Kamis, 06 Agustus 2015

Allah Tidak Memperhitungkan Dosa Seseorang.


   Renungan saat ini diambil dari Mazmur 32:2, “Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu.” 
   Sebagai ayah Daud bukanlah ayah yg baik, sebagai raja dia bukan raja yg sepenuhnya benar, dan banyak lagi kekurangannya. Rasanya dengan sejumlah catatan buruk itu, tidak layak Tuhan mengijinkannya memerintah 40 tahun sebagai raja bagi umatNYA, tidak adil dia diberkati sebagai salah seorang raja yang sukses dan kaya dan yang terutama tidak patut dia menjadi leluhur Yesus Kristus, juru selamat umat manusia.
   Namun itu adalah perhitungan manusia, Allah tidak demikian.
   SDA, Bible Commentary,  Vol 3 hal 706,707 memberi catatan demikian:
“God does not reckon the sin to the sinner’s account. God not only forgives sin but also accepts THE TRULY REPENTANT as if he had never sinned. The sin has been lain upon Jesus, our substitute, with the result that “we are not to be anxious about what Christ & God think of us, but what God thinks of Christ, our Subtitute.”
   Mari kita buat daftar orang-orang yang “sejenis” dengan Daud.
   Misalnya, Yakub, yg pernah menipu ayah & kakaknya, tidak layak diberkati & menjadi salah seorang leluhur umat pilihan Allah, Israel. Kemudian Rahab, perempuan sundal yang datang dari bangsa kafir, tidak layak untuk menjadi bagian dari umat pilihan apalagi menjadi salah seorg leluhur Yesus Kristus penebus manusia. Yefta, anak seorg perempuan sundal & pernah menjadi perampok, tidak layak menjadi salah seorg Hakim yg memerintah bangsa pilihan. Ruth, wanita yg terlahir sebagai orang kafir, datang dari bangsa penyembah berhala, tidak layak menjadi salah seorg leluhur Yesus Kristus.
   Petrus, Pengkhianat, org yg tidak sabaran, emosian, suka berantem & ambisius serta egois, tidak pantas menjadi murid Yesus, apalagi diampuni & diberi kesempatan untuk menjadi Rasul. Paulus, penganiaya & pembunuh banyak umat Tuhan, seorg yg sangat fanatik dengan ajaran Yahudi, tidak pantas dipakai menjadi pembawa Injil yang membawakan kabar tentang kasih-karunia Allah. Dan masih banyak lagi daftar orang2 yang “sejenis” dengan Daud.
   Namun berkaca pada perumpamaan yang diceritakan Yesus mengenai anak yg hilang (The Prodigal son), dimana ketika anak tersebut pulang, sang ayah menyambutnya dengan begitu antusias & penuh suka-cita, bahkan pesta, dikenakan baju terbaik, disambut layaknya anak ini berhasil membawa nama baik keluarga bahkan dikenakan cincin menandakan bahwa anak ini kembali dipandang sebagai anak padahal faktanya sebaliknya, anak ini telah menghabiskan harta ayahnya & sama sekali tidak membawa nama baik keluarga. Tapi gambaran tentang bagaimana Allah itu yang tidak memperhitungkan kesalahan seseorang benar-benar tepat digambarkan oleh perumpamaan ini. Sang ayah seperti me-reset semua kesalahan anaknya & menempatkan kembali pada posisi nol, posisi netral, posisi dimana semuanya kembali seperti semula, ini yang disebut, "tidak diperhitungkan lagi". Sikap dan perhitungan kita umumnya adalah sama seperti anak yg sulung itu kepada adiknya bahwa adiknya itu TIDAK PANTAS DIPERLAKUKAN DENGAN BAIK oleh ayahnya. Jika kita sudah memahami bagaimana “hati Allah” itu dalam perumpamaan diatas, maka jangan ragu-ragu bersikap untuk pulang seperti anak yang hilang itu, jangan ragu-ragu untuk kembali kerumah bapa, datanglah sebagaimana adanya tanpa harus munafik.
   Ingat pernyataan Daud ini, “Berbahagialah manusia, yang.
kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu.” Daud pernah merasakan akan hal ini berkali-kali, kitapun akan demikian jika datang kepadaNYA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar