukses tidaknya pelaku perselingkuhan dan orang ketiga meneruskan hidup masing-masing, itu merupakan soal belakangan, yang tidak perlu didiskusikan oleh keduanya. Yang penting adalah bahwa pasutri harus membuka Lembaran baru, sekalipun jika dari perselingkuhan ini telah lahir anak (anak-anak) luar nikah. Pasangan setia ini mampu bersedia menerima anak-anak tdak berdosa ini sebagai anak/keturunan pasangannya yang juga merupakan bagian dari keluarganya (adik atau kakak tiri dari anak-anak kandungnya). Jika lembaran baru tidak dapat dimulai, maka dengan sangat terpaksa pasangan harus memulai hidup baru masing-masing. Dengan kata lain, keputusan perceraian harus diambil sebagai remedi terakhir apalagi jika sudah lahir anak-anak dalam RT ini.
DAMPAK PERCERAIAN TERHADAP KEHIDUPAN ANAK-ANAK
Keputusan untuk bercerai merupakan keputusan berat dan sangat sukar yang harus diambil oleh pasutri. Berbagai pertimbangan perlu diuraikan satu persatu terutama dampak negatif terhadap anak-anak. Perceraian merupakan sebuah proses yang sangat memakan waktu, tenaga, energi, perasaan/emosi. Setelah putusan perceraian dibacakan oleh hakim, proses pasca perceraian berjalan terus seperti: – pemisahan harta perkawinan, alimentasi (kewajiban memberikan nafkah), – penguasaan anak atau kewajiban pengasuhan anak, – perpindahan rumah dan lain sebagainya.
Hal-hal tersebut merupakan hal konkrit dari segi hukum, namun ada dampak yang non konkrit yang terus merongrong jalannya kehidupan dan sangat dirasakan oleh anak-anak seperti misalnya: – perpindahan sekolah dan rumah, – peralihan status ekonomi (tadinya pulang pergi sekolah pakai mobil sekarang pakai kendaraan umum) – hilangnya kepercayaan diri, – kesedihan yang berkepanjangan, – kerinduan terhadap ayah / ibu yang tidak dapat diungkapkan begitu saja, – masalah disekolah seperti ganguan konsentrasi atau pertanyaan-pertanya an yang menyangkut relasi orang tua mereka, atau bahkan cemooh dari teman- teman, – rasa tidak aman karena berada di tengah-tengah 2 (dua) buah bola api yang sewaktu-waktu bisa menyulut mereka atau ketakutan karena hidup dalam suasana yang tegang, pertengkaran dan bahkan adanya kekerasan RT, – perasaan hidup seperti terombang-ambing karena tidak ada kestabilan dalam keluarga, – perasaan seolah-olah mereka harus memilih, membela atau menyalahkan salah satu ortu, dan lain sebagainya.
Pasutri perlu mempunyai kesadaran bahwa anak-anak adalah pihak yang netral. Mereka tidak perlu memilih, memihak atau menyalahkan salah satu ortunya. Kalau mereka ditanya pendapatnya pasti mereka ingin hidup bersama kedua ortunya, tanpa harus dipisahkan karena ortu sudah tidak saling mencintai lagi. Dampak kehidupan ini terus melekat bukan berhenti sampai anak tersebut dewasa tetapi terus mempengaruhi kehidupannya selama di dunia ini dan mempengaruhi keputusan hidup yang harus diambilnya. Tentu saja masing-masing anak akan mencari jalan untuk mengatasi masalah ini, yang satu menggunakan pelarian obat bius dan hal-hal negatif lainnya, yang lain menenggelamkan pikirannya dengan membaca buku dan hal-hal positif lainnya.
Satu hal yang pasti mereka adalah korban dari perbuatan orang tuanya, dan hal ini tentu saja tidak fair. Anak-anak sama sekali tidak tahu apa-apa dan tidak melakukan kesalahan apa-apa serta tidak bisa memilih keadaan yang terbaik untuk mereka, jika keluarga terpaksa tercerai berai. INGATLAH sesulit apapun mempertahankan keutuhan keluarga setelah perselingkuhan dapat memberikan keadaan yang lebih baik dan stabil bagi perkembangan anak-anak. Belum tentu perceraian itu merupakan jalan yang terbaik yang harus diambil bahkan justru dalam berbagai kasus merupakan jalan terburuk bagi kehidupan anak-anak dan menimbulkan trauma bagi kehidupannya dimasa depan.
PENUTUP:
Rusaknya keutuhan keluarga bukan semata-mata bisa dipersalahkan kepada orang ketiga, walaupun orang ketiga ini tentu saja memegang peranan penting. Hal yang pasti adalah bahwa “Kerusakan atau Keutuhan sebuah Keluarga sepenuhnya ada ditangan pasutri ini sendiri” . Kesetiaan adalah sesuatu yang pantas mendapatkan cobaan. Kesetiaan tanpa cobaan bukanlah kesetiaan sejati. Kesetiaan bukan hanya milik pasangan suami-istri tetapi juga Kesetiaan terhadap Allah, Sang Pencipta. Setiap manusia diuji untuk membuktikan kemampuannya apakah dapat tetap setia menjalankan kehendakNYA (termasuk tidak melakukan perselingkuhan) , sehingga pada akhirnya dapat mencapai hasil akhir yaitu kembali kepangkuanNYA setelah meninggalkan dunia ini.
SELAMAT MENGAMBIL KEPUTUSAN.
*) Penulis bekerja sehari-hari sebagai konsultan dalam masalah-masalah Hukum Keluarga Perdata Internasional) . Namun demikian, pengalaman mengajarkan kepada penulis bahwa di dalam praktek, unsur pshysiologis setiap pribadi memegang peranan sangat penting, sehingga pengalaman-pengalam an tersebut sangat menarik untuk dibagikan kepada masyarakat luas.
Diambil dari : Artikel KOMPAS, oleh Lindsay-Amsterdam.

Motivasi Perselingkuhan Dalam Rumah Tangga.




   AJARAN agama mana pun di dunia ini, pasti tak ada yang membenarkan perselingkuhan dalam rumah tangga. Begitupun dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, pasti memandang negatif perselingkuhan, termasuk di negara-negara Barat sekalipun, yang terkenal dengan sekulerisme dan hedonismenya. Pernikahan, benar-benar dianggap sebuah “wadah” yang harus steril dari perselingkuhan, dan kesetiaan menjadi mutlak 100% bagi pasangan suami-istri, tak peduli berapa pun umur pernikahannya, dan bagaimanapun kondisi pernikahannya.

Akan tetapi, realitas hidup di masyarakat berkata lain. Tanpa perlu data statistik yang resmi dan valid, kita pasti tahu betapa mudahnya perselingkuhan dalam rumah tangga terjadi di masyarakat kita. Kita tak perlu menonton sinetron, telenovela, atau infotainment di televisi untuk bisa menyaksikan perselingkuhan, karena hal itu bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan di depan mata kita. Perselingkuhan bisa dilakukan oleh tetangga kita, kerabat kita, saudara kita, teman kita, teman kerja kita, atasan kita, guru/dosen kita, sahabat dekat kita, orang tua kita, saudara kandung kita, atau bahkan kita sendiri.

   Perselingkuhan, dengan atau tanpa hubungan seks, meskipun jelas-jelas haram menurut agama dan dicap buruk oleh masyarakat, pada kenyataannya begitu mudah untuk ditemukan, bahkan untuk dilakukan. Perselingkuhan pun bukan menjadi monopoli pihak tertentu. Perselingkuhan tak kenal status sosial, tingkat pendidikan, jabatan, bidang profesi, domisili, bahkan gender. Kemajuan media massa dan teknologi semakin memperparah “mewabahnya” perselingkuhan. Istilah SII (selingkuh itu indah) seolah menjadikan perselingkuhan sebagai tren yang populer di masyarakat. Kalau kenyataannya seperti itu, kita jadi bertanya-tanya, ada apa di balik semua ini? Apa yang salah? Dan… siapa yang salah?

   Dipandang dari sudut agama, maraknya perselingkuhan bisa dianggap sebagai indikasi menipisnya keimanan dan ketakwaan masyarakat kita, yang katanya “masyarakat religius”. Di zaman globalisasi seperti sekarang ini, memang hal-hal yang bersifat religi sering “terbenamkan” oleh hal-hal duniawi. Tapi ternyata, permasalahannya tidak sesederhana itu. Masalah perselingkuhan dalam rumah tangga adalah masalah yang sangat kompleks dan pelik, meski kita “biasa” mendengarnya.   Kita harus benar-benar berpikir secara jernih, objektif, proporsional dan bijak dalam melihat masalah ini.

   Memang ada banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut bisa terjadi. Tapi yang jelas, kita tak bisa “menghakimi” media massa dan teknologi sebagai pihak yang salah. Karena meskipun media massa melalui televisi begitu rajin menyuguhkan acara-acara sinetron, telenovela dan infotainment yang menceritakan tentang perselingkuhan, dan juga koran/tabloid yang juga rajin memuat berita atau cerita tentang perselingkuhan, yang bisa saja menjadi “contoh” dan “inspirasi” yang tidak baik kepada penonton dan pembacanya, tapi media massa hanyalah mengangkat potret masyarakat kita yang sebenarnya, dan bukan didasarkan pada imajinasi semata ataupun sebuah propaganda. Sedangkan teknologi, meskipun menghasilkan HP dengan segala fasilitasnya, dan juga internet dengan segala fasilitasnya yang menjadi booming di masyarakat kita bisa dijadikan “sarana” dan “media” selingkuh yang mudah, cepat, efisien, dan efektif, tapi teknologi hanyalah “alat bantu” manusia. Segala manfaat dan mudaratnya sangat bergantung pada manusia sebagai subjek.

   Secara simpel tentu saja perselingkuhan dalam rumah tangga berkaitan langsung dengan pasutri (pasangan suami isteri)  yang bersangkutan. Salah satu pihak pasutri yang berselingkuh pastilah dianggap sebagai pihak yang salah. Akan tetapi, tanpa bermaksud “membela” pihak “peselingkuh” tersebut, kita juga harus bisa melihat dan menilai secara objektif dan proporsional apa “latar belakang” dan “penyebab” orang tersebut melakukan perselingkuhan. Kita tak bisa memberi cap “peselingkuh” tersebut sebagai orang bejat, tidak bermoral, atau orang tak beragama. Karena realitanya, tak sedikit “peselingkuh” tersebut termasuk tipe suami/istri yang orang “baik-baik”, cukup taat beribadah, dan bukan tipe orang yang “gatel”, yang senangnya kelayapan dan lihai mencari “mangsa”.

   Ada banyak “motivasi” dan “latar belakang” pasutri melakukan perselingkuhan, yang sebenarnya hal tersebut merupakan indikator “ketidakberesan” di dalam rumah tangga mereka, walau sekecil apa pun. Berbagai beban, tekanan, dan problem hidup yang menumpuk dan bervariasi yang dialami pasutri di dalam rumah tangga mereka merupakan faktor utama; mulai dari masalah ekonomi, masalah anak, masalah “keluarga besar” (bisa dari keluarga salah satu pihak/malah kedua belah pihak), masalah psikis, komunikasi yang buruk, tempat tinggal terpisah di kota yang berjauhan, masalah pekerjaan, perbedaan status sosial dan pendidikan yang mencolok, perbedaan persepsi dan idealisme yang mencolok, “terjebak” pada rutinitas, kejenuhan, masalah seksual, dan masih banyak lagi.

   Semua masalah itu membuat rumah tangga pasutri mana pun menjadi rentan perselingkuhan, yang kalau dibiarkan begitu lama dan intens bisa menjadi bom waktu, yang sewaktu-waktu bisa “meledak” dan menghancurkan semua yang telah susah payah dibangun selama ini.

   Kehadiran WIL (wanita idaman lain) atau PIL (pria idaman lain), baik yang masih single, janda/duda, ataupun sama telah menikah, memang banyak dituding sebagai biang kerok terjadinya perselingkuhan di dalam rumah tangga. Tak sedikit istri yang langsung melabrak wanita selingkuhan suaminya, ataupun suami yang langsung ngamuk kepada pria selingkuhan istrinya, begitu mereka mengetahui perselingkuhan pasangannya. Tapi, benarkah semua “kesalahan” itu harus ditimpakan kepada para WIL atau PIL? Kalau memang rumah tangga mereka “baik-baik” saja, dan pasangan mereka pun “baik-baik” saja, kenapa sampai bisa masuk “orang ketiga” di tengah-tengah mereka?

   Kita tak bisa langsung memberi cap WIL atau PIL itu sebagai “wanita/pria penggoda”, home broker (perusak rumah tangga orang), orang brengsek, “gatel”, rendahan, tak bermoral, dsb. Karena meskipun banyak WIL atau PIL yang berkarateristik seperti itu, tapi tak sedikit juga WIL atau PIL itu yang orang “baik-baik”, cukup taat beribadah, berpendidikan, dan bukanlah tipe orang yang “liar” atau “binal”.

   Selain itu, kita juga tak bisa menuduh “motivasi” mereka adalah materi ataupun faktor ekonomi. Karena meskipun banyak WIL atau PIL yang memang pangeretan dan materialistik, yang bisanya hanya memanfaatkan uang atau harta selingkuhannya, tapi tak sedikit pula WIL atau PIL yang “rela” berselingkuh dengan suami atau istri orang lain yang jelas-jelas kere, boke, ataupun miskin. Tapi kenapa mereka mau juga melakukan perselingkuhan itu? Jelas, “motivasi” mereka bukanlah faktor materi.

   Mungkin bisa jadi mereka sedang mengalami krisis perhatian, kasih sayang, perlindungan, merasa benar-benar “kesepian”, kekosongan, benar-benar butuh “sandaran”, dan “teman berbagi”. Atau bisa jadi juga mereka menaruh suka, simpati, atau malah… jatuh hati. Bagaimana bila ternyata suami atau istri yang berselingkuh itu sama-sama jatuh hati, atau setidaknya sama-sama tertarik dengan WIL ataupun PIL-nya masing-masing? Bukankah itu adalah masalah yang substansial?

   Tapi… bukankah perasaan “cinta” kepada orang yang bukan “pasangan sah” tidak akan tumbuh subur dan merajalela, apabila kita bisa memupuk dan merawat cinta kepada “pasangan sah” kita? Dan itu tentu saja harus dilakukan oleh kedua belah pihak, bukan hanya salah satu pihak. Kesetiaan, kepercayaan, kejujuran, dan keterbukaan benar-benar harus menjadi “pilar” yang kokoh dalam berumah tangga, dan dilakukan oleh pasangan suami istri atas dasar keikhlasan, bukan karena “keharusan” dan “keterpaksaan” semata-mata.

   Letak permasalahan topik ini bukan pada “siapa yang salah”, karena hal tersebut justru akan menjadi polemik yang berkepanjangan dan tak ada titik temu. Yang terpenting dalam masalah ini adalah, apa penyebab dan latar belakang terjadinya perselingkuhan dalam rumah tangga tersebut, dan bagaimana solusi terbaik untuk menyelesaikannya, yang dilakukan oleh pasangan suami istri yang bersangkutan dan juga WIL/PIL-nya masing-masing, karena yang paling tahu persis permasalahannya dan yang mengalaminya langsung adalah mereka sendiri.

   Seperti apa pun solusi yang mereka tempuh, atau seperti apa pun ending dari perselingkuhan tersebut, sepatutnyalah dilakukan dengan cara-cara yang bijak, dewasa, bermartabat dan untuk kebaikan semua. Bukan dengan cara-cara yang barbar, kekanak-kanakan, arogan, dan egoistis. Jangan sampai masalah perselingkuhan yang merupakan masalah “besar” dalam rumah tangga, menjadi semakin “besar” dan “melebar” ke mana-mana, yang pada akhirnya bukan hanya aib kita yang terekspos kepada umum, tapi juga masalah “inti”-nya tidak akan terselesaikan, dan justru akan menyebabkan kehancuran, yang semakin menambah penderitaan, luka, dan air mata.

   Semoga pengetahuan ini dapat dipertimbangkan untuk kebaikan pasutri. (Hms.)


Sumber: www.Pikiran-rakyat.com

 

Minggu, 23 November 2014

4.Ten Thousands Angels.




TEN THOUSAND ANGELS

 

They bound the hands of Jesus in the garden where he prayed

They led him thru the streets in shame

They spat upon the savior so pure and free from sin

They said, "crucify him: he's to blame

 

Reff:

He could have called ten thousand angels

To destroy the world and set him free

He could have called ten thousand angels

But he died alone, for you and me

 

Upon his precious head they placed a crown of thorns

They laughed and said, "Behold the king"

They struck him and they cursed him and mocked his holy name

All alone he suffered everything

 

When they nailed him to the cross, his mother stood nearby,

He said, "Woman, behold thy son!"

He cried, "I thirst for water," but they gave him none to drink

Then the sinful work of man was done

 

To the howling mob he yielded: he did not for mercy cry

The cross of shame he took alone

And when he cried, "It’s finished," he gave himself to die

Salvation's wondrous plan was done

3. How Great Thou Art.

HOW GREAT THOU ART


O Lord my God, When I in awesome wonder,
Consider all the worlds Thy Hands have made;
I see the stars, I hear the rolling thunder,
Thy power throughout the universe displayed.


Reff:
Then sings my soul, My Saviour God, to Thee,
How great Thou art, How great Thou art.
Then sings my soul, My Saviour God, to Thee,
How great Thou art, How great Thou art!


When through the woods, and forest glades I wander,
And hear the birds sing sweetly in the trees.
When I look down, from lofty mountain grandeur
And see the brook, and feel the gentle breeze.


And when I think, that God, His Son not sparing;
Sent Him to die, I scarce can take it in;
That on the Cross, my burden gladly bearing,
He bled and died to take away my sin.


When Christ shall come, with shout of acclamation,
And take me home, what joy shall fill my heart.
Then I shall bow, in humble adoration,
And then proclaim: "My God, how great Thou art!"


BILA KULIHAT BINTANG GEMERLAPAN


1. Bila kulihat bintang gemerlapan dan bunyi guruh riuh kudengar,
   ya Tuhanku, tak putus aku heran melihat ciptaanMu yang besar.


  Reff:
Maka jiwaku pun memujiMu:
"Sungguh besar Kau, Allahku!"
Maka jiwaku pun memujiMu:
"Sungguh besar Kau, Allahku!


  2. Ya Tuhanku, pabila kurenungkan pemberianMu dalam Penebus,
      'ku tertegun: bagiku dicurahkan oleh PutraMu darahNya kudus.


  3. Pabila nanti Kristus memanggilku, sukacitaku amatlah besar,
      kar'na terkabullah yang kurindukan: melihat Dikau, Tuhanku akbar.

Sabtu, 22 November 2014

Pencobaan Membentuk Kedewasaan Rohani.

"Biarkanlan ketekunan itu  memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tidak kekurangan apapun." (Yakobus 1:4).


   Sebagai orang Kristen, hampir semua aspek kehidupan kita dipengaruhi oleh iman. Mulai dari hal-hal lebih besar seperti saat hendak menempuh ujian sekolah, melamar pekerjaan, mencari pasangan hidup, memilih tempat tinggal dan sebagainya, sampai kepada soal-soal yang dianggap sepele bagi banyak orang seperti saat mau mengadakan perjalanan atau hendak beristirahat tidur kita selalu melakukannya dengan berdoa lebih dulu. Mengapa? Karena kita percaya bahwa Allah mengendalikan hidup kita dan bahwa hidup kita bergantung kepada-Nya sehingga kita harus senantiasa berserah pada kehendak-Nya.

    Yakobus mengatakan bahwa iman bertumbuh melalui "berbagai-bagai pencobaan" (1:2) yang "menghasilkan ketekunan" (ay. 3), dan pada gilirannya ketekunan [=kesabaran; ketabahan] itu akan memperoleh "buah yang matang" sehingga dengan demikian kita "menjadi sempurna" (ay. 4). Cobaan-cobaan itu sendiri tidak menghasilkan iman, melainkan melatih kesabaran kalau cobaan-cobaan itu diterima dengan iman. Melalui proses itulah maka iman kita bertumbuh mencapai kesempurnaan. Sebaliknya, jika cobaan-cobaan itu dihadapi dengan sikap menggerutu dan mengeluh, gantinya menghasilkan ketabahan hal itu akan menimbulkan kepahitan dan kekecewaan. Itulah sebabnya sang rasul menasihati kita agar menganggap cobaan-cobaan itu "sebagai suatu kebahagiaan" (ay. 2).


   Pepatah Rusia mengatakan: "Palu menghancurkan kaca, tetapi palu membentuk Baja.".  Hal ini menggambarkan bahwa jika jiwa kita  rentan dan rapuh maka ketika tertimpa pencobaan akan hancurlah dia.  Sebaliknya, bila jiwa kita kuat seperti baja, pencobaan akan membentuk kita sebagai manusia yang tahan uji.  Yakobus menyatakan bahwa orang beriman justru harus memanfaatkan pencobaan untuk bertumbuh ke arah Tuhan, berdoa untuk mendapatkan hikmat, dan agar dalam pergumulan hidup yang berat justru iman menjadi tahan uji.  Para pembaca surat Yakobus saat itu  ada yang miskin dan ada pula yang menerima berbagai tekanan karena iman. Pencobaan mereka meliputi masalah materil, sosial, moral dan juga spiritual.  Melalui ujian, iman berkesempatan untuk berakar, membentuk kualitas ketekunan. Apabila proses ini dijalani dengan benar, iman seseorang akan semakin dewasa dan matang.  Hubungannya dengan Tuhan pun semakin akrab sehingga karakternya makin serasi atau semakin harmonis dengan karakter Tuhan.  Itulah sebabnya orang Kristen dapat bersukacita waktu mengalami pencobaan karena hal itu memurnikan iman.

    Tujuan Allah bagi kita ialah 'supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun' (Yak. 1:4). Tidak ada bahasa yang lebih luhur. Kata sempurna (teleios) berarti kedewasaan rohani, sedangkan utuh (holokleros) merujuk kepada keutuhan dalam segala hal. Sungguh, kita dapat menjadi jauh lebih utuh di dalam Tuhan jika kita mau mati untuk diri sendiri dan mengizinkan Dia bekerja dalam diri kita 'baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya' (Flp. 2:13).


   Dalam situasi sedang dicobai, orang beriman sangat perlu hikmat. Dalam perspektif Alkitab, hikmat adalah kesalehan yang terjadi karena seseorang selalu menggunakan pola pikir Allah dalam bertindak dan berperilaku dan hidup dekat dengan Allah. Jika kita hidup dekat dengan Allah, saat menghadapi pencobaan, kita akan seperti baja sehingga pencobaan tersebut akan menghasilkan kematangan iman.  Segala sesuatu yang terjadi dipakai Tuhan untuk kebaikan kita sehingga mendatangkan kemuliaan bagi-Nya.

Jumat, 21 November 2014

1-2. Ku Tak Dpt Jalan Sendiri-Never G.Old




 

                                           KU TAK DAPAT JALAN SENDIRI


BILA KU JALAN DI LEMBAH YANG GLAP
RA SA ASINGLAH JA LANKU
TUHANKU PERLU PERTOLONGANMU
SBAB KU TAK DAPAT JALAN SENDIRI

REFF:
KU TAK DAPAT JALAN SENDIRI
TUHAN TOLONGLAH DAKU
BIARLAH FIRMAN-MU MENERANGIKU
S’BAB KU TAK DAPAT JALAN SENDIRI.

INTRO….. REFF: KU DAPAT JALAN….
TIADA ORANG YANG MEMBIMBING AKU
BE BAN MENINDIH HI DUPKU
JALANLAH TUHAN DEKAT PADAKU
S’BAB KU TAK DAPAT JALAN SENDIRI

REFF: KU TAK DAPAT JALAN SENDIRI…

                          NEVER GROW OLD


I HAVE HEARD OF A LAND, ON THE FAR AWAY STRAND

‘TIS A BEAUTIFUL HOME OF THE SOUL
BUILD BY JESUS ON HIGH, THERE WE NEVER SHALL DIE
‘TIS A LAND WHERE WE NEVER GROW OLD.


REFF: 2X

NEVER GROW OLD, NEVER GROW OLD
IN A LAND WHERE WE’LL NEVER GROW OLD
IN THAT BEAUTIFUL HOME, WHERE WE’LL NEVER MORE ROAM
WE SHALL BE IN THE SWEET BY AND BY

HAPPY PRAISE TO THE KING THRU ETERNITY SING
‘TIS A LAND WHERE WE NEVER GROW OLD
WHEN OUR WORK HERE IS DONE AND THE LIFE CROWN IS WON
AND OUT TROUBLES AND TRIALS  ARE O’ER
ALL OUR SORROWS WILL END AND OUR VOICES WILL BLEND
WITH THE LOVED ONE WHO’VE GONE ON BEFORE.