Kamis, 06 Desember 2018

Wahyu Kepada Yohanes (Bagian 42-43)


Related image
WAHYU KEPADA YOHANES (Bagian 42)

“…Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari POHON KEHIDUPAN yang ada di Taman Firdaus Allah” (Wahyu 2:7)

ORANG KRISTEN YANG TEKUN DAN SETIA SAMPAI AKHIR  AKAN MENEMUKAN HIDUP BERKELIMPAHAN DI SORGA.
“Allah menawarkan kepada para pemenang di Efesus suatu hadiah istimewa.  Mereka akan memakan buah pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah. Jika dituntut pertobatan yang jauh lebih mendalam untuk dapat memakan buah pohon itu, itu tidaklah sia-sia.  Imbalannya jauh lebih besar dibandingkan pengorbanan yang dituntut.(Wahyu 22:2).  Pemerintahan Tuhan digambarkan oleh kitab Wahyu sebagai “pohon kehidupan”.  Disana sang pemenang akan menemukan hidup berkelimpahan yang tak pernah ada akhirnya.  1)
   “Kepada yang menang akan diberi makan dari pohon kehidupan –Melukiskan bahwa orang-orang percaya yang menang atas bujukan rasul-rasul dan guru-guru palsu untuk memakan dari pohon pengetahuan manusiawi, akan makan dari pohon kehidupan di Eden yang akan dikembalikan kelak”  (E.G. White, Patriach and Prophets, hlm.62).  2)
‘Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang    ada di Taman Firdaus Allah’.
a)   ‘Barangsiapa menang’.
·        Homer Hailey (hal 118) mengatakan bahwa kata ‘menang’, dalam bahasa Yunaninya adalah NIKAO, yang merupakan kata favorit dari rasul Yohanes. Kata ini muncul 28 x dalam Perjanjian Baru, dan 24 diantaranya digunakan oleh rasul Yohanes (1 x dalam Injil Yohanes, 6 x dalam 1Yohanes, dan 17 x dalam Kitab Wahyu).
·        George Eldon Ladd: “The idea of conquering suggests warfare. The Christian life is an unrelenting warfare against the powers of evil” (= Gagasan tentang ‘menang / mengalahkan’ memberikan kesan suatu peperangan. Hidup Kristen merupakan suatu perang yang tidak ada hentinya melawan kuasa kejahatan) - hal 40.
Dan mengingat bahwa kata-kata / janji tentang ‘barang siapa menang’ ini ada dalam ketujuh surat dalam Wah 2-3 (2:7,1117,26  3:5,12,21), maka jelas bahwa tidak ada gereja yang tidak perlu berperang.
·        Orang yang menang adalah orang kristen yang setia dan bertekun sampai akhir dalam berperang melawan setan dan dosa dan dalam mengasihi Kristus.
Robert H. Mounce (NICNT): Pemenang dalam Kitab Wahyu bukanlah orang yang telah mengalahkan musuh duniawi dengan kekuatan, tetapi orang yang tetap setia kepada Kristus sampai akhir. Kemenangan yang ia capai analog dengan kemenangan Kristus pada kayu salib”. - hal 90.
·        Bandingkan dengan 1Yoh 5:4 - “Perintah-perintahNya itu tidak berat, sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita”.
Jadi, sekalipun Wah 2:7 ini mengatakan ‘barangsiapa menang’ tetapi sebetulnya bagi orang kristen kemenangan itu dijamin. Adanya jaminan membuat kita bisa mempunyai damai dan sukacita di tengah-tengah peperangan, tetapi adanya kata-kata ‘barangsiapa menang’ mengharuskan kita tetap berperang habis-habisan, dan bukannya bersikap santai karena toh sudah dijamin.
b)   ‘Taman Firdaus Allah’.
KJV/RSV/NIV/NASB: ‘the paradise of God’.
Penggunaan kata ‘paradise’:
1.   Dalam Septuaginta atau Perjanjian Lama berbahasa Yunani, kata ini mempunyai 2 penggunaan:
·        Ini digunakan untuk menunjuk pada Taman Eden (Kej 2:8  3:1).
·        Ini digunakan untuk menunjuk pada taman / kebun yang megah / indah (Yes 1:30  Yer 29:5  Pengkhotbah 2:5).
2.      Dalam pemikiran orang kristen mula-mula dianggap bahwa semua orang mati akan pergi ke suatu tempat penantian, dan tinggal di sana sampai penghakiman terakhir. Tetapi di sana ada satu tempat khusus bagi para tokoh Kitab Suci dan nabi-nabi, dan tempat ini disebut ‘paradise’. Tertullian menganggap bahwa hanya ada satu golongan orang yang langsung masuk ke ‘paradise’ ini, yaitu para martir. Ia berkata:
“The sole key to unlock paradise is your own life’s blood” (= Satu-satunya kunci untuk membuka firdaus adalah darahmu sendiri) - William Barclay, hal 70.
Barclay lalu mengatakan:
“The great early thinkers did not identify paradise and heaven; paradise was the intermediate stage, where the souls of the righteous were fitted to enter the presence of God” (= Para pemikir mula-mula yang besar tidak menyamakan firdaus dengan surga; firdaus adalah tingkat di tengah-tengah, dimana jiwa dari orang benar disesuaikan untuk masuk ke hadirat Allah) - hal 71. 
3.   Pada akhirnya orang-orang kristen mengidentikkan ‘paradise’ dengan ‘surga’.
Dasarnya:
·        Luk 23:43 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus”.
Padahal waktu Yesus mati, Ia menyerahkan rohNya kepada Bapa (Luk 23:46), yang menunjukkan bahwa Ia pergi ke surga. Jadi jelas bahwa ‘Firdaus’ yang Ia maksudkan juga adalah surga.
·        Wah 2:7 ini mengatakan bahwa pohon kehidupan ada di Taman Firdaus Allah. Tetapi Wah 22:2,14 menunjukkan bahwa pohon kehidupan itu ada di surga (ingat bahwa mulai Wah 21:9 rasul Yohanes menggambarkan surga).
·        2Kor 12:2-4 - “Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau - entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya - orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga. Aku juga tahu tentang orang itu, - entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya - ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia”.
Mula-mula Paulus berkata bahwa orang itu (Catatan: yang ia maksudkan sebetulnya adalah dirinya sendiri) diangkat ‘ke tingkat yang ketiga dari sorga’, tetapi sebentar lagi ia mengatakan bahwa orang itu diangkat ‘ke Firdaus’. Kalau Firdaus bukan surga maka di sini terjadi suatu kontradiksi!
c)   Seluruh kalimat ‘Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah’ ini artinya adalah: orang yang menang akan mendapatkan hidup yang kekal di surga.
Robert H. Mounce (NICNT): Firdaus Allah dalam Kitab Wahyu menyimbolkan keadaan eschatologi / akhir jaman dalam mana Allah dan manusia dipulihkan kepada suatu persekutuan yang sempurna yang ada sebelum masuknya dosa ke dalam dunia”. - hal 90. 3)
1.   Jon Paulien, “Kabar Baik Dari Patmos”, Bandung: Indonesia Publishing House, 2007. hlm 51.
2.   DR. U. Aritonang, Tafsiran Buku Wahyu: Universitas Advent Indonesia Cisarua -Bandung, 1988 hlm.10.
3.   Pdt. Budi Asali M.Div- Eksposisi Wahyu kepada Yohanes.
                                
                            WAHYU KEPADA YOHANES  (Bagian 43)
“Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Smirna: Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali : AKU TAHU KESUSAHANMU DAN KEMISKINANMU – NAMUN ENGKAU KAYA” (Wahyu 2:8,9).
KEKAYAAN SEJATI HANYA DITEMUKAN DI DALAM KRISTUS.
“ Para komentator kebanyakan sepakat bahwa kemiskinan dalam ayat diatas bersifat harfiah, sementara kekayaan bersifat rohani.   Orang-orang Smirna itu miskin dalam hal kekayaan dunia, tetapi mereka kaya dalam kebaikan-kebaikan Injil, kaya dalam hal-hal rohani.   Dalam pengertian praktis, ada perbedaan yang sangat besar antara kemiskinan dan kekayaan.  Orang-orang yang dilahirkan kaya memiliki mentalitas sangat berbeda dengan orang kebanyakan.  Bagi kebanyakan kita, keterbatasan finansial memengaruhi hampir setiap keputusan yang kita buat.  Kita memilih restoran-restoran yang tidak mahal untuk makan siang.  Namun jemaat Smirna telah menemukan kekayaan dalam bentuk yang lain, kekayaan yang jarang sekali didapat oleh orang-orang kaya.(Matius 19:24).  Mereka yang mengenal Yesus dimerdekakan dari perbudakan UANG.  Mereka sadar bahwa kita menemukan kekayaan sejati dalam hidup ini melalui hubungan yang mengasihi.  Memiliki hati nurani yang bersih, mampu mengampuni dan diampuni, itulah kekayaan yang sejati.  Jauh lebih baik mengenal Firman Allah daripada beralih dari satu bentuk hiburan ke hiburan yang lain.  Kenyataannya adalah bahwa orang-orang kaya mengalami kesulitan dalam hal hubungan.  Mereka tidak tahu siapa yang bisa mereka percayai.  Setiap orang ingin menjadi “sahabat mereka” bukan dikarenakan kualitas pribadi tetapi dikarenakan menjadi sahabat seorang kaya adalah jalan menuju kepada kekayaan dan kekuasaan.  Orang-orang kaya menghindari hubungan dengan Kristus, kadang karena mereka terlalu banyak urusan atau terlalu sibuk dan karena mereka takut terhadap panggilan untuk “menjual segala milik” dibandingkan orang-orang miskin.  Kekayaan yang sejati ditemukan di dalam Kristus, bukan dalam kekayaan materi”. 

   “Bagaimana seorang Kristen bisa miskin dan kaya pada saat yang bersamaan?.  Bagaimana kita harus menyambut penderitaan dan kesukaran sebagai suatu kekayaan (Yak.1:2)?.  Dalam kehidupan sehari-hari orang Kristen tidak menonjol sama sekali, bahkan tampak sangat payah dibanding rata-rata orang duniawi.  Namun saat pencobaan dan tekanan-tekanan dalam hidup mulai muncul barulah seorang Kristen sejati mulai bercahaya.  Saat kita belajar untuk tetap dekat dengan Allah di dalam pencobaan, Dia merancang kita kembali supaya kita bisa terbang lebih tinggi dan lebih cepat daripada yang bisa kita bayangkan.  Seandainya kehidupan kita lebih mudah, kita tidak akan pernah menemukan kepenuhan yang kita dapatkan dengan “terbang menurut kecepatan Allah.” 1)

“Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Smirna:
   “Smirna, sekarang Izmir, merupakan salah satu kota yang permai di Asia Kecil…. Umat Kristen di Smirna telah menyaksikan lebih banyak penderitaan dibandingkan kota-kota lain di kawasan ini.” SDA Bible Commentary,jil.7,hal.91-93.
   Kemiskinan, penganiayaan, pemenjaraan, dan mati syahid menimpa jemaat Kristen selama jangka waktu dari tahun 100-313 Masehi.  Pada umumnya mereka yang menerima baik Injil itu adalah orang-orang yang secara ekonomi miskin dan keadaan sosialnya kurang menguntungkan.  Para penyembah berhala memburu dan menganiaya mereka sekehendaknya.  Tetapi perlakuan yang paling kejam datang dari lingkungan kaum Yahudi.  Banyak orang Kristen yang bertobat itu berasal dari penganut Yudaisme”.  2)

SMIRNA-MYRTH – PARFUM ATAU BAU HARUM (100-323)-Ayat 8-11.

A.   Kota terkenal di Asia Kecil karena perdagangannya.
1.   Begitu harum, sehingga:
a.    Kaisar Konstantin bertobat menjadi orang Kristen pada tahun 323.
b.   Dia mengakhiri penganiayaan terhadap orang Kristen.
c.    Dia menyokong pekabaran Injil.
2.   Tidak ada catatan kapan dan oleh siapa jemaat dimulai di Smirna.
B.   Sumber berita: Yang awal dan yang akhir, yang telah mati dan hidup kembali.
1.   Yang awal dan akhir- Melukiskan sifat kekekalan Tuhan.
2.   Yang mati dan hidup kembali—Melukiskan kebangkitan Yesus Kristus yang merupakan jaminan kebangkitan orang-orang percaya.
C.   Pujian: Aku tahu kesusahan dan kemiskinanmu, namun engkau kaya, dan fitnah mereka yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi sebenarnya adalah jemaat Iblis – Melukiskan bahwa zaman Smirna terkenal dengan abad mati syahid.
1.   Aku tahu kesusahanmu- Melukiskan penderitaan dan kesulitan yang diderita orang-orang percaya karena penganiayaan yang dijalankan kaisar-kaisar Romawi, seperti: Trajan, Hadrian, Marcus Aurelius, Decius, Valerian, dan Diocletian (284-305).
2.   Kemiskinan – Melukiskan keadaan ekonomi yang tidak seimbang dengan kota-kota tetangganya.
3.   Namun kaya – Melukiskan kekayaan rohani atau iman yang begitu semerbak karena kasih dan penyerahan mereka.   3)

Ay 8: “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Smirna: Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali”.
1)   ‘Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Smirna’.
a)   Kota Smirna.
·        dalam hal ukuran ini adalah kota terbesar kedua, sedangkan dalam hal keindahan ia menduduki tempat pertama.
Steve Gregg: “Smyrna (modern Izmir) was the second largest and reputedly the most beautiful city in Provincial Asia and is the only city of the seven that is still in existence today” [= Smirna (Izmir modern) adalah kota terbesar kedua dan dikatakan orang sebagai kota terindah di propinsi Asia, dan satu-satunya kota dari tujuh kota yang tetap ada pada hari ini] - hal 66.
·        kesetiaan kepada Roma dan kesombongan kota Smirna.
Homer Hailey: Smirna menyekutukan dirinya dengan Roma pada masa yang sangat awal dari penaklukan Romawi, dan akibatnya ia menikmati kemakmuran yang hampir tak ada putusnya. Sebagai pernyataan dari kesetiaannya kepada Roma, kota ini mendirikan kuil bagi Roma, dewi Romawi, pada tahun 195 S.M.; dan di bawah pemerintahan Tiberius (14-37 M.) Smirna dipilih sebagai tempat untuk kuil bagi Tiberius”. - hal 125.
Homer Hailey: Kota ini mengclaim menjadi kota pertama di Asia, yang pertama dalam keindahan, yang pertama dalam literatur, yang pertama dalam kesetiaan kepada Roma. ... Karena Smirna mengclaim sebagai yang pertama dan tidak membolehkan adanya saingan, Yesus memperkenalkan dirinya dengan nama / gelar ini, ‘Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali’ (bdk. 1:17-dst). KeunggulanNya harus diakui secara universal; Smirna harus merevisi semua claimnya yang ambisius”. - hal 125.
Catatan: Agak diragukan kebenaran bagian akhir kata-kata ini, karena surat ini ditujukan kepada orang kristen di Smirna bukan kepada orang kafirnya, sedangkan yang mengclaim Smirna sebagai kota pertama rasa-rasanya adalah orang kafirnya.
·        toleransi terhadap kekristenan di kota Smirna.
Pulpit Commentary: Ada lebih banyak orang kristen di Smirna dari pada di kota orang Turki manapun di dunia; dan karena itu kota ini secara khusus adalah kota yang najis di mata orang Islam yang ketat, yang menyebutnya Giaour Izmir, atau Smirna yang kafir. Toleransi agama selalu lebih diijinkan sepenuhnya di Smirna dari pada di kota lain manapun juga yang ada di bawah kontrol orang Islam, dan jarang sekali kefanatikan orang Turki ditujukan menentang orang-orang Eropa. Smirna merupakan pusat yang besar bagi usaha misionaris; dan di Smirna terang kekristenan tidak pernah padam sejak jaman rasul-rasul”. - hal 98.
b)   Gereja Smirna.
John Stott: “We do not know when it was founded. It is mentioned neither in the Acts nor in the New Testament epistles, although an early tradition states that the apostle Paul visited the town on his way to Ephesus at the beginning of his third missionary tour” (= Kita tidak tahu kapan gereja Smirna didirikan. Gereja Smirna tidak disebutkan baik dalam Kisah Rasul maupun dalam surat-surat Perjanjian Baru, sekalipun tradisi yang mula-mula menyatakan bahwa rasul Paulus mengunjungi kota ini dalam perjalanannya ke Efesus pada permulaan dari perjalanan misionarisnya yang ketiga) - hal 36.
Ay 9: “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu - namun engkau kaya - dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian: sebaliknya mereka adalah jemaah Iblis”.
1)   ‘Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu - namun engkau kaya’.
a)   Dalam KJV ada tambahan ‘works’ (= pekerjaan).
KJV: ‘I know thy works, and tribulation, and poverty’ (= Aku tahu pekerjaan, dan kesusahan, dan kemiskinanmu).
KJV melakukan hal yang sama dengan Wah 2:13. Tetapi ini salah. Baik untuk gereja Smirna maupun gereja Pergamus, tidak ada kata-kata ‘thy works’ (= pekerjaanmu). Mungkin penderitaan dan penganiayaan yang mereka alami itu begitu hebat sehingga tidak memungkinkan mereka bekerja bagi Tuhan / melayani Tuhan.
Pulpit Commentary: “Other epistles begin, ‘I know thy works.’ This and the next begin, ‘I know thy tribulation.’ It is possible for a Church so to be placed that activity is out of the question. Endurance may be the only possible form of service” (= Surat-surat lain mulai dengan ‘Aku tahu pekerjaanmu’. Surat ini dan yang berikutnya mulai dengan ‘Aku tahu kesusahanmu’. Adalah mungkin bagi sebuah Gereja untuk ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak mungkin melakukan aktivitas. Ketahanan / ketekunan mungkin merupakan satu-satunya bentuk pelayanan yang dimungkinkan) - hal 71.
Pulpit Commentary: Kristus menilai Gereja-gerejaNya berdasarkan keberadaan / apa adanya mereka, dan juga berdasarkan apa yang mereka lakukan. Jika pencobaan mereka begitu rupa sehingga apa yang bisa mereka lakukan hanyalah memikul / menahannya, dan menunggu waktu Allah sendiri - baiklah. Jadi, jika pada usia lanjut orang Kristen mendapati bahwa mereka kehilangan kekuatan mereka untuk melakukan pelayanan aktif, sekalipun mereka melakukan lebih sedikit, keberadaan mereka mungkin dianggap lebih. Bukan hanya perlu bagi kita untuk menggerakkan orang kristen yang malas kepada aktivitas, tetapi juga perlu untuk menunjukkan kepada orang-orang percaya bahwa mereka bisa menyenangkan, melayani, dan memuliakan Tuhan mereka melalui keberadaan mereka dan juga melalui apa yang mereka lakukan. Bisa saja ada banyak aktivitas dengan kehidupan di dalam yang banyak cacatnya. Tetapi jika ‘keberadaannya’ benar, ‘tindakan’ yang benar juga pasti akan mengikuti”. - hal 71.
b)   ‘kesusahanmu’.
Di sini kembali digunakan kata Yunani THLIPSIS yang telah dibahas dalam Wah 1:9.
John Stott: “If the first mark of a true and living church is love, the second is suffering” (= Jika tanda pertama dari gereja yang benar dan hidup adalah kasih, maka tanda kedua adalah penderitaan) - hal 35.
John Stott menunjukkan banyak ayat Kitab Suci yang menunjukkan bahwa orang kristen / gereja yang benar pasti mengalami banyak penderitaan, seperti  Mat 5:10-12  Luk 6:26  Yoh 15:18,20  Yoh 16:33  2Tim 3:12  Fil 1:29 dsb. Lalu John Stott berkata:
Kebenaran yang buruk adalah bahwa kita cenderung untuk menghindari penderitaan dengan kompromi. Standard moral kita seringkali tak kelihatan lebih tinggi dari standard duniawi. Kehidupan kita tidak menantang dan menegur orang-orang yang tidak percaya melalui kejujuran / ketulusan atau kemurnian atau kasih. Dunia tidak melihat apapun dalam diri kita untuk dibenci. ... Kita jarang berani menegur kejahatan. Kita mengurus urusan kita sendiri supaya orang lain tidak tersinggung. Kita mengekang lidah kita sendiri supaya tidak ada orang lain yang merasa malu. ... Rasa takut kepada manusia telah menjerat kita. Kita menyesuaikan layar kita kepada angin theologia yang kuat. Kita mengencerkan injil supaya rasanya lebih enak. Kita mencintai pujian manusia lebih dari pujian Allah. Kita terhindar dari penderitaan melalui kompromi. ... Seandainya kita menaikkan standard kita dan menghentikan kompromi kita? Seandainya kita memberitakan berita kita dan memperketat disiplin kita dengan kasih tetapi tanpa takut? Aku memberitahumu apa akibatnya: Gereja akan menderita”. - hal 43,44,45.
John Stott (hal 36-37) mengatakan bahwa penderitaan orang Kristen di Smirna adalah penganiayaan. Sekalipun tidak diceritakan alasan penganiayaan itu, tetapi Stott mengatakan bahwa alasannya mudah ditebak. Karena adanya kuil untuk Roma di Smirna, maka penolakan penyembahan terhadap kaisar dsb menyebabkan orang kristen Smirna dianiaya.
c)   ‘Aku tahu kesusahanmu’.
·        John Stott: Ini adalah penghiburan yang besar dan manis. Salah satu kebutuhan terbesar kita dalam kesukaran adalah seseorang kepada siapa kita bisa menceritakan / mensharingkannya. Kita ingin melepaskan beban kita kepada seseorang yang mengerti. Yesus Kristus adalah penghiburan dunia yang terbesar. ... Betapapun dalamnya kesedihan kita atau betapapun besarnya penderitaan kita, Ia tahu dan peduli”. - hal 47.
·        Beasley-Murray: Tuhan tahu tentang situasi ini, tetapi Ia tidak mau ikut campur. Ia tidak membuang kemiskinan mereka, Ia tidak membela pengikut-pengikutNya menghadapi fitnahan orang-orang Yahudi, juga Ia tidak menggagalkan rencana busuk Setan yang akan menimbulkan pemenjaraan dan kematian bagi beberapa orang. Ia hanya menguatkan hati mereka untuk bertahan. Mengapa tidak lebih dari ini? Penulis Kitab Ayub bergumul dengan problem ini, dan begitu juga dengan orang-orang kudus Allah sejak saat itu. Yohanes tidak memberikan jawaban, tetapi seluruh kitabnya ditulis dalam keyakinan bahwa Gereja Kristus mempunyai pekerjaan menderita dengan Tuhannya, supaya gereja itu bisa ikut menikmati kemuliaanNya dalam kerajaan yang telah Ia menangkan untuk umat manusia”. - hal 81.
Catatan: kata-kata ini khususnya harus direnungkan dan dihayati oleh orang-orang yang menganut Theologia Kemakmuran atau ajaran yang mengatakan bahwa kalau ikut Kristus semua problem pasti beres, semua penyakit pasti sembuh dan sebagainya.
d)   Miskin tetapi kaya.
·        Miskin.
*        Arti dari kata ‘miskin’ di sini.
Kata bahasa Yunani yang dipakai adalah PTOCHEIAN.
William Barclay: “In Greek there are two words for poverty. ... PENIA describes the state of the man who has nothing superfluous; PTOCHEIA describes the state of the man who has nothing at all” (= Dalam bahasa Yunani ada 2 kata untuk kemiskinan. ... PENIA menggambarkan keadaan seseorang yang tidak mempunyai sesuatu yang berlebihan; PTOCHEIA menggambarkan keadaan seseorang yang sama sekali tidak mempunyai apa-apa) - hal 78.
William Hendriksen: “Extreme poverty is meant. These people were often thrown out of employment as a result of the very fact of their conversion” (= Kemiskinan yang hebat yang dimaksudkan. Orang-orang ini sering dikeluarkan dari pekerjaan sebagai akibat dari pertobatan mereka) - hal 64.
Penerapan:
Kalau gara-gara ikut Kristus saudara dipecat dari pekerjaan saudara, dan hal itu terjadi berulang-ulang, apakah saudara tetap mau ikut Kristus?
*        Mayoritas orang kristen dalam Perjanjian Baru (abad I) adalah orang miskin (bdk. Kis 2:45  3:6  4:35  2Kor 8:2).
William Barclay: “In the New Testament poverty and Christianity are closely connected” (= Dalam Perjanjian Baru kemiskinan dan kekristenan berhubungan sangat dekat) - hal 78.
Catatan: bandingkan kata-kata William Barclay ini dengan ajaran dari Theologia Kemakmuran, yang mengatakan bahwa orang kristen pasti / harus kaya. Saya berpendapat bahwa ajaran ini merupakan penghinaan terhadap Perjanjian Baru maupun kekristenan.
*        Miskin di tengah-tengah masyarakat yang kaya.
Sekalipun miskin di tengah-tengah masyarakat yang miskin juga merupakan hal yang tidak enak, tetapi itu tidak sejelek kalau kita mengalami kemiskinan di kota yang kaya seperti Smirna.
Pulpit Commentary: “In wealthy cities such as Smyrna, ... poverty was not merely odious but even infamous” (= Dalam kota-kota kaya seperti Smirna, ... kemiskinan bukan sekedar menjijikkan tetapi bahkan dianggap buruk / memalukan) - hal 84.
Kalau orang kaya yang kafir menganggap bahwa miskin adalah hal yang memalukan, itu bisa dimengerti. Tetapi celakanya, jaman sekarang orang kristen yang menganut Theologia Kemakmuran juga menganggap bahwa miskin itu memalukan Tuhan. Tetapi apa dasar Kitab Suci pandangan ini? Dalam bacaan ini kita tidak melihat bahwa Tuhan malu karena kemiskinan orang kristen di Smirna. Sebaliknya Tuhan memuji gereja Smirna yang tetap setia kepadaNya dalam kemiskinan dan penderitaan!
*        Tuhan menghibur orang kristen di Smirna dengan mengatakan ‘Aku tahu kemiskinanmu’. Kalau saudara adalah orang kristen yang miskin, maka pengetahuan Tuhan akan kemiskinan saudara juga seharusnya menghibur saudara. Tuhan bukannya melupakan saudara atau keadaan saudara. Sebaliknya Ia tahu akan keadaan saudara, dan Ia tahu segala kebutuhan saudara (bdk. Mat 6:32b - “Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu membutuhkan semuanya itu”), dan pasti akan memberikan kebutuhan saudara itu pada waktunya.
·        Mengapa orang-orang kristen di Smirna ini miskin? Ada beberapa kemungkinan:
*        karena memang mereka berasal dari masyarakat kelas bawah.
*        karena mereka suka menolong orang lain (bandingkan dg 2Kor 8:2).
*        karena mereka bekerja dengan jujur / menjalankan bisnis dengan jujur.
John Stott: Tetapi tidak satupun dari faktor-faktor ini yang bisa menjelaskan mengapa kemiskinan mereka merupakan sebagian dari ‘kesusahan’ mereka. Adalah lebih mungkin bahwa dalam keputusan mereka untuk berjalan lurus dalam bisnis, mereka meninggalkan cara-cara yang curang dan dengan demikian kehilangan sebagian dari keuntungan yang mudah, dan keuntungan yang mudah itu lalu pergi / pindah kepada orang lain yang tidak terlalu cermat seperti mereka. Atau, tak diragukan lagi bahwa banyak orang Yahudi dan kafir yang tidak mau berdagang dengan mereka pada waktu mengetahui bahwa mereka adalah orang Kristen”. - hal 38.
*        mungkin karena sering terjadi perusakan terhadap rumah-rumah mereka dan penjarahan terhadap barang-barang mereka.
William Barclay: “There was another reason for the poverty of the Christians. Sometimes they suffered from the spoiling of their goods (Hebrews 10:4). There was times when the heathen mob would suddenly attack the Christians and wreck their homes” [= Ada alasan lain untuk kemiskinan dari orang-orang Kristen. Kadang-kadang mereka menderita karena penjarahan terhadap harta benda / barang-barang mereka (Ibr 10:4). Ada saat-saat dimana gerombolan orang kafir tiba-tiba menyerang orang-orang Kristen dan merusak / menghancurkan rumah mereka] - hal 78-79.
Catatan: Ibr 10:4 ini pasti salah cetak; seharusnya adalah Ibr 10:34 yang berbunyi: “Memang kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang hukuman dan ketika harta kamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya”.
John Stott: “Make no mistake: it does not always pay to be a Christian” (= Jangan salah: menjadi orang Kristen tidak selalu menguntungkan) - hal 39.
·        Kaya.
Kitab Suci seringkali berbicara tentang kekayaan yang bukan dalam persoalan uang / materi, misalnya ‘kaya di hadapan Allah’ (Luk 12:21), ‘kaya dalam iman’ (Yak 2:5), ‘kaya dalam kebajikan’ (1Tim 6:18), ‘mempunyai harta di surga’ (Mat 6:19,20  Mat 19:21). Bdk. juga 1Kor 1:5  Ef 3:8  2Kor 6:10.
Pulpit Commentary: “It is all-important that we should learn to see light in God’s light - to reckon silver and gold as corruptible things, and to regard faith, love, and the good things through grace as the only durable riches” (= Adalah sangat penting bahwa kita melihat terang dalam terang Allah - memperhitungkan perak dan emas sebagai hal-hal yang bisa binasa, dan menganggap iman, kasih, dan hal-hal baik melalui kasih karunia sebagai satu-satunya kekayaan yang bertahan) - hal 71.
Renungkan: kekayaan yang bagaimana yang saudara cari / kejar?
·        Miskin tetapi kaya (bdk. Yak 2:5  2Kor 6:10  2Kor 8:2).
*        Jelas bahwa kemiskinan tetap memungkinkan orang kristen untuk bisa dekat dengan Tuhan, menyenangkan Tuhan, dan memuliakan Tuhan! Lebih dari itu, orang kristen Smirna bukan hanya miskin tetapi juga mengalami banyak penderitaan / kesusahan / penganiayaan. Tetapi mereka toh bisa menjadi orang-orang yang sangat rohani! Karena itu jangan menjadikan problem uang ataupun penderitaan sebagai alasan untuk tidak bisa bertumbuh dalam iman!
*        Kemiskinan memang mempersulit orang kristen dalam belajar Firman Tuhan (tak bisa beli buku, dsb), berbakti kepada Tuhan (tak ada mobil / uang transportasi), melayani Tuhan (karena harus terus bekerja), dsb. Karena itu kalau orang kristen bisa tetap setia  kepada Tuhan di tengah-tengah kemiskinannya, maka itu merupakan hal yang luar biasa. Jadi pada waktu orang kristen Smirna menghadapi kemiskinan mereka dengan tetap setia kepada Tuhan, maka faktor kemiskinan itu memberikan nilai tambah terhadap kesetiaan mereka, dan sekaligus memperkaya mereka secara rohani. Sebaliknya orang kaya bisa lebih leluasa dalam belajar Firman Tuhan, berbakti kepada Tuhan, melayani Tuhan, dsb. Dan karena itu, orang kaya harus malu kalau, sekalipun mereka tidak mempunyai problem keuangan, mereka tidak bisa mempunyai rohani sebaik orang yang miskin!
*        Orang kristen Smirna kontras dengan orang kaya yang bodoh (Luk 12:16-21, khususnya perhatikan ay 21). Dan ini juga kontras dengan gereja Laodikia, yang dalam Wah 3:17 mendapatkan kata-kata Yesus yang berbunyi: “Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat (NIV/NASB: wretched / buruk sekali), dan malang, miskin (Yunani: PTOCHOS), buta dan telanjang”.
Saudara seperti orang kristen Smirna, atau Laodikia / orang kaya yang bodoh?
Dari perbandingan gereja Smirna dan gereja Laodikia, Herman Hoeksema berkata:
Ini tidak hanya cocok / relevan untuk gereja Smirna, tetapi juga untuk gereja dalam kesusahan di segala jaman. Bahkan telah menjadi pepatah bahwa darah para martir telah menjadi benih dari gereja dalam sejarah. Tidak pernah gereja memberikan aspek yang lebih menyedihkan dari pada pada waktu kemakmuran dari sudut pandang duniawi, saat damai dan kelimpahan. Tidak pernah kondisi gereja lebih genting dari pada ketika gereja itu melayani kesenangan duniawi dan haus akan kekayaan dan kemuliaan dan kehormatan menurut ukuran dunia. Gereja Laodikia merupakan contoh yang memberikan peringatan. Tetapi, di sisi yang lain, juga benar bahwa gereja tidak pernah lebih mendekati kesempurnaan dari pada ketika ia dipanggil untuk melakukan pertempuran iman, menderita dan menahan penderitaan / kesusahan demi Firman Allah dan kesaksian Yesus”. - hal 75.
Matthew Poole: “the church of God keeps always its purity best in the fire” (= gereja Allah selalu mempertahankan kemurniannya paling baik pada waktu ada dalam api) - hal 954.
Apa sebabnya gereja yang kaya, enak, tidak dianiaya justru cenderung jadi jelek, dan sebaliknya gereja yang miskin dan dianiaya justru jadi kuat?
1.      Penderitaan menyebabkan kita makin berpegang kepada Kristus.
Herman Hoeksema:Adalah pada saat badai menderu di hutan maka pohon oak / eik menanamkan akarnya lebih dalam dan lebih teguh ke dalam tanah dan dikuatkan. Begitu juga pada saat badai penganiayaan menyapu gereja maka gereja menancapkan akar dari imannya lebih dalam ke dalam Kristus dan secara lebih sadar mengambil kekuatan dari Dia dalam hidupnya. Dan karena itu, khususnya pada saat kesukaranlah gereja tumbuh dengan subur: karena pada saat-saat seperti itu gereja diajar untuk berpegang erat-erat pada Rajanya yang berkuasa, dan mencari segala-galanya dalam Dia”. - hal 76.
2.      Pada masa enak, gereja bisa dipenuhi oleh orang-orang kristen KTP yang masuk ke gereja dengan motivasi yang salah, dan mereka ini sangat membahayakan gereja. Tetapi penderitaan / penganiayaan sebaliknya akan membersihkan gereja dari orang-orang kristen KTP ini.
Herman Hoeksema: Dalam masa kemakmuran dan kekayaan dan damai, pada waktu gereja dihormati dan bukannya dihina dalam dunia, ada bahaya yang besar dimana banyak orang Israel yang bukan orang Israel rohani menjadi anggota dari gereja dalam dunia dengan motivasi daging dan alasan yang egois. Merupakan persoalan kehormatan, atau bahkan kesopanan / kesusilaan umum untuk menjadi anggota gereja. Jadi, banyak orang bergabung dengan gereja. Anggota-anggota yang bersifat daging ini betul-betul merupakan bahaya bagi gereja Kristus. Mereka seringkali menjadi dominan, dan menerima kepemimpinan / menjadi pemimpin dalam gereja. Mereka memimpin gereja itu ke dalam dunia, dan, tentu saja, pada kehancuran. Mereka adalah dari dunia, dan mereka akan membuat gereja menjadi bagian dari dunia. Tetapi pada masa penganiayaan, pada waktu keanggotaan gereja dan celaan Kristus tidak terpisahkan, bahaya ini tidak ada. Sebaliknya, pada waktu orang percaya / setia harus menderita penganiayaan dan celaan demi Kristus, gereja dibersihkan dari orang-orang munafik ini”. - hal 76.
2)   ‘dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian: sebaliknya mereka adalah jemaah Iblis’.
a)   ‘fitnah’.
RSV/NIV: ‘slander’ (= fitnah).
KJV/NASB: ‘blasphemy’ (= penghujatan).
Yunani: BLASPHEMIAN.
George Eldon Ladd: “However, its proper meaning is not blasphemy of the name of God but slanderous accusations against men” (= Bagaimanapun, artinya yang benar bukanlah penghujatan terhadap nama Allah tetapi tuduhan yang bersifat memfitnah terhadap manusia) - hal 43.
Memang, karena dalam ay 2 fakta bahwa Tuhan mengetahui BLASPHEMIAN ini kelihatannya merupakan suatu penghiburan bagi gereja Smirna, maka rupa-rupanya yang dimaksud dengan BLASPHEMIAN di sini bukanlah ‘penghujatan’ tetapi ‘fitnah’.
Tentu saja ada banyak hal yang bisa difitnahkan tentang gereja Smirna, tetapi John Stott berkata bahwa rupa-rupanya fitnah dari orang-orang Yahudi ini berhubungan dengan penyembahan kepada kaisar.
John Stott: Mereka (orang-orang Yahudi) sendiri dikecualikan dari semua kewajiban persembahan, dan mereka memanfaatkan hak mereka untuk mengganggu / merusakkan orang Nasrani yang dibenci. Tak diragukan lagi mereka sendiri dicurigai karena mereka menolak untuk mempersembahkan korban. Jadi, mereka menjilat para penguasa dan rakyat dengan mendesak orang-orang Kristen untuk mempersembahkan, dan mereka memfitnah orang-orang Kristen itu kalau mereka tidak mau mempersembahkan”. - hal 37.
Ini adalah tindakan yang luar biasa kurang ajarnya. Mereka sendiri menganggap bahwa itu adalah dosa / penyembahan berhala, tetapi mereka memaksa orang kristen melakukan hal itu.
Tuhan menghibur gereja Smirna dengan mengatakan bahwa Ia tahu akan fitnahan itu. Kalau saudara difitnah, dan semua orang mempercayai fitnahan itu, maka bagian ini juga merupakan suatu penghiburan bagi saudara. Tuhan tahu bahwa itu adalah fitnah!
b)   ‘yang menyebut dirinya orang Yahudi’.
Steve Gregg: “Smyrna had the largest Jewish population of any Asian city” (= Smirna mempunyai penduduk Yahudi terbesar dari semua kota-kota Asia) - hal 67.
Pulpit Commentary: Merupakan sesuatu yang luar biasa bahwa dalam ‘Kematian syahid dari Polycarp’ dikatakan bahwa orang-orang Yahudi hadir dalam jumlah yang besar, dan merupakan orang-orang pertama yang mengumpulkan kayu untuk membakarnya hidup-hidup”. - hal 60.
John Stott: adalah suara dari orang-orang Yahudi yang berteriak paling keras supaya ia (Polycarp) dilemparkan kepada singa-singa; dan pada waktu akhirnya diberikan perintah supaya ia dibakar hidup-hidup, yang paling rajin dari orang banyak itu yang mengambil kayu bakar untuk tumpukan kayu yang membawa kematian itu adalah orang-orang Yahudi”. - hal 38.
Catatan: padahal hari itu adalah hari Sabat, dimana mengumpulkan kayu seperti itu dilarang oleh hukum Sabat! (bdk. Kel 35:2-3  Bil 15:32-36). Tetapi orang-orang munafik itu malah mengumpulkan kayu untuk membakar orang!
c)   ‘tetapi yang sebenarnya tidak demikian’.
·        Bandingkan dengan 2 text di bawah ini:
*        Ro 2:28-29a - “Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah”.
*        Fil 3:3 - “karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah”.
·        George Eldon Ladd: “We must conclude, then, that John makes a real distinction between literal Israel - the Jews - and spiritual Israel - the church” (= Jadi, kita harus menyimpulkan bahwa Yohanes membuat pembedaan yang nyata antara Israel hurufiah - orang-orang Yahudi - dan Israel rohani - gereja) - hal 44.
Karena itu berhati-hatilah pada waktu menemukan istilah ‘Israel’ dalam Kitab Suci. Kadang-kadang istilah itu memang menunjuk kepada bangsa Israel (misalnya Ro 11:25), tetapi kadang-kadang menunjuk kepada gereja / Israel rohani (misalnya Ro 11:26).
·        John Stott: Mereka berkata bahwa mereka adalah orang Yahudi, tetapi sebetulnya tidak demikian. Mereka berkata bahwa kamu miskin, tetapi sebenarnya tidak. Dalam keduanya penilaian mereka salah. Jadi marilah kita tidak terlalu peduli dengan pandangan dari orang-orang yang tidak percaya. Sebaliknya marilah kita mengusahakan pikiran Kristus. Adalah pemandanganNya yang benar. Hanya Dia yang bisa melihat dengan lurus / benar. Semua yang lain adalah juling”. - hal 48.
d)   ‘sebaliknya mereka adalah jemaah Iblis (bdk. Wah 3:9).
KJV/RSV/NIV/NASB: ‘the synagogue of Satan’ (= sinagog Setan).
Dalam Bil 16:3  Bil 20:4  Bil 31:16 Israel disebut sebagai ‘jemaah / umat TUHAN’. Kata ‘sinagog’ berasal dari kata Yunani SUNAGOGE, yang arti hurufiahnya adalah ‘suatu kumpulan’ atau ‘jemaah’. Jadi dengan kata-kata ini seakan-akan Yohanes berkata: Kamu menyebut dirimu sendiri ‘jemaah TUHAN’, padahal sebetulnya kamu adalah ‘jemaah Iblis’.
Mereka ini sama seperti orang-orang Yahudi dalam Yoh 8:37-44, yang sekalipun mengaku sebagai keturunan Abraham dan anak-anak Allah, tetapi sebetulnya adalah anak-anak setan.
George Eldon Ladd: “because the Jews have rejected their Messiah, they are no longer a synagogue of the Lord but in reality a synagogue of Satan” (= karena orang-orang Yahudi telah menolak Mesias mereka, mereka bukan lagi sinagog Tuhan tetapi dalam kenyataannya sinagog Setan) - hal 44.
Sekalipun Israel / bangsa Yahudi mengusahakan penyucian diri mereka menggunakan ‘lembu merah’ (Bil 19), tetapi kalau mereka tidak mau percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka, mereka tidak akan pernah suci, dan mereka akan tetap menjadi sinagog / jemaah Iblis!
Penerapan:
Ada banyak orang kristen yang seperti orang-orang Yahudi ini. Secara lahiriah mereka adalah orang kristen, tetapi karena hatinya tidak pernah betul-betul percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, pada hakekatnya mereka adalah anak-anak setan. Apakah saudara adalah salah satu di antara orang-orang ini? Kalau ya, cepatlah bertobat dan percaya kepada Yesus.
Leon Morris (Tyndale): “This unusual expression means that their assembly for worship does not gather God’s people but Satan’s” (= Istilah / ungkapan yang tidak lazim ini berarti bahwa perkumpulan / persekutuan kebaktian mereka tidak mengumpulkan umat Allah tetapi umat Setan) - hal 64.
Penerapan:
Jaman sekarangpun tidak kurang gereja sesat yang setiap kebaktian bukannya mengumpulkan umat Allah tetapi umat setan. Carilah gereja yang benar, dan maulah berbakti di sana.
Thomas Becon: “For commonly, wheresoever God buildeth a church, the devil will build a chapel just by” (= Karena biasanya, dimanapun Allah membangun sebuah gereja, setan akan membangun tempat ibadah di dekatnya) - ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 118.
Daniel Defoe, ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 119-120:
“Wherever God erects a house of prayer, (= Dimanapun Allah mendirikan rumah doa,)
The Devil always builds a chapel there; (= Setan selalu membangun tempat ibadah di sana;)
And ‘twill be found, upon examination, (= Dan akan didapatkan, setelah diselidiki,)
The latter has the largest congregation” (= Yang terakhir mempunyai jemaat yang terbesar). 4)
REFERENSI:

1.   Jon Paulien, “Kabar Baik Dari Patmos”, Bandung: Indonesia Publishing House, 2007. hlm.52-53.
2.   Leo R. Van Dolson, “Kemenangan Sekarang ini-Kemuliaan Masa Mendatang”(Wahyu, Bagian I ), Bandung: Indonesia Publishing House, Pelajaran Sekolah Sabat Penuntun Guru, April-Juni 1989. hlm.38.
3.   DR. U. Aritonang, Tafsiran Buku Wahyu: Universitas Advent Indonesia Cisarua -Bandung, 1988.
4.   Pdt. Budi Asali M.Div- Eksposisi Wahyu kepada Yohanes.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar