Sabtu, 20 Agustus 2016

Menciptakan Keluarga Berbahagia.

Keluarga Ayub (Ayub 1:1-22.
Pendahuluan:
   Keluarga Ayub terdiri dari seorang ayah, seorang ibu dan sepuluh orang anak-anak (7 lk2 dan 3 pr).  Siapa nama ibu dan ke sepuluh anak itu tidak disebutkan.  Yang disebutkan bahwa nama kepala keluarga itu SALEH dan JUJUR, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.
   Dikatakan selanjutnya bahwa mereka tinggal di tanah Us, diperkirakan suatu daerah disebelah timur Libanon bagian selatan.  Jika kita meneliti Ayub 1:1-22, maka kita akan mendapatkan beberapa pelajaran yang menarik tentang keluarga Ayub, untuk menolong kita menciptakan keluarga kristen yang berbahagia.
I. Kesadaran terhadap anugerah Tuhan menyelamatkan keluarga.
II. Keluarga adalah tempat ibadah.
III. Allah mengajar sesuatu melalui penderitaan.
IV. Di celah bibir isteri terletak wibawa keluarga.
I. Kesadaran terhadap anugerah Tuhan menyelamatkan keluarga.
    Bacalah Ayub 1:21..."Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku,...
   Ini merupakan suatu pernyataan yang luar biasa, yang keluar dari bibir seorang yang mempunyai kesadaran penuh terhadap anugerah Tuhan.  Ayub adalah seorang yang kaya.
   Kaya dan Bahagia...
   Ukuran kekayaan orang pada waktu itu bukan dilihat dari berapa milyar uang yang disimpan di bank, berapa banyak perusahaan yang dimilikinya, atau berapa mobil yang di parkir di garasi rumahnya; tetapi dilihat dari berapa jumlah ternak yang dimilikinya.  Ayub mempunyai ribuan ekor ternak, suatu kekayaan yang jarang dimiliki orang pada waktu itu.
   Dan sebutan Ayub sebagai orang yang terkaya di daerah timur tidak diragukan lagi (Kita baca Ayub 1:1-3.....).
   Dia bukan saja memiliki kekayaan secara materi, tetapi memiliki sejumlah anak (7 lk2 dan 3 pr).
   Orang berkata,"Meskipun mempunyai banyak harta, tetapi kalau tidak mempunyai anak, orang tidak akan merasa bahagia". Anak merupakan syarat penting untuk melengkapi kebahagiaan keluarga. Dan Ayub memilikinya, sehingga lengkaplah kebahagiaan rumah tangganya.
   Namun diatas semua itu, Ayub memiliki suatu kekayaan yang tak ternilai harganya, yaitu: Kualitas rohani yang mantap---dia adalah seorang yang saleh dan jujur, dia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.
   Tentu DIA --adalah seorang yang diperkenan oleh Allah.
   Hatinya dipenuhi dengan damai sejahtera yang melimpah ruah.  Diatas semua yang dimiliknya itu, dia tidak berkata: "Aku bangga dengan semua ini, karena semua ini adalah hasil jerih payahku.  Oleh kepandaian dan kehebatankulah saku mendapatkan semua ini".  Tetapi sebaliknya dia berkata: "Semua ini dari Tuhan. Semua ini adalah anugerah Tuhan".
   Sebab itu, ketika semua sudah tiada lagi, dia dapat berkata: "Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan" (Ayub 1:21).
   Saudaraku,...kesadaran Ayub terhdapa anugerah Tuhan telah menolong dan menyelamatkan keluarganya.
   Ada 3 hasil dari kesadaran Ayub terhadap anugerah Tuhan :
KESADARAN TERHADAP ANUGERAH TUHAN:
1. Membuat orang hidup saleh :
   Tidak usah dianjurkan untuk tidak berbuat dosa pun, kita akan menghindari dosa dengan sendirinya atau secara otomatis.
   -Orang yang menyadari bahwa Tuhan telah berbuat banyak didalam hidupnya, dengan sendirinya akan berusaha mengucap syukur kepada Tuhan, dengan hidup menuruti kehendak Tuhan. Tidak perlu dilarang dari atas mimpbar, tidak perlu ditegur, orang akan meninggalkan dosanya sendiri.
   Saudaraku,..hidup ini adalah anugerah Tuhan. Tanpa anugerah Tuhan, kita tidak akan menikmati kehidupan sampai hari ini.  Kita tidak akan menikmati kesehatan seperti yang kita rasakan sekarang ini. Tidak mungkin kita dapat menikmati keselamatan di dalam Kristus Yesus. Surga hanya merupakan sebuah cerita dongeng.  Kesadaran ini telah memenuhi jiwa Ayub, sehingga dikatakan dalam Alkitab bahwa Ayub adalah seorang yang saleh dan jujur (ayat 1).
   Apakah kesadaran ini juga ada didalam jiwa saudara dan saya?.  Jika hati saudara dipenuhi dengan kesadaran ini, saya dapat memastikan bahwa tingkah laku saudara akan dikendalikan oleh keinginan untuk memuliakan Allah.
2. Mengubah sikap kita terhadap harta.
   Bagi Ayub, harta bukanlah faktor yang utama didalam hidupnya.  Ketika hartanya diambil daripadanya, dia tidak memprotes Allah. Kenapa?.  Jawabnya ialah: Karena dia mempunyai kesadaran penuh terhadap anugerah Tuhan.
   Sikap Ayub ini dapat anda bandingkan dengan sikap isteri Lot. Isteri Lot sangat menyayangi harta bendanya, sehingga ketika seluruh keluarga Lot diperintahkan untuk lari meninggalkan kota Sodom, oleh sebab kota itu akan dihancurkan, isteri Lot lari dengan hati yang berat.  Hati yang berat--tanpa membawa serta barang-barang kepunyaannya...(Kejadian 19:26).
   Istri Lot tidak rela hartanya dimusnahkan, sedangkan Ayub rela. Dimanakah perbedaan mereka?.  Perbedaan mereka adalah pada kesadaran mereka terhadap anugerah Tuhan.
   Istri Lot menganggap bahwa harta benda yang dia miliki adalah kepunyaannya sendiri untuk dinikmati sendiri.
   Sedangkan Ayub menyadari bahwa semua itu adalah anugerah Tuhan yang dipercayakan kepadanya.
   Sejauh mana kita rela memberi persembahan kepada Tuhan sangat tergantung pada kesadaran kita terhadap anugerah Tuhan.  Orang yang menyadari anugerah Tuhan akan mempunyai kerelaan yang besar untuk memberi persembahan kepada Tuhan. Tidak perlu di dorong dan diminta, dia akan memberi dengan sukacita.
3. Membuat Ayub menang atas pencobaan.
   Ayub telah mengalami pencobaan yang teramat berat.  Harta bendanya habis, tanpa sisa sedikitpun.  Anak-anaknya mati semua. Tubuhnya digerogoti oleh koreng busuk. Bahkan isterinya, yang seharusnya memberi dukungan kepada dikala menghadapi saat-saat yang berat ternyata malah mematahkan semangatnya. Tetapi diatas semua itu, dia dapat mengucap syukur kepada Tuhan.  Mari kita baca kata-katanya dalam ayat 22 (baca).
   Ayub telah menang atas pencobaan yang dialaminya, oleh karena kesadarannya terhadap anugerah Tuhan. Ayub telah lulus ujian.
II. KELUARGA ADALAH TEMPAT IBADAH.
   Baca Ayub 1:4,5---- Ayub selalu melakukan ibadah di rumahnya. Ia bertindak sebagai imam bagi anggota-anggota keluarganya. Bagi Ayub, rumah bukan sekedar tempat untuk berteduh, mengasuh anak-anak, untuk menyantap hidangan yang disediakan oleh isterinya.  Tetapi bagi Ayub, rumah adalah tempat untuk ibadah juga.  Jadi ide untuk mengadakan ibadah di dalam rumah tangga bukanlah ide dari pemimpin gereja--tetapi ide dari Alkitab sendiri.
   Rumah--tempat dimana suami, isteri dan anak-anak dapat membaca Alkitab bersama-sama dan berdoa bersama-sama serta memuji Allah bersama-sama.  Andaikata setiap keluarga Kristen menyediakan rumahnya dipakai sebagai tempat persekutuan doa, betapa cepatnya berita Injil tersebar luas.
   Baca Ayub 4:3-5....  Andaikan orang-orang berkata, "Dirumah bapak itu setiap kali diadakan tempat persekutuan doa.  Orang-orang yang lemah dikuatkan.  Orang-orang sakit disembuhkan", betapa indahnya. Tetapi betapa menyedihkan jika orang-orang sampai bertanya, "Di rumah bapak itu setiapkali diadakan perjudian, mari kita pergi kesana untuk bertaruh".  Apakah orang-orang lain mengenal rumah tangga kita sebagai saluruan berkat atau saluran kejahatan?.
   Semua orang tahu bahwa rumah tangga Ayub dipakai sebagai saluran kekuatan, penghiburan dan damai sejahtera dari Allah.
   Persekutuan doa keluarga akan merupakan alat yang ampuh untuk mendukung pekerjaan gereja. Dengan diadakannya persekutuan doa di tiap-tiap keluarga kita, nama Allah akan semakin ditinggikan dimana-mana.  Keluarga itu juga akan diberkati dengan limpah dan berbahagia.
III.Allah mengajar sesuatu melalui penderitaan.
   Kalau penderitaan datang, janganlah cepat bimbang. 
   Penderitaan adalah bagian dari hidup manusia.  Yang berikut, kita harus meyakini bahwa ujian yang di izinkan Allah terjadi dalam kehidupan kita, tidak akan melampaui kekuatan kita.  Dan yang ke tiga adalah kesadaran bahwa dengan Allah kita lebih dari pemenang.  Tiga kesadaran tersebut merupakan senjata yang ampuh untuk melawan serangan setan yang mendatangi kita dengan tipu dayanya.
   Sebenarnya tujuan Allah membiarkan pencobaan datang kepada Ayub adalah untuk menguji imannya.  Apakah dia mengasihi Tuhan karena harta--atau dengan tulus hati.
   Juga agar Ayub lebih bersandar kepada Tuhan, sehingga dia tidak mengandalkan harta, kepandaian dan kemampuannya.
   Kesadaran ini akan membuat keluarga kita kuat dan tidak goyah.
IV. Di celah bibir isteri terletak wibawa keluarga.
   Setelah Ayub mengalami penderitaan yang sedemikian rupa, istrinya datang dengan perkataan (Baca Ayub 2:9)...
   Perkataannya tidak membangun suaminya. Perkataan yang keluar dari celah bibirnya tidak membawa berkat bagi suaminya. Untung Ayub tidak frustrasi dan minum racun.
   Saudaraku,..perkataan isteri sangat besar peranannya bagi suami (karena dapat menguatkan suami/menjatuhkan).
   Banyak suami yang frustrasi dan hancur hidupnya karena perkataan isterinya yang memojokkan dia.
   Kesimpulan:
   Suami gagal didalam pekerjaan, isteri bukannya menghibur tetapi justru menyalahkan. Tetapi banyak juga suami menjadi sukses karena perkataan-perkataan isterinya yang positif dan mendorong dia untuk sukses.
   Syarat isteri yang baik kita bisa baca dalam Amsal 31:26...
   Dia tidak sembarang bicara. Apa yang akan diucapkannya telah dipikirkannya dengan baik-baik. Dia tahu menjaga rahasia rumah tangga.  Syarat kedua terdapat dalam ayat 12...
   Isteri Ayub tidak dapat berbuat baik kepada suaminya. 
   Seharusnya dia mengeluarkan kata-kata: "Papa, teguhkanlah imanmu".  Pencobaan ini tidak akan melebihi kekuatanmu".
   Dukungan isteri sangat penting bagi suami didalam menghadapi tantangan hidup. Isteri sejati adalah penolong bagi suami dan bukan perongrong. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar