Sabtu, 20 Agustus 2016

Kalau Keluarga Berkunjung.

  
Ada beberapa sikap kita kalau keluarga dekat datang ke rumah:
1. Jelaskan baik-baik.
   Untuk menghindarkan salah paham dan prasangka buruk, suami isteri dapat mengemukakan jumlah penghasilan mereka setiap bulan kepada keluarga dekat itu. Dari hasil pendapatan itu harus dikeluarkan biaya-biaya lainnya seperti listrik, air, pajak, uang sekolah anak, keperluan anak lainnya, pengobatan, bantuan sosial dan pengeluaran tak terduga lainnya.
   Dari jumlah yang sisa ini dapat memberi gambaran bagaimana isteri dalam keluarga itu harus berhati-hati dan mengirit biaya keluarga itu.  Memberi penjelasan sepintas lalu mengenai hasil pendapatan akan mengurangi salah paham dan mengajak keluarga dekat itu mengerti masalah keluarga yang ditumpanginya.
2. Sikap Pendatang.
   Meskipun pendatang baru itu tergolong keluarga dekat, namun harus tetap bersikap sebagai penumpang.  Ia tidak pantas bersikap seperti tuan rumah.  Kalau ia datang ke kota dengan tujuan mencari pekerjaan dan menumpang di rumah keluarga dekat, ia tidak pantas bermalas-malas, makan tidur saja, dan bertindak seperti dirumahnya sendiri.
   Kalau patut, ia harus turut meringankan beban keluarga yang ditumpanginya, seperti mencuci pakaian sendiri, membersihkan halaman pekarangan, memandikan anak keluarga itu, atau membantu melakukan tugas berat lainnya.
   Penghuni rumah pasti merasa senang melihat sikap semacam itu.  Barangkali tidak akan timbul perasaan yang mengatakan bahwa orang itu adalah sebagai pendatang di rumah kalau ia suka dan rela membantu. Dan amat menyenangkan kalau ia makan sesuai dengan keadaan keluarga, tidak menuntut ini dan itu seperti waktu di rumahnya dulu.  Kalau penumpang sebagai orang yang sedang mencari pengalaman kota, ia harus rajin bekerja membantu keluarga dan jangan sekali-kali mengomel kalau disuruh memasak, mencuci, menyetrika, dan pekerjaan rumah tangga lainnya.  Kalau ia merasa bosan, jangan mengirim surat ke desa, seolah-olah melaporkan kekurangan-kekurangan pemilik rumah.
   Kalau sudah ingin pulang, kemukakanlah alasanmu, dan mintalah dengan baik ongkos pulangmu.
3. Perlunya tenggang rasa.
   Hubungan suami isteri harus tetap normal meskipun mereka didatangi oleh mertua, adik-adik, ipar-ipar dan keponakan.
   Kehadiran orang-orang tertentu ini adalah suatu hal yang umum, dan menyambut kehadiran mereka di rumah merupakan tanggung jawab yang tak boleh dihindarkan.
   Tanggung jawab disini dimaksudkan sebagai sesuatu yang alami, yang mungkin lebih terdorong oleh adat istiadat, atau ikatan kekeluargaan yang erat, dan merupakan sesuatu yang hakiki dalam kehidupan sebagai manusia yang bermoral.
   Sedapat-dapatnya suami isteri harus berusaha menetralisir keadaan meskipun kadang-kadang timbul ekses yang dapat merugikan sebagai akibat kehadiran mereka.
   Bagi suami perlu memiliki tenggang rasa kalau pendatang itu dari pihaknya, demikian pula sebaliknya.  Pokoknya kedua belah pihak harus bersikap toleransi dan tidak patut menyalahkan satu sama lain.  Hendaklah seorang suami lebih menaruh hormat kepada keluarga dari pihak isterinya, dan isteri terhadap keluarga pihak suaminya.
   Sikap timbal balik seperti ini membuat keseimbangan tingkah laku, dan menetralisir suasana dalam keluarga itu.
   Dan motif-motif memihak selalu berakibat buruk dan sangat peka dalam keluarga.
   Kehadiran keluarga dekat di rumah kita dapat membawa berkat kalau semua pihak dapat mengerti kedudukannya, dan masing-masing dapat memainkan peran sesuai dengan fungsinya.
                    Rumah Tangga & Kesehatan, Jan.1980.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar