Minggu, 09 Agustus 2015

Mikha, Siapakah Seperti Allah? (7)

"UMAT ALLAH YANG ISTIMEWA (MIKHA)"
PENDAHULUAN
  
Apa yang dituntut Allah. Mikha berasal dari Moresyet, sekitar 40 Km baratdaya Yerusalem, sebuah desa di perbatasan Yehuda dengan Filistin. Masa pelayanannya diperkirakan mulai dari tahun 739 SM (awal pemerintahan raja Yotam di Yehuda) hingga tahun 686 SM (akhir pemerintahan raja Hizkia), waktu yang hampir bersamaan dengan masa pelayanan nabi Yesaya. Bahkan, kita menemukan satu bagian tulisan dari kedua nabi tersebut yang identik (lihat Mi. 4:1-3 dan Yes. 2:2-4). Meskipun nabi Mikha bermukim di Yehuda dan utamanya bernubuat untuk kerajaan di selatan itu--seperti juga nabi Yesaya--namun Tuhan menggunakan dia pula untuk bernubuat terhadap kerajaan Israel di utara. Mikha memulai pekabarannya dengan menyampaikan penglihatannya tentang apa yang bakal terjadi pada ibukota dari dua kerajaan itu, Samaria dan Yerusalem (Mi. 1:1).
 "Nabi Mikha melayani dalam salah satu masa paling kelam dari sejarah Israel. Negeri itu sudah lama terpecah menjadi dua kerajaan. Akhirnya, Asyur menamatkan kerajaan utara, dan Mikha dapat melihat kejahatan serta kekejaman yang menjalar ke dalam kerajaan Yehuda di selatan. Dia berkhotbah terhadap dosa-dosa yang fatal seperti ketidakjujuran, ketidakadilan, penyuapan, dan hal-hal yang mencurigakan" [alinea pertama: empat kalimat pertama].
 Menurut catatan sejarah, pada tahun 734 SM kerajaan Asyur telah menaklukkan Israel dan Yehuda lalu menjadikannya sebagai wilayah jajahan. Tahun 722 SM raja Salmaneser dari Asyur kembali menginvasi Samaria lalu memenjarakan raja Hosea dan penduduknya ditawan dalam pembuangan (2Raj. 17:3-6; 18:9-11). Delapan tahun kemudian Sanherib, raja Asyur yang lain, melakukan pengepungan ketat terhadap kota Yerusalem, dan hanya atas pernyataan kesanggupan raja Hizkia dari Yehuda untuk membayar upeti yang besar maka pengepungan itu diperlonggar (2Raj. 18:13-14).
 Pekabaran dari kitab Mikha dapat dibagi ke dalam tiga bagian utama:
1. Allah akan datang dengan kuasa yang besar (Mi. 1:1--2:13);
  a. Penghakiman atas Israel dan Yehuda (1:1-16)
  b. Alasan dari penghakiman tersebut (2:1-11)
  c. Umat yang sisa yang dipulihkan (2:12-13).
2. Kepemimpinan baru atas Yerusalem/Yehuda (Mi. 3:1--5:14);
  a. Tuhan akan menggusur pemimpin-pemimpin yang jahat (3:1-12)
  b. Pemimpin-pemimpin baru akan dipilih (4:1-5:15).
3. Seruan untuk datang kepada Tuhan (Mi. 6:1--7:20);
  a. Datang dengan peribadatan yang benar (6:1-16)
  b. Datang dengan pengharapan dan bukan putus asa (7:1-20).
 Nama Mikha (Ibr.: מִיכָהMiykah) menyandang arti "siapakah seperti Allah" dan tulisan nabi ini berada dalam urutan ke-6 dari 12 "nabi kecil" atau "nabi mini" yang menjadi jurukabar Allah bagi umat-Nya, khususnya kaum Yehuda. Salah satu tema dari pekabaran sang nabi ialah mengkhotbahkan hal-hal yang dituntut Allah dari umat-Nya. "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mi. 6:8, ayat tema pelajaran pekan ini).
1.   BEBAN MENTAL HAMBA TUHAN (Hati Nabi yang Menderita)
 Tekanan batin. Barangkali nabi Mikha tergolong seorang yang sangat perasa dan benar-benar mencintai bangsanya. Itulah sebabnya, mengetahui akan kedahsyatan hukuman Allah yang bakal menimpa negeri dan bangsanya, hati sang nabi menjadi sangat sedih dan batinnya tertekan. Pekabaran yang harus disampaikan kepada bangsanya itu telah menjadi beban pikiran bagi sang nabi. "Karena inilah aku hendak berkeluh kesah dan meratap, hendak berjalan dengan tidak berkasut dan telanjang, hendak melolong seperti serigala dan meraung seperti burung unta: sebab lukanya tidak dapat sembuh, sudah menjalar ke Yehuda, sudah sampai ke pintu gerbang bangsaku, ke Yerusalem!" (Mi. 1:8-9).
 "Pemikiran tentang penghakiman yang menghancurkan itu menghasilkan suatu tekanan yang sesungguhnya dalam kehidupan Mikha. Oleh karena panggilan kenabiannya mengikat dirinya dengan maksud Allah, dia tidak mempunyai pilihan kecuali mengumumkan apa yang akan terjadi dalam waktu dekat. Tetapi sang nabi juga menyayangi bangsanya di mana dia ikut termasuk, maka gambaran tentang penawanan mereka membawa dia kepada ratapan pribadi. Sering sekali berita-berita buruk memberi pengaruh yang sangat meluluhkan pikiran dan tubuh nabi itu" [alinea kedua].
 Mikha adalah contoh dari seorang hamba Tuhan yang bekerja dengan roh dan kesungguhan hati. Nabi ini tidak menempatkan dirinya berada di atas ataupun terpisah dari umat terhadap siapa dia sedang menyampaikan pekabaran Allah, tetapi memposisikan diri sebagai bagian dari sasaran pekabarannya sendiri. Mikha tidak berkhotbah dengan pretensi seolah-olah khotbahnya adalah untuk jemaat saja sambil mengistimewakan diri sendiri. Dia juga bukan tipe hamba Tuhan yang bekerja dengan sikap acuh tak acuh dan tanpa perasaan, seolah robot yang tidak dapat merasakan pergumulan hidup dan perjuangan iman seseorang. Pokoknya menegur dan mencela kekurangan dan kelemahan orang lain, mau dengar atau tidak, mau selamat atau tidak, terserah pribadi masing-masing. Mikha tidak seperti itu.
 Pergumulan sebagai nabi. Banyak nabi-nabi PL maupun rasul-rasul PB yang juga harus bergumul dengan diri mereka sendiri berhubung dengan kewajiban dan tanggungjawab moral yang mereka pikul, khususnya dalam menghadapi tantangan-tantangan dalam pekerjaan mereka. Musa mengeluh atas tuntutan bangsa Israel yang menginginkan daging (Bil. 11:10-15); Elia mengeluh karena perlawanan orang Israel terhadap teguran sehingga mereka membunuh nabi-nabi (1Raj. 19:14); Yeremia menangisi kekerasan hati umat Israel sehingga ingin meninggalkan mereka (Yer. 8:21-9:2); Yehezkiel harus mengalami kematian istri tercinta tanpa boleh bersedih (Yeh. 24:15-18); dan Paulus mengutarakan berbagai penderitaan fisik yang dialaminya sebagai risiko dari pekerjaan penginjilannya (2Kor. 11:23-27).
 "Nabi-nabi Allah sangat banyak terlibat dalam pekabaran-pekabaran yang mereka kumandangkan. Mereka tidak menikmati berbicara tentang hal-hal mengerikan yang akan terjadi. Sering mereka menggunakan ratapan kesedihan untuk mengungkapkan reaksi mereka terhadap malapetaka-malapetaka yang akan datang. Penderitaan mereka itu nyata. Bagi para pendengar mereka, pekabaran itu berisi kata-kata nubuatan dan juga isyarat-isyarat tubuh yang acapkali memperlihatkan suatu penderitaan mendalam yang muncul dari hati sanubari" [alinea ketiga: lima kalimat pertama].
 Untuk mengikut Tuhan memerlukan semacam kesiapan batin dan keberanian untuk menderita yang digambarkan Yesus sebagai masuk melalui "pintu dan jalan yang sempit" (Mat. 7:13-14); untuk menjadi hamba Tuhan atau pelayan dalam pekerjaan Tuhan menuntut lebih dari itu, terkadang sampai mengalami seperti Kristus sendiri yang "taat sampai mati" (Flp. 2:8). Tetapi kata rasul Petrus, "Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu. Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau. Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu" (1Ptr. 4:14-16).
 Apa yang kita pelajari tentang penderitaan batin nabi Mikha?
1. Mikha bukan saja sekadar menyampaikan pekabaran Tuhan kepada bangsa Israel lewat kata-kata, tapi juga dengan melibatkan perasaan. Alasan utama dari keprihatinannya yang besar itu adalah karena dia mengasihi bangsanya sendiri.
2. Para nabi dan rasul dalam Alkitab patut dijadikan sebagai panutan oleh hamba-hamba Tuhan pada zaman akhir, yaitu dengan menghidupkan nilai-nilai pekabaran Tuhan dalam kehidupan mereka sehari-hari.
3. Salah satu ciri dari pengabdian sejati dalam pekerjaan Tuhan adalah dorongan hati yang kuat (passion), yaitu suatu perasaan yang ingin menyerahkan diri secara keseluruhan demi suksesnya pekerjaan Tuhan. Seringkali seorang pelayan Tuhan harus mengorbankan perasaan bahkan diri mereka.
2. PENINDASAN TERANG-TERANGAN (Mereka yang Merancang Kelaliman)
 Hukum rimba. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, nabi Mikha hidup dalam zaman kegelapan bangsa Israel yang tidak lagi mempedulikan nilai-nilai moral yang diajarkan agama. Hal itu tercermin dalam amaran nabi itu: "Celakalah orang-orang yang merencanakan kejahatan sementara berbaring di tempat tidur pada waktu malam, lalu melaksanakannya pada waktu pagi karena mereka mempunyai kekuatan untuk melakukannya. Jika mereka menginginkan sebuah ladang, mereka merampasnya. Jika mereka menginginkan sebuah rumah, mereka menyerobotnya. Baik harta maupun keluarga, tidak ada yang aman" (Mi. 2:1-2, BIMK).
 Keadaan "hukum rimba" seperti ini biasanya terjadi di satu masyarakat dalam masa peralihan kekuasaan, dan biasanya menguntungkan pihak-pihak tertentu yang memiliki kekuatan dan kesempatan. Secara nasional kita pernah mengalami keadaan seperti ini sekitar tahun 1966 ketika oknum-oknum tertentu yang memiliki kekuasaan dengan seenaknya saja menguasai aset-aset orang lain. Tetapi penindasan serta perampasan hak dalam skala terbatas dan dalam bentuk yang terselubung dapat terjadi kapan saja, apabila orang-orang yang sedang memangku jabatan berusaha memaksakan kehendak sendiri kepada orang-orang lain yang menjadi bawahannya. Adalah hal yang ironis sekali jika pejabat-pejabat publik sekarang ini kian menjauhi tindakan semena-mena sejalan dengan berkembangnya era reformasi, tetapi sebagian pemimpin di lingkungan pekerjaan Tuhan justeru hendak memupuk perilaku seperti itu.
 Merancang kelaliman "sementara berbaring di tempat tidur pada waktu malam" menunjukkan bahwa perbuatan mereka itu adalah sebuah kejahatan terencana. Allah membenci dosa, apalagi dosa yang direncanakan. Menurut tudingan Mikha, kelompok orang-orang yang mempunyai kekuatan itu merancang niat di atas pembaringan mereka lalu "melaksanakannya pada waktu pagi" yang menggambarkan moral mereka itu sudah sangat bejat. Menurut Alkitab, tradisi masyarakat zaman dulu biasanya menyelenggarakan pengadilan di pintu gerbang kota yang diadakan pada pagi hari (Rut 3:13; 2Sam. 15:2). Jadi, bila perbuatan penindasan itu dilakukan pada pagi hari, saat di mana keadilan mestinya diteguhkan, maka perbuatan melawan hukum yang mereka lakukan "pada waktu pagi" benar-benar menunjukkan sikap menantang rasa keadilan dan suatu kepongahan luar biasa.
 Tokoh-tokoh pemimpin Israel sedang membuktikan ketidaksetiaan terhadap keyakinan mereka; nabi-nabi palsu bermunculan dengan pekabaran-pekabaran yang menyesatkan; bahkan sebagian imam-imam mengajar kalau diberi upah. Namun para pemimpin dalam kemurtadan itu tetap memelihara bentuk-bentuk peribadatan ilahi dan menyatakan termasuk di antara umat Allah" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].
 Tertipu oleh status. Bangsa Israel purba tampaknya terlalu yakin dengan "status istimewa" yang mereka sandang sebagai umat perjanjian keturunan Abraham. Jadi, tatkala Mikha mengumumkan tentang bencana yang akan menimpa Israel akibat dosa-dosa mereka, orang banyak itu melakukan interupsi. "Janganlah ucapkan nubuat," kata mereka itu, "orang tidak mengucapkan nubuat seperti itu! Noda tidak akan menimpa kita" (Mi. 2:6). "Bukankah TUHAN ada di tengah-tengah kita! Tidak akan datang malapetaka menimpa kita!" (Mi. 3:11). Betul, tidak seharusnya malapetaka yang dinubuatkan itu menimpa Israel karena kedudukan mereka yang berbeda dari bangsa-bangsa kafir. Tetapi, mengingat status mereka yang istimewa itu, seharusnya pula mereka memelihara perilaku yang sepatutnya. Kenyataannya tidak demikian, sehingga sang nabi berkata kepada mereka: "Baiklah dengar, hai para kepala di Yakub, dan hai para pemimpin kaum Israel! Bukankah selayaknya kamu mengetahui keadilan, hai kamu yang membenci kebaikan dan yang mencintai kejahatan?" (Mi. 3:1-2).
 "Salah satu persoalan yang bangsa Ibrani itu terus hadapi adalah penipuan sehubungan dengan status mereka yang istimewa sebagai umat Allah--yaitu pengetahuan mereka akan Allah yang benar, hal yang berlawanan dengan kebodohan penyembahan berhala kekafiran (baca Mzm. 115:4-9)--sehingga entah bagaimana membuat mereka itu kebal terhadap ganjaran ilahi. Namun demikian, kebenaran yang dahsyat ialah bahwa memang benar karena mereka memiliki status yang istimewa di hadapan Allah itulah maka mereka akan dianggap jauh lebih bersalah karena dosa-dosa mereka" [alinea ketiga: dua kalimat pertama].
 Pena inspirasi menulis: "Alasan mengapa kita tidak memiliki berkat Tuhan yang lebih banyak ialah karena orang-orang yang mengaku umat Allah melayani Dia dengan hati yang terbagi, persis seperti yang dilakukan Israel purba. Mereka mengaku sebagai penyembah-penyembah Allah, tetapi banyak yang menyembah berhala-berhala seperti yang dilakukan orang Ibrani...Mereka yang pura-pura melayani Tuhan namun mencintai diri sendiri, yang berusaha untuk melaksanakan proyek-proyek ambisius, adalah orang-orang yang cinta akan kesenangan, orang-orang yang cinta diri, dan jauh lebih berdosa ketimbang Israel purba karena terang yang lebih besar yang menerangi jalan mereka." (Ellen G. White, Review and Herald, 21 Mei 1895).
 Apa yang kita pelajari tentang orang-orang yang merancang kelaliman?
1. "Kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan yang mutlak korupnya juga mutlak" demikian kata sejarahwan dan moralis John Edward Acton, atau yang lebih dikenal sebagai Lord Acton (1834-1902). Ucapan ini menjadi sangat terkenal karena menemukan pembenarannya dalam praktik-praktik di ruang publik.
2. Korupsi (=tindakan penyelewengan) bisa terjadi karena ada niat dan didukung oleh "kesempatan" (baca: kekuasaan/kewenangan). Pada zaman nabi Mikha, fenomena yang terjadi di kalangan Israel purba ini telah menimbulkan suasana "hukum rimba" (siapa kuat, dia menang).
3. Bangsa Israel purba berani berbuat kejahatan ini karena dininabobokan oleh "status istimewa" yang disandang mereka, seolah-olah Tuhan tidak akan menghukum umat kesayangan-Nya. Tetapi kenyataan berbicara lain, umat Tuhan justeru lebih dulu dihukum karena mereka lebih tahu apa yang baik dan benar.
3. RAJA SEGALA RAJA (Penguasa Baru Dari Betlehem)
 Kegagalan para pemimpin. Bukan secara tiba-tiba nabi Mikha beralih kepada nubuatan tentang Seorang pemimpin yang akan muncul dari Betlehem. Pengalihan fokus pekabaran ini mungkin sebagai pertanda kekecewaan Allah terhadap para pemimpin di Yehuda dan Israel yang muncul silih-berganti. Sedikit sekali dari para pemimpin umat Tuhan itu yang sungguh-sungguh adalah pemimpin yang mumpuni (Jw.=cakap melaksanakan tugas) dan secara moral adalah pemimpin yang layak dalam pemandangan Tuhan.
 Mari kita buat rekapitulasi. Sejak era pemerintahan monarki berlaku di Israel, 3 orang raja telah berkuasa pada waktu kerajaan itu masih bersatu. Saul, raja pertama (1050-1010 SM), hanya permulaannya saja baik tetapi pada akhirnya berlaku jahat di mata Tuhan. Hanya Daud, raja kedua (1010-970 SM), meski sempat tersandung "kasus Batsyeba" tapi secara umum adalah seorang raja yang paling taat dan paling berkenan dalam pemandangan Tuhan. Salomo, raja ketiga (970-930 SM), pada awalnya sangat baik namun tergelincir di akhir masa kekuasaannya, beruntung dia sempat bertobat. Setelah kerajaan Israel pecah, dari 19 raja-raja yang pernah memerintah kerajaan Israel di utara yang memisahkan diri itu, mulai dari Yerobeam I selaku raja pertama (931-910 SM) hingga Hosea sebagai raja terakhir (910-909 SM), tidak satupun yang baik alias semuanya jahat terhadap Tuhan. Dari 20 raja-raja yang pernah memerintah Yehuda di selatan, mulai dari Rehobeam (931-913 SM) sampai Zedekia (597-586 SM), cuma 8 orang yang baik (40%) sedangkan kebanyakannya berlaku jahat di hadapan Tuhan.
 Akhirnya, memang hanya Yesus Kristus yang layak disebut Pemimpin umat Allah sejati, tidak saja bagi bangsa Israel melainkan untuk seluruh bangsa di dunia. Sebagai Pemimpin yang ideal, "Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran, dan firman TUHAN dari Yerusalem. Ia akan menjadi hakim antara banyak bangsa, dan akan menjadi wasit bagi suku-suku bangsa yang besar sampai ke tempat yang jauh" (Mi. 4:2-3).
 Mesias dinubuatkan. Lalu sang nabi bernubuat, "Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala...Maka ia akan bertindak dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan TUHAN, dalam kemegahan nama TUHAN Allahnya; mereka akan tinggal tetap, sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi, dan dia menjadi damai sejahtera" (Mi. 5:1, 3-4).
 "Dari sebuah kota kecil di Yudea akan datang Seorang dari kekekalan untuk menjadi penguasa Israel. Mikha 5:2 adalah salah satu dari ayat-ayat Alkitab paling berharga yang ditulis demi untuk memperkuat pengharapan umat manusia yang dengan tidak sabar menantikan Pemimpin ideal yang dijanjikan oleh para nabi. Pemerintahan-Nya akan mengantarkan suatu masa kekuatan, keadilan, dan kedamaian (Mi. 5:4-6)" [alinea pertama].
 Betlehem (Ibrani: בֵּית  לֶחֶםBeyth Lechem, secara harfiah berarti "Rumah Roti"), atau nama lainnya adalah Efrata (Ibrani: אֶפְרָת'Ephraath, artinya "keberhasilan" atau "berkelimpahan"), memang hanyalah sebuah kota kecil yang kedudukannya tidak berarti apa-apa di seluruh tanah Israel. Sampai sekarang pun kota kecil di sebelah selatan Yerusalem itu, yang secara geo-politik termasuk wilayah Palestina (pernah direbut Israel pada Perang Enam Hari tahun 1967, tapi kemudian dikembalikan kepada otoritas Palestina berdasarkan Perjanjian Tepi Barat dan Jalur Gaza tahun 1995) menurut sensus terakhir hanya berpenduduk sekitar 25.000 jiwa. Tetapi Allah telah memilih kota kelahiran raja Daud itu untuk menjadi tempat lahirnya Yesus Kristus, Mesias dan Raja segala raja, yang menjelma sebagai manusia untuk missi yang jauh lebih besar dan lebih penting daripada sekadar menjadi raja Israel. 
 Tidak seperti raja-raja Israel maupun Yehuda yang harus dengan segala perjuangan untuk mempertahankan kekuasaannya, Yesus Kristus sebagai Raja segala raja yang dinubuatkan itu akan berkuasa selama-lamanya. "TUHAN akan menjadi raja atas mereka di gunung Sion, dari sekarang sampai selama-lamanya" (Mi. 4:7). Wilayah kekuasaan-Nya juga bukan sebatas dua kerajaan bangsa Ibrani itu, "sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi" (Mi. 5:3).
 "Betapapun luar biasanya gagasan tersebut, itu adalah salah satu kebenaran paling mendasar dalam Kekristenan: Allah Pencipta mengenakan kemanusiaan pada Diri-Nya dan di dalam kemanusiaan itu menawarkan Diri-Nya sebagai suatu kurban bagi dosa-dosa kita. Kalau anda mengambil waktu untuk merenungkan apa yang hal ini ajarkan kepada kita perihal nilai hidup kita dan apa artinya diri kita bagi Allah sebagai pribadi-pribadi, anda bisa memperoleh sebuah pengalaman yang mengubah kehidupan" [alinea terakhir: kalimat ketiga dan keempat].
 Apa yang kita pelajari tentang Penguasa baru yang akan muncul dari Betlehem?
1. Kegagalan demi kegagalan para pemimpin Israel sepanjang sejarah bangsa itu sebagai umat pilihan telah mengecewakan hati Tuhan. Tanpa pemimpin yang benar dalam pemandangan Tuhan tidak mungkin satu umat dapat melaksanakan rencana-rencana Tuhan dengan benar.
2. Dalam kitab nabi Mikha--bersama dengan kitab nabi Yesaya (baca Yesaya 53)--kedatangan Mesias dinubuatkan secara khusus, sekalipun tidak secara eksplisit menyebutkan nama itu. Pekabaran tentang Mesias (Ibr.: מָשִׁיחַ
mashiyach) yaitu "seorang yang diurapi" (baca Dan. 9:25-26), sejatinya adalah berita kelepasan.
3. Mesias, yang kita kenal dalam sosok Yesus Kristus, adalah Raja segala raja yang telah ditentukan sejak awal untuk berkuasa di seluruh alam semesta (baca Mat. 28:18), yang telah turun dari surga menjelma sebagai manusia melalui kaum Yehuda (Rm. 9:5).
4. TUNTUTAN ALLAH DARI UMATNYA (Apakah yang Baik)
 Tuduhan Allah. Mikha pasal 6 dibuka dengan suasana semacam "gelar perkara" antara Allah dengan Israel. "Dengarlah apa yang dituduhkan Tuhan kepada Israel," kata sang nabi (Mi. 6:1, BIMK). Lalu, sebagai jurubicara Allah, Mikha melancarkan tudingan berikut kepada bangsa itu: "Hai umat-Ku, apa yang telah Kuperbuat terhadap kamu? Dalam hal apakah Aku menyusahkan kamu? Jawablah Aku!" (ay. 3, BIMK). Selanjutnya nabi itu mengungkit kembali apa yang Tuhan telah lakukan bagi mereka, mulai dari membebaskan nenek moyang mereka dari tanah perhambaan Mesir sampai mengantarkan mereka masuk ke tanah perjanjian Kanaan dengan mengalahkan musuh-musuh yang hendak menghalangi mereka. Sesudah itu diungkapkanlah berbagai tindak kejahatan yang mereka lakukan terhadap sesama mereka yang lemah, yaitu kekerasan fisik dan penindasan yang didorong oleh keserakahan akan kekayaan.
 "Dalam menanggapinya, orang yang masuk ke kaabah untuk beribadah bertanya apa yang dia bisa lakukan untuk menyenangkan Allah. Apakah yang merupakan persembahan yang berterima: anak lembu berumur setahun, sejumlah besar domba jantan, minyak yang berlimpah, atau bahkan anak sulung dari orang yang beribadah? Dari daftar persembahan yang dicatat dalam ayat ini terdapat suatu peningkatan bertahap yang stabil menyangkut ukuran dan nilainya" [alinea pertama: tiga kalimat terakhir].
 Inilah cara berpikir yang lazim di kalangan orang-orang yang menempatkan uang di atas segalanya. Karena mereka sendiri serakah dan mata duitan lalu mengira orang lain pun dapat ditenangkan atau dikuasai dengan uang, dan bahwa setiap persoalan dapat dibereskan dengan uang atau barang berharga. Orang-orang seperti ini sudah terbiasa dengan praktik suap-menyuap, dan menyangka bahwa siapa saja bisa ditaklukkan dengan sogokan. Mentalitas seperti ini juga dimiliki oleh para pemuka Israel, dan celakanya mereka ini beranggapan bahwa Tuhan pun bisa disogok dengan pemberian dan persembahan. Bukankah di antara umat Tuhan dewasa ini ada juga yang berpikiran seperti itu, yang berharap bahwa dengan menyumbangkan sejumlah uang bagi pekerjaan Tuhan maka mereka bisa menyenangkan hati Tuhan?
 Penurutan lebih baik daripada persembahan. Kepada mereka ini nabi Mikha berkata: "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mi. 6:8; huruf miring ditambahkan). Hal yang sama pun telah ditekankan oleh Yesus ketika berbicara kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kelompok yang disebut-Nya sebagai "orang-orang munafik" karena rajin memberi persembahan tetapi "mengabaikan keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan" (Mat. 23:23).
 "Jawaban Mikha bukanlah sebuah wahyu baru yang menandakan suatu perubahan dalam tuntutan-tuntutan Allah. Pengorbanan dan pelayanan keimamatan bukanlah perhatian pertama Allah. Keinginan Allah yang terutama adalah mempunyai satu umat yang berlaku adil terhadap sesama mereka, dengan ketaatan dan kasih yang konsisten kepada Tuhan. Persembahan paling berlimpah yang manusia dapat berikan kepada Allah ialah penurutan" [alinea kedua: empat kalimat terakhir].
 Tidak lama setelah Saul diurapi sebagai raja, Tuhan melalui nabi Samuel menyuruh dia memerangi orang Amalek sebagai pembalasan atas perbuatan mereka yang dulu menghalang-halangi orang Israel ketika hendak memasuki Kanaan. Raja Saul paham betul tujuan dari missi tersebut. Itulah sebabnya dia menyuruh orang-orang Keni yang tinggal di antara orang Amalek untuk menyingkir, supaya orang-orang ini yang telah bersikap baik kepada bangsa Israel dulu bisa selamat. Sebab perintah Allah jelas dan tegas: Tumpas habis seluruh bangsa Amalek, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak, bahkan semua ternak mereka, tanpa belas kasihan! Tapi apa yang terjadi? Selain membiarkan hidup Agag, raja orang Amalek, Saul juga membawa pulang ribuan hewan ternak yang tambun dan berharga dengan alasan untuk dijadikan persembahan kurban kepada Tuhan. Terhadap alasan raja Saul itu, nabi Samuel mengucapkan satu kebenaran hakiki yang juga patut disadari oleh semua umat Tuhan sepanjang zaman: "Taat kepada Tuhan lebih baik daripada mempersembahkan kurban. Patuh lebih baik daripada lemak domba" (1Sam. 15:22, BIMK).
 Pena inspirasi menulis: "Pemberian-pemberian yang mahal dan kemiripan kesucian tidak dapat memenangkan kemurahan hati Allah. Untuk belas kasihan-Nya, Dia menuntut suatu roh penyesalan, sebuah hati yang terbuka terhadap terang kebenaran, kasih dan belas kasihan bagi sesama kita manusia dan roh yang menolak untuk disuap melalui ketamakan atau cinta diri. Imam-imam dan penguasa-penguasa miskin akan hal-hal yang esensial demi kemurahan hati Allah ini, dan pemberian-pemberian mereka yang paling berharga serta upacara-upacara yang indah-indah itu menjadi suatu kebencian di mata-Nya" (Ellen G. White, Signs of the Times, 21 Maret 1878).
Apa yang kita pelajari tentang tuntutan Allah dari umat-Nya?
1. Sebenarnya Tuhan tidak suka membangkit-bangkit apa yang pernah diberikan dan dilakukan-Nya kepada manusia, baik itu berkat-berkat yang kita nikmati dalam kehidupan kita maupun hidup itu sendiri. Tetapi Tuhan, dengan cara-Nya sendiri, bisa dan berhak untuk membuat kita sadar.
2. Tuhan menuntut setiap umat-Nya agar menaati perintah-Nya dan menuruti firman-Nya. Peribadatan sejati adalah mengamalkan satu kehidupan yang "mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi" serta "mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri" (Mat. 22:37, 39).
3. Persembahan dengan rela hati maupun pemberian yang ikhlas dibutuhkan untuk kemajuan pekerjaan Tuhan, tetapi itu tidak akan membebaskan kita dari hukuman atas dosa dan kejahatan kita. Hanya penyesalan dan pertobatan sejati yang membuat segala dosa kita diampuni.
5. AKHIRNYA DATANGLAH KESELAMATAN (Ke Dasar Laut)
 Hanya kebusukan yang tersisa. Moralitas bangsa Israel purba yang bejat terlukis dalam pasal terakhir dari kitab Mikha. Waktu itu sangat sulit menemukan orang yang baik di Israel, sehingga nabi itu mengibaratkan dirinya seperti "orang kelaparan yang pergi memetik buah setelah lewat musimnya" ketika buah anggur dan buah ara yang baik-baik "semuanya sudah habis dipetik" (Mi. 7:1, BIMK). Kalau pun masih ada yang tersisa itu adalah buah-buah yang busuk dan jelek. Sebuah gambaran yang sangat tepat perihal kondisi moral manusia yang sudah sangat merosot.
 Nabi itu mengeluh, "Orang jujur sudah lenyap dari negeri, orang yang setia kepada Allah tidak ditemukan lagi. Setiap orang menunggu kesempatan untuk membunuh. Masing-masing memasang perangkap terhadap sesamanya. Semuanya mahir dalam berbuat jahat. Pejabat dan hakim minta uang suap, dan pemuka masyarakat memaksakan kemauannya, begitulah mereka bersekongkol bersama-sama. Yang paling baik dan paling jujur dari mereka pun seperti semak berduri yang tidak berguna" (ay. 2-4, BIMK). Begitu bobroknya akhlak mereka pada masa itu sehingga nyaris tidak ada orang yang bisa dipercaya, baik itu teman, tetangga, bahkan istri sendiri, dan anggota-anggota keluarga yang tinggal serumah pun saling bermusuhan (ay. 5-6).
 Pemulihan sesudah penghakiman. Dalam keadaan yang kacau seperti itulah nabi Mikha menyampaikan sebuah kabar baik, yaitu janji Tuhan yang akan memulihkan keadaan mereka. Keyakinan sang nabi akan janji itu diutarakannya dalam kata-kata berikut: "Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!" (ay. 7). Dalam kegirangannya, nabi itu pun berseru: "Gembalakanlah umat-Mu dengan tongkat-Mu, kambing domba milik-Mu sendiri, yang terpencil mendiami rimba di tengah-tengah kebun buah-buahan. Biarlah mereka makan rumput di Basan dan di Gilead seperti pada zaman dahulu kala. Seperti pada waktu Engkau keluar dari Mesir, perlihatkanlah kepada kami keajaiban-keajaiban!" (ay. 14-15).
 "Keadilan Allah adalah sisi lain dari kasih dan kepedulian-Nya. Kabar baik yang disampaikan oleh Mikha ialah bahwa pehukuman tidak pernah menjadi kata-kata terakhir Allah. Tindakan Allah dan Kitabsuci secara tetap bergerak dari penghakiman kepada pengampunan, dari hukuman kepada kasih karunia, dan dari penderitaan kepada pengharapan" [alinea kedua].
 Mikha mengakhiri pekabarannya dengan sebuah pernyataan yang lebih bersifat kesaksian tentang Allah yang maha pengasih dan pengampun itu. Seseorang harus mengalami atau menyaksikan sendiri jahatnya dosa baru dapat mengagumi dan menghargai besarnya arti sebuah pengampunan. Nabi Mikha sudah mengalami dan menyaksikan sendiri betapa jahatnya perbuatan orang Israel purba pada zamannya, seperti yang diutarakannya pada awal pasal 7 yang terpampang di atas, maka ketika Allah hendak mengampuni umat-Nya yang jahat itu dia pun jadi terkagum-kagum. "Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia?" (ay. 18). Bahkan, segala dosa dan kesalahan mereka itu Tuhan akan lemparkan "ke dasar laut" (ay. 19, BIMK).
 Membandingkan keadaan sekarang. Terkadang, bilamana membaca kejahatan dan dosa Israel purba yang begitu dahsyat, kita menjadi terheran-heran dan tak habis berpikir bahwa satu bangsa yang diberikan kesempatan istimewa sehingga dapat berkomunikasi langsung dengan Tuhan tetapi begitu jahatnya. Koq bisa ya, umat pilihan Tuhan yang telah diberkati dengan kemakmuran dan ketenteraman dan ketenaran tetapi mendurhaka terhadap Allah? Dengan pikiran seperti itu, marilah kita tengok keadaan umat pilihan Tuhan zaman akhir ini. Apakah anda pikir ciri-ciri pendurhakaan dan kejahatan seperti itu juga ditemukan di antara umat-Nya sekarang ini? Seandainya nabi Mikha bangkit dari kubur saat ini, apakah dia pun akan menemukan dosa-dosa Israel badani pada zamannya dilakukan juga oleh Israel rohani sekarang ini?
 "Adalah mungkin bahwa kita sekarang ini dikelilingi oleh keadaan-keadaan yang sulit dan pengalaman-pengalaman menyakitkan sehingga kita bertanya-tanya mengapa Allah membiarkan semua ini terjadi. Terkadang begitu sukar untuk menerima keadaan demikian. Pada waktu seperti ini, pengharapan kita hanyalah kepada Tuhan yang berjanji untuk melemparkan dosa-dosa kita ke dasar laut. Ada pengharapan di masa depan mengingat apa yang Allah telah lakukan di masa lampau" [alinea terakhir].
 Apa yang kita pelajari tentang janji Tuhan untuk penghapusan dosa?
1. Kejahatan dan kebejatan moral ternyata bukan sesuatu yang baru dalam sejarah peradaban manusia. Itu sudah terjadi sejak dahulu kala, bahkan dilakukan oleh umat Allah sendiri yang pertama kali menerima Hukum Moral dan norma-norma kemanusiaan lainnya langsung dari tangan Tuhan.
2. Meskipun demikian, selalu ada harapan akan pemulihan dan perbaikan keadaan. Tetapi pemulihan baru bisa terjadi sesudah berlangsung penghakiman. Allah tidak hanya mengampuni dosa, tetapi Dia juga menyelesaikan masalah dosa.
3. Posisi sebagai "umat pilihan Tuhan" bahkan "umat yang sisa" adalah sebuah privilese (kesempatan istimewa), namun status itu tidak serta-merta membuat kita kebal dosa dan kebal hukuman. Seperti yang kita pelajari, keistimewaan status selalu disertai tanggungjawab moral yang lebih besar.
PENUTUP
 Kesempatan yang terlewat. Kalau kita harus menyimpulkan tentang pengalaman Israel purba, berdasarkan apa yang kita bahas dari pelajaran ini, barangkali kesimpulan itu akan seperti ini: Umat pilihan itu telah menyia-nyiakan kesempatan istimewa yang mereka peroleh dari Tuhan untuk menjadi bangsa yang besar dan terkemuka di dunia, sesuai dengan janji Allah kepada Abraham, akibat pendurhakaan mereka yang sangat tidak masuk akal. Hebatnya lagi, kesempatan untuk memperbaiki diri itu bukan hanya datang satu kali tetapi berkali-kali dan berulang-ulang, tetapi berkali-kali dan berulang-ulang juga mereka telah mengabaikannya.
 "Kalau saja Yerusalem telah menyadari apa yang harus diketahuinya tentang kesempatan istimewa yang dimilikinya, dan sudah mengindahkan terang Surga yang dikirimkan kepadanya, maka ia sebenarnya bisa tampil dalam kemakmuran yang membanggakan, ratu dari semua kerajaan, merdeka dalam kekuatan dari kuasa yang telah dikaruniakan Allah kepadanya. Tidak perlu ada prajurit-prajurit bersenjata menjaga pintu gerbangnya" [dua kalimat pertama].
 Yerusalem adalah ibukota Israel purba semasih bersatu (juga dikenal dengan nama "kota Sion" dan sebagai ibukota kerajaan Yehuda setelah perpecahan), dan dalam Alkitab nama Yerusalem sering digunakan sebagai sebutan pengganti bagi Israel sebagai satu bangsa. Kata-kata dari tulisan Roh Nubuat di atas menyingkapkan kebodohan bangsa Israel yang tidak menghargai kesempatan istimewa yang Tuhan berikan kepada mereka sebagai umat pilihan berdasarkan perjanjian-Nya dengan bapa leluhur mereka yang pertama. Sekarang ini, sekalipun masih tetap berdiri sebagai Yerusalem moderen, kota ini jauh dari kondisi sebagai satu kota dunia yang membanggakan. Bahkan, kota tua paling bersejarah dalam peradaban manusia ini telah lama tercabik-cabik akibat pertikaian di kawasan itu, dan Israel sebagai sebuah negara moderen yang berdaulat pun tidak memiliki kekuasaan--de facto ataupun de jure--secara mutlak atas seluruh kota mereka tersebut. Tragis.
 Kita mempelajari pengalaman Israel purba, baik keberhasilan maupun kegagalan mereka, bukan seperti mempelajari sejarah untuk sebatas mengetahui fakta dan peristiwa masa lampau mereka. Kita membahas pengalaman umat Tuhan itu untuk menjadi sebuah pelajaran bagi kita sebagai umat Tuhan zaman akhir agar kita berhati-hati dalam sepak terjang kita, baik sebagai satu kelompok maupun sebagai pribadi, demi untuk menghindari kegagalan serupa dan supaya rencana Allah terlaksana melalui kehidupan kita.
 "Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita..." (Rm. 15:4).
SUMBER :

1.   Zdravko Stefanofic, Profesor bidang studi Ibrani dan Perjanjian Lama, Universitas Walla Walla,U.S.A--- Penuntun Guru Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa, Trw.II, 2013. Bandung: Indonesia Publishing House.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar