Rabu, 15 April 2015

Bagai Katak Dibawah Tempurung.

  
   Bagai Katak Dibawah Tempurung, sepertinya kalimat bijak. Bagai Katak Dibawah Tempurung adalah asli tercipta di Indonesia, karena di Indonesia memang terdapat banyak jenis katak dan juga tempurung bertaburan dimana-mana dan jangan heran bahwa Indonesia dulunya dikenal dengan negri nyiur melambai. Yang dimaksud tempurung adalah kulit keras dari kelapa atau batok kelapa.   Memang ada juga bahan lain yang disebut tempurung, seperti tempurung kepala atau tengkorak, jadi yang dimaksud disini adalah tempurung kelapa, bukan tempurung kepala. Masyarakat pantai dimana banyak tumbuh pohon kelapa biasanya banyak juga yang mengolah kelapa ini menjadi kopra yaitu daging kelapa yang dikeringkan, untuk selanjutnya dapat diproses menjadi berbagai macam keperluan, utamanya menjadi minyak goreng yang disebut minyak kelapa. Buah kelapa yang akan diambil dagingnya biasanya dikupas kulit serabutnya sehingga terlihat batok kelapa berbentuk bulat dengan kelapanya masih terdapat di dalamnya. Batok kelapa ini kemudian dibelah dua lalu dijemur di panas matahari. Setelah relative kering maka daging kelapa dicungkil untuk mengambil kopranya.   Batok kelapa inilah yang sering di tumpuk sebelum digunakan untuk keperluan lainnya. Katak ataupun sering disebut dengan kodok adalah hewan amfibi yang sangat terkenal di Indonesia.     


   Mungkin tidak seorangpun yang tidak mengenal kodok atau katak. Sangkin terkenalnya sehingga banyak istilah yang disebutkan dengan kata katak atau kodok, sebut saja misalnya Pasukan Katak, Lompat Kodok, termasuk syair-syair beberapa lagu ada menyebutkan kata kodok atau katak, baik untuk lagu anak-anak bahkan untuk lagu dewasa. Bukan hanya dalam istilah-istilah atau lagu-lagu, tetapi katakpun menjadi makanan yang dikatakan cukup lezat, bahkan orang cina menyebutnya sebagai ayam air atau swie kee. Bukan hanya manusia yang doyan dengan daging katak tetapi katak juga menjadi mangsa dari ular, kadal, elang, dan binatang lainnya. Kehidupan katak juga sungguh istimewa dan boleh dibilang sangat mengagumkan. Olehkarena semua mahluk hidup bermula dari air maka demikianpula dengan katak. Katak bertelur di air dengan membungkus telur-telurnya dengan lendir. Tetapi ada juga jenis katak yang bertelur di lumut atau bahkan dipunggungnya sendiri, tetapi secara umum kita sebut saja katak yang bertelur di air. Bila telur menetas maka telur ini disebut berudu atau kecebong yang hidupnya sama seperti ikan yang berenang-renang di air, bahkan berudu ini bernafas dengan insang juga. Setelah puas berenang-renang seperti ikan, maka akan tumbuh kaki belakang walau tetap berenang di air dengan menggunakan kaki belakangnya. Selanjutnya kaki depan tumbuh dan lambat laun ekornyapun hilang. Sejalan dengan itu fungsi insang berubah dengan paru-paru. Maka sang katak melompat ke darat.
   Kehidupan katak sering juga diamati oleh para ahli sebagai indikator untuk mengetahui kondisi suatu lingkungan. Apabila populasi katak berkurang disuatu habitat lingkungan maka dicurigai ada pencemaran lingkungan. Demikianlah tempurung, demikian pula katak menjadi kata-kata yang dirangkai menjadi sebuah peribahasa yang disebut Bagai Katak Dalam Tempurung.

 Lalu apa sebenarnya yang perlu kita ketahui dari makna dibalik peribahasa tersebut? Pernahkah anda sewaktu masih usia belia diceritakan tentang Lima Orang Buta Dengan Seekor Gajah? Sebut saja kelima orang buta tersebut A, B, C, D, E yang berupaya menjelaskan tentang bentuk seekor gajah. Si-A mengatakan bahwa bentuk gajah adalah seperti pohon kelapa karena ia pernah memegang kaki gajah yang memang mirip seperti sebatang kelapa. Si-B mengatakan bahwa bentuk gajah adalah seperti tampi (alat dari anyaman bambu yang digunakan untuk membersihkan beras dari sekam), karena dia pernah memegang kuping gajah yang lebar itu. Si-C mengatakan bahwa bentuk gajah adalah seperti tanduk karena dia memang pernah memegang gading gajah yang memang seperti tanduk. Si-D mengatakan bahwa bentuk gajah adalah seperti selang karet yang besar karena dia memang pernah memegang belalai gajah. Si-E mengatakan bahwa bentuk gajah adalah seperti pecut atau cambuk karena dia memang pernah memegang ekor gajah yang mirip pecut. Tidak perlu kita membuat argumentasi atas cerita ringan ini akan tetapi cerita ini merupakan kiasan bagi orang yang pada dasarnya tidak mengetahui akan sesuatu hal secara menyeluruh tetapi dia tetap mengatakan bahwa dialah yang paling benar. Bila Si A, B, C, D, E mempertahankan kebenarannya maka mereka dapat disebut Bagai Katak Dibawah Tempurung. Mungkin anda pernah melihat sebuah cangkir tempat minum raja dari jarak tertentu dan anda merasa yakin dan mempertahankan bahwa cangkir itu murni berbentuk silinder, tetapi pelayan pribadi sang raja mengatakan bahwa cangkir itu memiliki telinga, lalu anda tetap bertahan mengatakan bahwa cangkir raja itu benar berbentuk silinder tanpa memiliki telinga, karena anda sangat yakin dengan apa yang anda lihat sendiri. maka anda dapat dikatakan Bagai Katak Dibawah Tempurung. Anda tetap mempertahankan penglihatan anda yang mengatakan bahwa di landasan pacu pesawat terbang di bandara sedang terjadi genangan air pada saat terik matahari, sementara semua orang mengetahui bahwa itu adalah efek pantulan dari lapisan udara yang terdapat dipermukaan landasan pacu yang menyerupai genangan air, tetapi anda lebih meyakini pandangan mata anda sendiri sebagai pendapat yang tak mau dibantah. Maka anda dapat disebut seorang Bagaikan Katak Dibawah Tempurung. Bila anda dibawa ke sebuah tempat yang gelap gulita sehingga pandangan anda hanya sebatas mata anda saja, lantas anda mengatakan ditempat itu tidak ada apa-apa. Karena anda hanya mempercayai apa yang terlihat oleh mata anda sendiri, maka anda akan menyangkal apa yang dikatakan oleh banyak orang bahwa banyak hal yang ada di tempat gelap gulita itu. Sikap anda yang menyangkal apa yang dikatakan oleh orang-orang dapatlah disebut bahwa anda adalah seorang Bagai Katak Dibawah Tempurung. Anda dibawa ke sebuah tempat yang terang benderang dan mata anda dapat melihat apa saja yang terlihat di tempat itu. Lalu bila ada orang lain yang mengatakan bahwa di tempat yang anda lihat itu ada hal lain yang tidak anda lihat lantas anda akan menyangkal bahwa itu tidak benar. Anda sangat yakin mengatakan bahwa yang anda lihatlah yang ada disitu, sementara semut yang ada dicelah-celah atau katakan kuman atau virus yang kasat mata tidak akan anda akui ada ditempat itu. Anda dapat dikatakan sebagai seorang Bagaikan Katak Dibawah Tempurung. Banyak hal yang dapat digambarkan untuk menjelaskan arti ungkapan Bagai Katak Dibawah Tempurung. Banyak orang yang terkondisi pada suatu lingkungan, suasana, masa, dimana egosentris lebih mengemuka pada dirinya. Mungkin anda adalah seorang yang sudah terpaku kepada kiasan-kiasan yang mengatakan: Mata adalah pelita hati, Lihat Dulu Baru Percaya, Percaya Diri Berlebih (Over confidence), Selfish, Egoist, sehingga anda merasa yang paling benar terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak anda ketahui, maka anda akan menjadi seorang Bagaikan Katak Dibawah Tempurung. Sesaat kecebong bertumbuh kaki, terputus ekor, berubah insang dengan paru-paru, dan melompatlah sang katak kecil ke tumpukan tempurung dan katak itupun tertutup dibawah tempurung itu. Sang katak kecil masih hidup di dalam kegelapan di bawah tempurung itu. Sang katak kecil masih dapat bertumbuh menjadi besar karena ada semut-semut yang menjadi mangsanya, adapula nyamuk-nyamuk yang nyelonong, adapula cacing-cacing yang nongol mencari kelembaban semuanya menjadi mangsa katak sehingga bertumbuh menjadi besar dan punggung sang katat sudah menyentuh cekungan tempurung paling atas. Sang katak menganggap dirinya sudah sampai di langit karena punggungnya dianggap sudah menyentuh langit, maka diapun menjadi pongah, congkak, menganggap tau segala, padahal dia adalah benar-benar Sang Katak Dibawah Tempurung.
   Apakah anda seorang Bagai Katak Dibawah Tempurung? Pada dasarnya anda tidak mampu melihat siapa diri anda sendiri akan tetapi orang lain tentu mengetahui bahwa anda mungkin hanyalah seseorang yang hanya berada dalam tempurung, lingkungan terbatas, tidak mengetahui dunia luar, menganggap diri sudah sampai dilangit, dan banyak lagi sebutan yang menggambarkan siapa diri anda. Kalau jawabannya YA, sebaiknya anda keluar dari habitat tempurung itu, lihatlah lingkungan yang lebih besar, lihat dunia luar supaya anda tidak Bagai Katak Dibawah Tempurung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar