Rabu, 05 Agustus 2015

Yom Kippur, Antara Tradisi & Doktrin (6)


"HARI PENDAMAIAN"

PENDAHULUAN

 Upacara maha kudus.

   "Hari Pendamaian" adalah upacara terbesar dan maha kudus sejauh menyangkut sistem persembahan kurban di Bait Suci pada zaman Perjanjian Lama (PL), dan merupakan hari raya terpenting dan paling utama dalam sejarah bangsa Israel sampai kini. Perayaan "hari pendamaian" didasarkan pada perintah Allah sebagaimana tercatat dalam kitab Imamat 16:29-30: "Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal sepuluh bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa dan janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan, baik orang Israel asli maupun orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu. Karena pada hari itu harus diadakan pendamaian bagimu untuk mentahirkan kamu. Kamu akan ditahirkan dari segala dosamu di hadapan Tuhan."

    Hari raya besar ini masih dipelihara hingga sekarang, baik oleh orang Yahudi di Israel maupun masyarakat Yahudi yang bermukim di luar negeri, khususnya di AS dan Eropa, yang dalam bahasa Ibrani disebut "Yom Kippur." Sesuai dengan bunyi ayat di atas Yom Kippur dirayakan pada setiap hari ke-10 bulan Tishri dalam kalender Yahudi yang tahun ini telah memasuki tahun 5774, atau dalam kalender internasional jatuh pada hari Jumat, 13 September 2013 (tahun depan: Sabtu, 14 September 2014). Perlu diketahui bahwa penghitungan hari menurut kalender Yahudi selalu dimulai pada saat matahari terbenam malam sebelumnya hingga matahari terbenam hari berikutnya, jadi praktis mereka merayakannya selama dua hari dalam kalender internasional, yakni tanggal 13 malam sampai tanggal 14 malam bulan September tahun ini. "Yom Kippur" adalah "Hari Sabat" terbesar dan paling suci bagi masyarakat Yahudi, bahkan mereka yang jarang beribadah di sinagog (rumah ibadah kaum Yahudi) tidak akan melewatkan kesempatan sekali setahun yang istimewa ini untuk datang ke sinagog.

 Upacara "Hari Pendamaian" di zaman moderen ini tidak lagi sama dengan upacara serupa pada zaman Musa ketika seluruh bangsa berhimpun di sekeliling Bait Suci di mana upacara dipusatkan, dan yang terutama sekarang ini tidak ada lagi upacara persembahan kurban seperti dulu. Untuk menggantikan upacara kurban itu kelompok Yahudi ortodoks melakukan ritual yang disebut "kaporos" atau "kapparot" di mana mereka mengambil seekor ayam hidup kemudian diputar-putarkan di atas kepala beberapa kali lalu membanting ayam itu ke tembok atau ke tanah sekuat-kuatnya supaya mati. Tradisi yang dilakukan menjelang matahari terbenam sebelum memasuki Yom Kippur itu mereka anggap sebagai pengganti upacara kurban, dan dengan memutar-mutarkan ayam itu di atas kepala sambil komat-kamit berdoa mereka percaya bahwa dosa-dosa mereka sudah dipindahkan kepada ayam itu sebagai kurban. Tradisi yang dicap sebagai kekejaman terhadap hewan ini banyak mendapat tantangan masyarakat di AS dan Eropa, bahkan di Belanda dan Polandia tradisi ini sudah dilarang pemerintah. (Baca lebih jauh di sini--> http://www.earthintransition.org/2012/09/animal-sacrifice-and-the-day-of-atonement/).

     Melalui Musa, Allah telah memberi perintah kepada bangsa Israel purba tentang "Hari Pendamaian" (TL: "Hari Gafirat") ini sebagai hari pengudusan sebagai satu bangsa, bagi para imam dan juga bagi mezbah serta Bait Suci itu sendiri (Im. 16:33). Sebagai hari paling penting dalam sistem upacara keagamaan untuk umat Israel ini merupakan hari perhentian terbesar, atau yang dapat kita sebut sebagai "Sabatnya hari Sabat" (Sabbath of Sabbaths) di mana segala bentuk pekerjaan apapun sangat dilarang. Dalam tradisi Yahudi, pada permulaan dan penutup hari ini ditandai dengan tiupan terompet tradisional terbuat dari tanduk yang disebut shofar.

    "Ini juga disebut sebagai Sabat perhentian penuh (Im. 16:31), hari yang menyerukan perhentian dari segala pekerjaan yang adalah unik untuk sebuah perayaan tahunan Israel. Fakta ini menempatkan hari itu tepat di dalam konsep tentang Hari Sabat--satu waktu untuk berhenti dalam apa yang Allah, sebagai Khalik dan Penebus, telah lakukan (dan akan lakukan) bagi kita" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

I. HARI PENGHAPUSAN DOSA BANGSA (Pentahiran Tahunan)

 Pengampunan dosa kolektif.

"Hari Pendamaian" (Ibrani: יוֹם כִּפֻּר, Yom Kippur) merupakan hari penghapusan dosa Israel secara bangsa terhadap Tuhan, yaitu segala dosa yang bersifat pelanggaran Hukum Allah yang dilakukan oleh umat itu sepanjang satu tahun sebelumnya. Ini didasarkan pada perintah yang terdapat dalam Imamat 23:26-27, "Tanggal sepuluh bulan tujuh adalah hari upacara tahunan untuk pengampunan dosa bangsa Israel. Pada hari itu kamu harus berpuasa dan mengadakan pertemuan untuk beribadat serta mempersembahkan kurban makanan kepada Tuhan" (BIMK; huruf miring ditambahkan). Jadi, ini adalah hari penghapusan dosa yang bersifat vertikal. Sedangkan dosa-dosa di antara sesama bangsa itu secara perorangan maupun kaum-keluarga, yaitu dosa yang bersifat horisontal, sudah harus dibereskan sebelum Yom Kippur (Yom=hari; kippur=pendamaian/pengampunan).

     Kata "Kippur" dalam bahasa Ibrani berasal dari akar kata כָּפַר, kafar, yang berarti "menebus" atau "mengadakan perdamaian." Kata ini paralel dengan kata Ibrani lainnya, פָּדָה, padah, yang artinya "tebus" seperti yang digunakan antara lain dalam Kel. 13:13, Im. 19:20, Ul. 9: 26, dan Mzm. 49:8. Jadi, Yom Kippur pada dasarnya adalah "hari tebusan" atau "hari penebusan" yang dalam hal ini merujuk kepada kurban penebusan yang diadakan oleh Yeshua atau Yesus sebagai Mesias.

    "Segala jenis dosa dan kenajisan ritual sepanjang tahun dipindahkan ke Bait Suci. Bersamaan dengan Hari Pendamaian tibalah waktu untuk pembersihan dosa-dosa dan kenajisan-kenajisan itu...Hari Pendamaian adalah waktu untuk menghilangkan dosa-dosa ini dari Bait Suci; proses ini dilaksanakan melalui darah kambing 'bagi Tuhan'" [alinea pertama: dua kalimat pertama; alinea ketiga: kalimat terakhir].

    Hari pembersihan Bait Suci.

    Maksud dari diadakannya "Hari Pendamaian" itu dijelaskan oleh Allah sendiri, "Dengan demikian ia mengadakan pendamaian bagi tempat kudus itu karena segala kenajisan orang Israel dan karena segala pelanggaran mereka, apa pun juga dosa mereka. Demikianlah harus diperbuatnya dengan Kemah Pertemuan yang tetap diam di antara mereka di tengah-tengah segala kenajisan mereka" (Im. 16:16; huruf miring ditambahkan).

    Sepanjang satu tahun dosa-dosa bangsa Israel, baik secara pribadi maupun sebagai satu umat, baik dosa rakyat biasa maupun dosa para pemimpin dan para imam, semuanya telah "dipindahkan" ke Bait Suci melalui ritual pemercikan dan pengolesan darah hewan kurban yang diadakan dari hari ke hari. Maka Allah menetapkan bahwa sekali setahun Bait Suci yang sudah menampung segala dosa umat Israel itu harus dibersihkan, dan hari itu disebut Hari Pendamaian. Pembersihan dosa dari Bait Suci itu dilakukan dengan mempersembahkan kurban lembu jantan untuk pengampunan dosa diri imam besar dan keluarganya (ay. 11), serta domba jantan untuk pengampunan dosa bangsa Israel (ay. 15), yang darahnya dipercikkan ke atas "tutup pendamaian" di dalam bilik mahasuci di dalam Bait Suci. Sebagian dari darah lembu jantan dan domba jantan itu digunakan juga untuk ritual "pendamaian bagi mezbah" yang berada di halaman dengan cara mengoleskannya pada tanduk-tanduk mezbah itu dan memercikannya juga ke bagian atas mezbah itu (ay. 18-19).

    Prosesi berikutnya adalah pemindahan dosa-dosa bangsa Israel dari Bait Suci kepada seekor kambing jantan, diperagakan melalui penumpangan tangan imam besar ke kepala binatang itu yang melambangkan pemindahan dosa bangsa Israel melalui tangan imam besar kepada kambing jantan itu. "Demikianlah kambing jantan itu harus mengangkut segala kesalahan Israel ke tanah yang tandus, dan kambing itu harus dilepaskan di padang gurun" (ay. 22).

 "Imam besar mengadakan pendamaian dengan darah kambing bagi Tuhan, membersihkan seluruh Bait Suci. Prosedur yang sama juga menghasilkan pentahiran umat itu sehingga ketika Bait Suci dibersihkan dari seluruh dosa-dosa orang banyak bangsa itu sendiri juga dibersihkan. Dalam pengertian ini Hari Pendamaian itu unik, sebab hanya pada hari itu saja baik Bait Suci maupun bangsa itu dibersihkan" [alinea kelima: tiga kalimat terakhir].

 Apa yang kita pelajari tentang upacara pentahiran tahunan Israel purba?

1. "Hari Pendamaian" (d/h Hari Gafirat) adalah upacara tahunan yang merupakan puncak dari seluruh ritual persembahan kurban sepanjang tahun bagi umat Israel purba. Pada hari itu dua upacara simbolik dilakukan: pembersihan Bait Suci dan pemindahan dosa bangsa Israel kepada seekor kambing jantan.

2. Upacara pembersihan Bait Suci didahului dengan pembersihan dosa imam besar dan keluarganya dengan mempersembahkan lembu jantan, dan pembersihan dosa bangsa Israel dengan mempersembahkan domba jantan. Darah kedua binatang itu dipercikkan ke atas "tutup pendamaian" dari tabut perjanjian yang berisi Sepuluh Hukum dan tersimpan di bilik mahasuci, juga pengolesan dan pemercikan darah ke atas mezbah.

3. Selanjutnya adalah upacara simbolik pemindahan dosa bangsa Israel kepada kambing jantan melalui penumpangan tangan pada kepalanya oleh imam besar. Kambing jantang yang disebut "azazel" itu kemudian dilepaskan hidup-hidup ke gurun (Im. 16:8, 10).

II. IMAM BESAR MELAMBANGKAN KRISTUS (Melampaui Pengampunan)

 Pengantara Allah dan manusia.

   Atas ketetapan Allah, hari pendamaian itu "harus diadakan oleh imam yang telah diurapi dan telah ditahbiskan untuk memegang jabatan imam menggantikan ayahnya" (Im. 16:32). Ini menegaskan bahwa jabatan imam pada zaman PL merupakan jabatan warisan yang sifatnya turun-temurun, imam biasa dari suku Lewi dan imam besar dari keluarga Harun. Sebenarnya dalam ayat ini tidak disebutkan secara tegas bahwa yang memimpin upacara hari pendamaian itu adalah seorang "imam besar" (Ibrani: כֹּהֵןגָּדוֹל, kohen gadowl), tetapi hanya disebut "imam" (כֹּהֵן, kohen). Namun ayat berikutnya memberi petunjuk bahwa "Ia harus mengadakan pendamaian bagi tempat maha kudus, bagi Kemah Pertemuan dan bagi mezbah, juga bagi para imam dan bagi seluruh bangsa itu, yakni jemaah itu" (ay. 33; huruf miring ditambahkan). Hanya imam besar yang dapat mengadakan "pendamaian" ataupun "pentahiran" bagi para imam yang lain, selain juga bagi Kemah Pertemuan atau Bait Suci dan bagi seluruh jemaah.

    Istilah "imam besar" baru disebutkan pertama kali dalam Imamat 21:10, yang dalam versi TB (Terjemahan Baru) diterjemahkan "imam yang terbesar" atau "Imam Agung" dalam terjemahan versi BIMK (Bahasa Indonesia Masa Kini). Penyebutan "imam besar" pertama dalam versi TB baru ditemukan pada kitab Bilangan 35:25. Tidak ada catatan yang pasti dalam Alkitab tentang jumlah imam besar yang pernah ada sepanjang sejarah berdirinya Kaabah Pertama (Bait Suci Musa) hingga Kaabah Kedua (Bait Suci Salomo). Tetapi menurut Josephus (37-100 TM), sejarahwan Yahudi berdarah imam yang nama aslinya ialah Yusuf bin Matityahu, mulai dari Harun (imam besar pertama) hingga Pinehas (imam besar terakhir sebelum Bait Suci Yerusalem dihancurkan tahun 70 TM) terdapat 83 imam besar, 13 di antaranya adalah keturunan langsung dari Harun yang melayani pada masa Kaabah Pertama.

    "Fungsi utama dari imam besar adalah menengahi antara Allah dan umat manusia. Mengenai Bait Suci, dia menjalankan sistem dan melakukan berbagai upacara kurban dan persembahan (Ibr. 8:3). Tugasnya pada Hari Pendamaian itu sangat besar. Dia melaksanakan hampir setiap upacara, terkecuali membawa kambing Azazel ke padang gurun, walaupun dialah yang memberi perintah untuk menjauhkan kambing itu" [alinea pertama].

 Melambangkan Kristus.

   "Imam Besar" mengandung dua makna, yaitu sebagai seorang yang mengantarai Allah dan manusia dalam upacara Hari Pendamaian dan sebagai seorang yang dikuduskan atau dikhususkan untuk tugas-tugas istimewa di Bait Suci. Berbicara tentang Yesus Kristus, penulis kitab Ibrani menulis: "Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa. Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai" (Ibr. 2:17-18). Imam besar dalam PL mengenakan efod atau penutup dada bertahtakan 12 batu mulia yang melambangkan ke-12 suku Israel, dan nama-nama mereka tercantum di pundaknya sebagai pertanda bahwa imam besar itu memikul nasib seluruh bangsa Israel. Sebagai "imam besar" Yesus Kristus tidak mengenakan atribut itu, tetapi salib yang dipikul-Nya merupakan lambang nyata bahwa nasib umat manusia--bukan saja kedua belas suku Israel--semuanya berada di pundak-Nya.

     "Pada Hari Pendamaian, imam 'agung' itu, sebagaimana dia juga disebut, menjadi contoh hidup tentang Kristus. Sama seperti perhatian umat Allah terpusat pada imam besar, Yesus adalah pusat yang eksklusif dari perhatian kita. Sebagaimana aktivitas-aktivitas imam besar di bumi membawa pembersihan kepada jemaah, demikianlah pekerjaan Yesus di Bait Suci surgawi melakukan hal yang sama untuk kita (Rm. 8:34, 1Yoh. 1:9). Sama seperti satu-satunya pengharapan jemaah pada Hari Pendamaian berada pada imam besar, pengharapan kita satu-satunya adalah di dalam Kristus" [alinea kedua].

    Imam besar di zaman PL hanya untuk bangsa Israel purba saja, sedangkan Yesus Kristus adalah Imam Besar untuk seluruh umat manusia sepanjang zaman. Imam besar di zaman PL masih melakukan pelanggaran dan dosa sehingga dia sendiri juga harus memohon pengampunan atas dosa-dosa dirinya dan keluarganya dengan mempersembahkan kurban bakaran, tetapi Yesus Kristus adalah Imam Besar yang sempurna dan tak bercela. "Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka. Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat surga" (Ibr. 7:25-26).

 Apa yang kita pelajari tentang peran imam besar dalam upacara Hari Pendamaian?

1. Imam besar adalah pejabat tertinggi dalam pelayanan ibadah di Bait Suci PL, dan dialah yang berhak mengadakan upacara Hari Pendamaian setahun sekali di mana dia akan masuk ke dalam bilik mahasuci untuk mempersembahkan darah kurban ke atas tutup pendamaian demi pengampunan dosa seluruh jemaah Israel.

2. Tugas seorang imam besar adalah sebagai "pengantara" antara Allah dan manusia dalam hal mana dia memohon pengampunan dosa kepada Allah atas nama seluruh umat Israel. Imam besar melambangkan Yesus Kristus yang menjadi Pengantara Allah dan manusia untuk memohon keampunan sejati.
3. Tidak seperti imam besar PL yang harus lebih dulu mengadakan persembahan kurban untuk keampunan dosanya dan keluarganya sendiri sebelum memimpin upacara Hari Pendamaian, Yesus Kristus sebagai Imam Besar yang tidak berdosa dan sempurna tidak memerlukan prosesi seperti itu. Yesus adalah Imam Besar sejati.

III. SETAN DILAMBANGKAN (Azazel)

 Ditentukan atas undian.

   Khusus untuk upacara Hari Pendamaian imam besar harus menyediakan dua ekor kambing jantan yang diperolehnya dari rakyat Israel, yang satu melambangkan Kristus sebagai Penebus manusia dan satu lagi melambangkan Setan sebagai Penggoda manusia, yang penentuannya dilakukan melalui mekanisme undian. "Ia harus mengambil kedua ekor kambing jantan itu dan menempatkannya di hadapan Tuhan di depan pintu Kemah Pertemuan, dan harus membuang undi atas kedua kambing jantan itu, sebuah undi bagi Tuhan dan sebuah bagi Azazel. Lalu Harun harus mempersembahkan kambing jantan yang kena undi bagi Tuhan itu dan mengolahnya sebagai korban penghapus dosa. Tetapi kambing jantan yang kena undi bagi Azazel haruslah ditempatkan hidup-hidup di hadapan Tuhan untuk mengadakan pendamaian, lalu dilepaskan bagi Azazel ke padang gurun" (Im. 16:7-10).

    Istilah "Azazel" (Ibrani: עֲזָאזֵל) secara etimologis (asal kata) merupakan perpaduan dari kata עֵז, 'ez, yaitu "kambing" dan kata אָזַל, 'azal, yang artinya "pergi" atau "mengembara"; sehingga aza'zel, bisa berarti "kambing yang disuruh pergi" atau "kambing pengembara" (Strong, H5799). Kita tidak menemukan kata ini dalam semua versi Alkitab berbahasa Inggris, kecuali antara lain dalam New Revised Standard Version (NRSV), Today's English Version (TEV), Contemporary English Version (CEV) dan versi baru The Message (MSG). Alkitab versi-versi lain semisal King James dan New King James (KJV dan NKJV), New American Standard Version (NASV), New American Standard Bible (NASB), Revised Standard Version (RSV) dan New International Version (NIV) menggunakan istilah "scapegoat" yang padanan katanya dalam Bahasa Indonesia adalah "kambing hitam." Dalam Alkitab versi Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK) tercantum imbuhan keterangan seperti ini: "*Azazel: arti kata Ibrani ini tidak diketahui, mungkin merupakan nama roh jahat yang diam di padang gurung." Versi Terjemahan Lama (TL) menyebutnya "kambing yang hendak dihalaukan." Kita tidak menemukan penjelasan yang absah perihal asal-usul istilah "azazel" ini, yang ada umumnya bersifat penafsiran mitologis. Misalnya, "azazel" adalah malaikat-malaikat jahat yang disebut "Uza" dan "Azael" atau "raksasa-raksasa jahat" sebagaimana dimaksud dalam Kej. 6:2, 4.

 "Hal ini tidak mungkin berlebihan: ritual susulan menyangkut kambing yang hidup itu tidak ada hubungannya dengan pentahiran sesungguhnya dari Bait Suci atau jemaah itu. Kedua-duanya sudah ditahirkan...Ritual dengan kambing yang hidup itu adalah upacara yang merampungkan pembuangan dosa terakhir. Pertama-tama dosa akan ditanggungkan ke atas dia yang bertanggungjawab untuk itu kemudian dibawa pergi dari jemaah untuk selama-lamanya. 'Pendamaian' telah dilakukan atas hal itu dalam pengertian menghukum (Im. 16:10), sementara kambing itu memikul tanggungjawab akhir untuk dosa" [alinea pertama: dua kalimat terakhir; alinea ketiga].

 Dosa dibuang dan dilupakan.

   Sebagaimana diatur oleh Tuhan bahwa pada upacara Hari Pendamaian itu, selain persembahan kurban berupa lembu jantan dan domba jantan, juga harus disediakan dua ekor kambing jantan. Kedua kambing jantan itu harus diterimanya dari umat Israel. "Dari umat Israel ia harus mengambil dua ekor kambing jantan untuk korban penghapus dosa dan seekor domba jantan untuk korban bakaran" (Im. 16:5; huruf miring ditambahkan). Perhatikan bahwa sekalipun kambing yang satu dipersembahkan sebagai kurban bakaran dan yang lainnya sebagai "kambing azazel" yang dibiarkan hidup tetapi dibuang ke padang gurun, namun sebagai satu kesatuan kedua binatang itu sama-sama memerankan simbol penghapusan dan pendamaian. Allah berkata, "Lalu Harun harus mempersembahkan kambing jantan yang kena undi bagi Tuhan itu dan mengolahnya sebagai korban penghapus dosa. Tetapi kambing jantan yang kena undi bagi Azazel haruslah ditempatkan hidup-hidup di hadapan Tuhan untuk mengadakan pendamaian, lalu dilepaskan bagi Azazel ke padang gurun" (ay. 9-10; huruf miring ditambahkan).

    Sementara kambing pertama yang dipersembahkan sebagai persembahan kurban itu melambangkan Yesus Kristus yang mati di atas salib untuk penebusan dosa manusia, kambing kedua yang terkena undi untuk "dilepaskan bagi Azazel ke padang gurun" itu juga mengibaratkan pemikul dosa manusia yang akan membawanya kepada Azazel, meskipun kambing kedua itu tidak melambangkan Kristus. "Harun harus meletakkan kedua tangannya ke atas kepala kambing jantan yang hidup itu dan mengakui di atas kepala kambing itu segala kesalahan orang Israel dan segala pelanggaran mereka, apa pun juga dosa mereka; ia harus menanggungkan semuanya itu ke atas kepala kambing jantan itu dan kemudian melepaskannya ke padang gurun dengan perantaraan seseorang yang sudah siap sedia untuk itu. Demikianlah kambing jantan itu harus mengangkut segala kesalahan Israel ke tanah yang tandus, dan kambing itu harus dilepaskan di padang gurun" (ay. 21-22; huruf miring ditambahkan). Kambing jantan yang kedua itu memperagakan janji Allah yang akan "menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut" (Mi. 7:19).

    Pena inspirasi menulis: "Kambing hitam itu, yang memikul dosa-dosa Israel, diusir 'ke daerah tandus yang tidak didiami' (Im. 16:22, BIMK); begitulah Setan, sambil memikul kesalahan dari seluruh dosa-dosa yang telah dia sebabkan sehingga umat Allah lakukan, selama seribu tahun akan dipenjarakan di bumi yang akan dibuat tandus, tanpa penghuni, dan pada akhirnya dia akan menderita hukuman dosa sepenuhnya dalam neraka yang akan membinasakan semua orang jahat. Demikianlah rencana keselamatan yang agung itu akan mencapai penyelesaiannya dalam penghapusan dosa terakhir dan kelepasan semua yang telah rela menolak kejahatan" (Ellen G. White, The Great Controversy, hlm. 486).

 Apa yang kita pelajari tentang kambing Azazel dan makna yang digambarkannya?

1. Peribadatan di Bait Suci PL yang sarat dengan simbol itu mencapai puncaknya pada upacara Hari Pendamaian ketika diadakan ritual pentahiran mezbah, Bait Suci, dan bangsa Israel sebagai satu umat. Disebut "hari pendamaian" sebab pada hari itu imam besar "mendamaikan" perseteruan antara Allah dan umat-Nya karena dosa.

2. Selain lembu jantan dan domba jantan sebagai persembahan kurban, binatang lain yang dilibatkan dalam upacara paling penting bagi umat Israel purba itu adalah dua ekor kambing jantan. Undian adalah prosedur yang ditetapkan Allah untuk menentukan mana yang akan menjadi persembahan kurban dan mana yang akan dibuang ke gurun sebagai pemikul dosa bangsa itu.

3. Secara bersama-sama kedua kambing jantan itu memperagakan pengampunan dan penghapusan dosa, yang satu mati sebagai kurban bakaran dan yang lainnya dibuang ke gurun sebagai "kambing hitam" (azazel). Tetapi "azazel" itu hanya ada di zaman PL sebagai lambang, dalam dunia nyata kita tidak dapat mencari "kambing hitam" untuk perbuatan dosa yang kita sendiri sengaja lakukan.

IV. PUNCAK PENGAMPUNAN DOSA (Pada Hari Pendamaian)

 "Hari Pendamaian" bagi Israel purba.

   Sifat pokok dari "hari pendamaian" (Ibrani: Yom Kippur; Inggris: Day of Atonement) dalam Perjanjian Lama adalah penghapusan dosa yang dalam hal ini bersifat kolektif bagi bangsa Israel purba sebagai satu umat atau jemaah. Inilah titik kulminasi dari segala upacara persembahan kurban bakaran sepanjang tahun sebagai ritual penghapusan dosa secara perorangan yang dilakukan setiap hari di halaman Bait Suci. Pada hari pendamaian itu diadakan juga ritual pentahiran atau pembersihan mezbah dan Bait Suci, yaitu upacara untuk membersihkan dosa-dosa bangsa Israel yang selama satu tahun telah "dipindahkan" ke mezbah dan Bait Suci. Kita bisa bayangkan betapa mezbah itu berbau amis oleh darah-darah hewan kurban yang dicurahkan ke bagian samping dan bawah mezbah itu. Tetapi pembersihan mezbah dan Bait Suci itu tidak dilakukan dengan air melainkan dengan darah hewan kurban juga. Katakanlah, darah "dibersihkan" dengan darah.

    Tujuan utama dari "Hari Pendamaian" bagi bangsa Israel purba ialah "karena pada hari itu harus diadakan pendamaian bagimu untuk mentahirkan kamu. Kamu akan ditahirkan dari segala dosamu di hadapan Tuhan" (Im. 16:30; huruf miring ditambahkan). Versi BIMK menerjemahkan ayat ini: "Pada hari itu harus dilakukan upacara untuk menyucikan bangsa Israel dari segala dosa mereka supaya mereka bersih" (huruf miring ditambahkan). Pada hari itu seluruh bangsa Israel harus menjalankan dua hal. "Itu harus menjadi suatu sabat, hari perhentian penuh bagimu, dan kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa" (Im. 23:32; huruf miring ditambahkan). Dalam tradisi bangsa Israel, berhenti bekerja berarti "pengudusan" sedangkan berpuasa menandakan "kerendahan dan kesungguhan hati." Jadi, hari pendamaian adalah hari yang dikuduskan secara penuh dan merendahkan diri dengan sungguh-sungguh. Dua ketentuan ini serius, sebab siapa saja di antara mereka yang "tidak merendahkan diri dengan berpuasa, haruslah dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya" (ay. 29), dan mereka "yang melakukan sesuatu pekerjaan pada hari itu, orang itu akan Kubinasakan dari tengah-tengah bangsanya" (ay. 30).

    "Hari Pendamaian sesungguhnya tidak kurang dari soal hidup dan mati. Hal itu menuntut kesetiaan sempurna dari orang percaya kepada Allah...Dengan mengabaikan apa yang Allah telah rencanakan untuk diperagakan pada hari ini, orang itu membuktikan dirinya tidak setia kepada Allah" [alinea kedua: kalimat terakhir; alinea ketiga: kalimat terakhir].

 "Hari Pendamaian" bagi kita sekarang.

    Bagi masyarakat Yahudi zaman ini, "Yom Kippur" adalah salah dari dua hari raya yang untuk merayakannya pasti akan membawa mereka ke sinagog; hari raya lainnya yang sama penting dengan itu adalah "Rosh Hashanah" atau tahun baru Yahudi, sepuluh hari sebelum Yom Kippur. Banyak orang Yahudi perantauan sekarang ini yang jarang beribadah ke sinagog, tapi pada hari raya Yom Kippur dan Rosh Hashanah mereka pasti menyempatkan diri untuk pergi ke sinagog. Sama seperti kebanyakan "orang Kristen" zaman moderen yang hanya pergi ke gereja dua kali setahun, yaitu pada waktu merayakan Natal dan Paskah.

 Kekristenan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Yom Kippur atau "hari pendamaian" sebagai tradisi Yahudi, tetapi secara teologis ide pengampunan dan pemindahan dosa yang diperagakan dalam upacara zaman Israel purba itu menjadi doktrin pokok yang diimani oleh setiap orang Kristen. Sebab sebagai umat percaya kita juga memerlukan pengantara yang melaksanakan tugas-tugas seorang imam besar, tetapi bukan dalam Bait Suci duniawi melainkan di surga. "Tetapi Kristus sudah datang sebagai Imam Agung dari hal-hal yang baik yang sudah ada. Kemah Tuhan di mana Ia mengerjakan tugas-Nya sebagai Imam Agung adalah kemah yang lebih agung dan lebih sempurna. Itu tidak dibuat oleh manusia; artinya bukan berasal dari dunia yang diciptakan ini. Kristus memasuki Ruang Mahasuci di dalam kemah itu hanya sekali saja untuk selama-lamanya. Pada waktu itu Ia tidak membawa darah kambing jantan atau darah anak lembu untuk dipersembahkan; Ia membawa darah-Nya sendiri, dan dengan itu Ia membebaskan kita untuk selama-lamanya" (Ibr. 9:11-12, BIMK).

    Bahwa Yesus Kristus hanya sekali saja memasuki Ruang Mahasuci dengan membawa darah-Nya sendiri itu mengibaratkan kematian-Nya di salib yang hanya satu kali saja dijalani, dan dengan itu "kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus...sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan" (Ibr. 10:10, 14). Namun ini bukan jaminan bahwa sekali kita sudah dikuduskan dan disempurnakan maka kita tidak akan pernah berdosa lagi sehingga pasti selamat. "Kita aman di dalam Kristus hanya selama kita hidup dalam iman, dan kita menyerahkan diri kepada-Nya, meminta kuasanya untuk kemenangan bilamana digoda dan memohon pengampunan-Nya apabila kita jatuh" [alinea terakhir: kalimat terakhir].

 Apa yang kita pelajari tentang Hari Pendamaian bagi umat Kristen sekarang ini?

1. Hari Pendamaian dalam PL adalah puncak upacara pengampunan dosa bagi bangsa Israel purba sepanjang tahun. Pada hari itu mezbah dan Bait Suci yang selama satu tahun "menampung" dosa-dosa sehari-hari bangsa itu dibersihkan, dan pada saat yang sama pembersihan itu juga membersihkan seluruh bangsa.

2. Pada hari pendamaian itu semua orang Israel harus berhenti dari segala bentuk pekerjaan sebagai tanda pengudusan, dan berpuasa sebagai tanda merendahkan diri. Pengampunan dosa adalah hal paling utama dalam peribadatan maupun keimanan, dan pengampunan hanya diperoleh melalui pengudusan diri dan kerendahan hati.

3. Pengampunan dosa tidak selalu identik dengan keselamatan. Yesus Kristus telah mengadakan "hari pendamaian" bagi seluruh umat manusia sepanjang masa melalui kematian penebusan-Nya di salib, sekali untuk selamanya. Tetapi bukan berarti bahwa pengampunan dosa cukup sekali saja untuk selamanya, sebagaimana dicontohkan dalam kisah seorang yang berhutang banyak dalam Matius 18:23-35.

V. NABI YANG DIKUDUSKAN (Yom Kippur Pribadi Yesaya)

 Allah di takhta surga.

    Melihat Allah duduk di takhta surga dalam kebesaran-Nya adalah sebuah pemandangan yang dahsyat bagi seorang manusia berdosa. Yesaya dalam ketakjubannya langsung berseru, "Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam" (Yes. 6:5). Kekudusan Allah adalah bagaikan api yang menghanguskan bagi orang berdosa yang najis seperti Yesaya, sekalipun dia seorang nabi Tuhan. Kesadaran inilah yang membuat dia gemetar ketakutan. Puji Tuhan, kemuliaan Allah tidak membinasakannya oleh karena seketika itu juga dirinya telah dikuduskan dengan bara api dari mezbah yang disentuhkan pada bibirnya oleh malaikat Serafim (ay. 6).

     Pada zaman dulu raja memiliki dwifungsi, yaitu sebagai kepala pemerintahan dan hakim. Jadi, takhta raja adalah juga takhta hakim yang mengadili dan memutuskan setiap perkara. Nabi Yesaya melihat "Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan jubah-Nya memenuhi Bait Suci" (ay. 1). Allah bisa saja menampilkan diri kepada Yesaya dalam pemandangan surgawi yang lain, tetapi dengan memperlihatkan takhta nan menjulang tinggi dan jubah nan lebar hingga menaungi Bait Suci mengandung arti tertentu yang berkaitan dengan pengadilan atas dosa dan pengampunan atas dosa. Yesaya bukan satu-satunya orang yang pernah menyaksikan Allah duduk di takhta-Nya di surga; ada sejumlah hamba Tuhan dalam Alkitab yang pernah mengalami penglihatan yang istimewa seperti itu. Di antaranya adalah Daud (Mzm. 9:4; 11:4), Yehezkiel (Yeh. 1:26; 10:1), Yeremia (Rat. 5:19), Daniel (Dan. 7:9), Mikha (1Raj. 22:19), Ayub (Ay. 26:9), dan Yohanes Pewahyu (Why. 4:1-11).

    "Dalam Yesaya 6:1-6 Yesaya melihat Raja surga duduk di atas sebuah takhta dalam Bati Suci, 'tinggi dan menjulang.' Penglihatan ini adalah suatu pemandangan penghakiman yang menampilkan Allah sebagai yang sedang datang untuk menghakimi (Yes. 5:16). Yesaya memandang Raja sejati yang dikenal dalam Injil Yohanes sebagai Yesus Kristus (Yoh. 12:41)" [alinea pertama].

 Hari pendamaian pribadi.

   Kalau "hari pendamaian" dalam PL itu sama dengan "hari pengudusan" atau "hari pengampunan dosa" maka pengalaman teofania nabi Yesaya, di mana dia memandang Allah di Bait Suci surgawi, dalam skala terbatas merupakan "hari pendamaian" bagi sang nabi secara pribadi. Perhatikan bahwa ada mezbah dengan api yang membara di atasnya yang menandakan sebuah ritual sedang berlangsung, dan asap yang memenuhi Bait Suci serta seruan "kudus" sampai tiga kali yang menunjukkan suasana peribadatan dan upacara yang suci. Pengakuan sang nabi tentang dirinya yang "najis bibir" adalah pengakuan dosa yang selalu mewarnai setiap upacara persembahan kurban di Bait Suci, dan pengudusan secara spontan yang ditunjukkan melalui tindakan Serafim yang menyentuh bibir sang nabi dengan bara dari mezbah.

    "Yesaya mengenali ini sebagai sebuah upacara pembersihan, dan dia tetap berdiam diri sementara bara api menyentuh bibirnya. Dengan begitu 'kesalahannya telah dihapus' dan 'dosanya telah diampuni' (Yes. 6:7). Kalimat pasif dalam ayat 7 itu menunjukkan bahwa pengampunan dikaruniakan oleh Dia yang duduk di atas takhta itu. Hakim yang adalah juga Juruselamat" [alinea ketiga: empat kalimat terakhir].

 Pena inspirasi menulis: "Sementara sang nabi mendengarkan, kemuliaan, kuasa, dan kebesaran Tuhan terbuka pada penglihatannya; dan di dalam cahaya wahyu ini kecemaran batinnya sendiri muncul secara terang benderang....Kerendahan hati Yesaya itu tulen. Sementara perbedaan yang kontras antara kemanusiawian dan tabiat ilahi dinyatakan kepadanya, dia merasa tidak cakap dan sekaligus tidak layak. Bagaimana dia bisa membicarakan kepada orang banyak itu tuntutan-tuntutan yang suci dari Yehovah?" (Ellen G. White, Gospel Workers, hlm. 22).

 Apa yang kita pelajari tentang pengalaman "hari pendamaian" pribadi bagi Yesaya?

1. Bait Suci menggambarkan secara gamblang bagaimana dosa telah memisahkan manusia dari Allah. Orang berdosa hanya boleh menghampiri Allah melalui imam, dan bilik mahasuci yang menjadi simbol hadirat Allah hanya boleh dimasuki oleh imam besar setahun sekali dengan persyaratan yang rumit dan ketat. Dosa membuat hubungan manusia dengan Allah jadi sangat birokratis.

2. Penglihatan nabi Yesaya menampilkan Allah yang kudus dalam suasana Bait Suci itu telah menyadarkan sang nabi tentang kenajisan dirinya karena dosa. Seorang manusia berdosa tidak dapat menghampiri takhta Allah--melalui doa ataupun ibadah--tanpa hatinya tergugah oleh kekudusan Allah dan akan kecemaran dirinya.

3. Pengalaman teofania dari nabi Yesaya itu berubah menjadi "hari pendamaian pribadi" ketika kenajisan dirinya dibersihkan oleh bara api dari mezbah melalui malaikat Serafim. Sesudah peristiwa itu Yesaya siap menjadi utusan Allah untuk menyampaikan pekabaran-pekabaran yang suci bagi umat Israel.

PENUTUP

 Pendamaian dituntaskan.

   Ritual pamungkas pada Hari Pendamaian ialah dilepaskannya kambing jantan yang terundi untuk secara simbolik menanggung dosa-dosa umat Israel itu ke gurun. Sebelumnya imam besar meletakkan tangannya ke atas kambing jantan yang dijuluki "Azazel" itu sambil mengutarakan segala dosa-dosa bangsa Israel, sebuah ritual yang melambangkan pemindahan dosa-dosa bangsa itu kepada binatang yang dijadikan sebagai "kambing hitam" untuk segala perbuatan dosa seluruh bangsa. Menurut tradisi Yahudi, selama masa Kaabah Kedua (Bait Suci yang dibangun oleh Salomo) kambing azazel itu akan dibawa oleh seorang yang telah ditentukan untuk itu dengan berjalan kaki sejauh 12 mil ke sebuah bukit batu yang curam untuk kemudian dicampakkan ke jurang di mana binatang itu mati. Namun kebenaran cerita yang tertulis dalam "Kitab Henokh" ini diragukan karena dianggap bukan sebagai kitab yang diilhamkan.

 Tapi terlepas dari bagaimana teknis pelaksanaannya, peragaan kambing jantan azazel itu adalah cara Allah untuk mengajarkan kepada bangsa Israel purba akan doktrin tentang pemindahan dosa umat manusia kepada Setan pada akhirnya. Dalam peristiwa yang nyata dosa umat manusia telah "dipikulkan" kepada Yesus sehingga Anak Allah itu harus mati di salib (1Ptr. 2:24), dalam peristiwa yang nyata juga dosa umat manusia akan "ditimpakan" kepada Setan yang sudah menyebabkan manusia jadi berdosa.

 "Dengan cara yang sama, bilamana pekerjaan pendamaian di Bait Suci surgawi telah diselesaikan, kemudian di hadapan Allah dan malaikat-malaikat surgawi serta rombongan umat tebusan, dosa-dosa umat Allah akan ditanggungkan ke atas Setan; dia akan dinyatakan bersalah atas segala kejahatan yang dia telah sebabkan mereka lakukan" [kalimat terakhir].

 "Dan kita sekarang mempunyai seorang imam yang agung, yang bertanggung jawab atas Rumah Allah. Sebab itu, marilah kita mendekati Allah dengan hati yang tulus dan iman yang teguh; dengan hati yang sudah disucikan dari perasaan bersalah, dan dengan tubuh yang sudah dibersihkan dengan air yang murni" (Ibr. 10:21-22, BIMK).

DAFTAR PUSTAKA:

1. Martin Probstle, BAIT SUCI -Pedoman Pendalaman Alkitab SSD,  Indonesia Publishing House, Oktober - Desember 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar